Mati Suri Budi Daya Garam di Pantai Dadapayam Gunungkidul

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Selasa, 02 Agu 2022 16:52 WIB
Lokasi budidaya garam yang terbengkalai di Pantai Dadapayam, Gebang, Kanigoro, Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (2/8/2022).
Lokasi budidaya garam yang terbengkalai di Pantai Dadapayam, Gebang, Kanigoro, Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (2/8/2022). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng)
Gunungkidul -

Pengelolaan garam di Pantai Dadapayam, Pedukuhan Gebang, Kalurahan Kanigoro, Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul terbengkalai sehingga terkesan mati suri. Terbengkalainya budi daya tersebut karena garam yang dihasilkan ternyata tidak memenuhi standar kesehatan dan biaya operasional tidak sebanding dengan pemasukan.

Pantauan detikJateng, puluhan tempat pembuatan garam atau tunel berjejer rapi di pinggir Pantai Dadapayam. Tampak pula beberapa tunel mengalami kerusakan pada bagian atapnya.

Sedangkan suasana di tempat pembuatan garam itu sangat sepi, bahkan tidak ada orang di tempat tersebut. Tampak pula selang biru masih terpasang di pantai untuk menyedot air laut sebagai bahan baku pembuatan garam.


Ketua Kelompok Budidaya Garam Dadap Makmur di Pantai Dadapayam, Triyono menjelaskan aktivitas pembuatan garam di Pantai Dadapayam berhenti sejak tahun lalu. Bahkan pengelolaannya telah dikembalikan ke Pemerintah Kalurahan Kanigoro.

"Di sana sudah tidak ada kegiatan sejak tahun lalu, dan pengelolaannya sendiri sudah dikembalikan ke Kalurahan karena kelompok sudah mengundurkan diri," katanya saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (2/8/2022).

Ditemui terpisah, Sekretaris badan usaha milik Kalurahan (BUMKal) Giridipta Kalurahan Kanigoro, Suyatno menjelaskan tempat pembuatan garam di Pantai Dadapayam sudah ada sejak tahun 2017. Namun saat ini pengelolaan tempat tersebut berada di bawah BUMKal sejak tahun 2021.

"Karena pengelolaan garam itu dari kelompok sudah diserahkan kembali ke pemerintah Kalurahan. Kemudian dari Pemkal (pemerintah Kalurahan) diberikan pengelolaan ke BUMKal," ucapnya saat ditemui di Kalurahan Kanigoro, Gunungkidul.

Terkait terbengkalainya tempat pembuatan garam itu, Suyanto menyebut disebabkan karena hasil penjualan garam tidak sebanding dengan operasional kelompok. Selain itu, dari tim ahli khusus dari Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebut garam hasil produksi pihaknya tidak memenuhi standar kesehatan.

"Setelah itu BUMDes masih tahap analisa, apalagi tunelnya sekarang rusak semua itu. Saya pribadi pernah ada pertemuan dengan Dinas Pariwisata dan Dinas Kelautan Daerah Istimewa Yogyakarta di salah satu hotel di Yogyakarta pada November tahun 2021," ujarnya.

Kemudian dari pertemuan 3 hari tersebut, kata Suyatno, masih pada tahap evaluasi dari tim ahli khusus. Pasalnya tim ahli itu mensurvei masing-masing lokasi apa yang menjadi kendala, karena sepanjang pantai selatan DIY yang terdapat pengelolaan garam terdapat kendala.

"Kendalanya karena kita hanya mengandalkan dari hasil jual garam. Itu kan kita belum bisa memasuki pasar, karena di standar kesehatan kita tidak lolos," ucapnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya..