Petani di Klaten Nekat Nyorot Tanam Padi Meski Kemarau, Ini Alasannya

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Senin, 01 Agu 2022 13:35 WIB
Petani di Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, Klaten nekat tanam padi meski masuk musim kemarau (nyorot), Senin (1/8/2022).
Petani di Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, Klaten nekat tanam padi meski masuk musim kemarau (nyorot), Senin (1/8/2022). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Petani di beberapa desa di Kecamatan Cawas dan Trucuk, Klaten, Jawa Tengah nekat menanam padi di musim kemarau (nyorot). Meskipun berisiko puso, petani mengaku tidak punya pilihan lain.

"Ini tetap nyorot. Airnya dari bendung Tukuman dan Jetho, tapi soal cukup atau tidak namanya adu untung," ucap petani warga Desa Plosowangi, Kecamatan Cawas, Giono, kepada detikJateng di sawahnya, Senin (1/8/2022).

Menurut Giono petani di desanya bagian selatan setiap tahun biasa nyorot. Meskipun yang lainnya tanam palawija, di desanya tanam padi.


"Di sini tetap tanamnya padi sehingga bisa 3-4 kali tanam. Tiga tahun lalu pernah gagal, puso karena kurang air," jelasnya.

Petani di desa, sambung Giono, tetap tanam padi karena untuk tanam palawija kerepotan. Saat palawija sudah mulai tanam di daerah lain, desanya masih ada air.

"Kita itu repot, mau tanam palawija seperti yang lain tapi air masih ada. Padahal jika nekat dan kemaraunya panjang bisa gagal panen, saat panen harganya juga tidak mesti," ujarnya.

Selain di desanya, lanjut Giono, desa sekitarnya juga masih ada yang nekat. Mulai Desa Baran, Japanan, Bawak, Tirtomarto, bahkan di Kecamatan Trucuk juga ada.

"Di Kecamatan Trucuk juga ada satu desa, Desa Pundungsari. Tapi mau bagaimana lagi, tanam kedelai, kacang ijo, jagung di sini serba repot," imbuhnya.

Petani warga Desa Japanan, Kecamatan Cawas, Sugiman, mengatakan desanya persiapan tanam hari ini. Benih sudah siap dan tetap nyorot.

"Ini benih sudah ada tinggal tanam, kita di sini nyorot karena ada air dari waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Biasanya sampai panen sudah dipasok," ucap Sugiman.

Kebiasaan nyorot, tutur Sugiman, sudah berlangsung lama. Petani cukup bayar uang perawatan irigasi dari tanam sampai panen bisa dapat air.

"Kita dari tanam sampai panen bayar Rp 300 ribu. Asalkan kemarau tidak panjang air biasanya aman, kalau untung harga panenan pas bagus," kata Sugiman.

Pantauan detikJateng di Desa Plosowangi, lahan yang ditanam padi berada di utara Sungai Dengkeng. Demikian juga Desa Japanan. Sementara Desa Pundungsari berada di utara Desa Plosowangi.

Kondisi Sungai Dengkeng di Cawas mulai surut. Air hanya menyisakan aliran kecil, padahal saat musim hujan biasa meluap.

Terpisah, Plt Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkab Klaten Lilik Nugraharja menjelaskan ada delapan desa di Kecamatan Cawas dan Trucuk yang biasa nyorot. Jumlah luasannya sekitar 500 hektare.

"Di Cawas yang delapan desa saat ini ikut program indeks pertanaman (IP 400) seluas 450 hektare. Desa tersebut biasa nyorot dan Desa Pundungsari ada 80 hektare juga diikutsertakan IP 400, kita kawal dengan air giliran dan pompa," papar Lilik di kantornya.



Simak Video "BMKG: Musim Kemarau di Beberapa Wilayah Mundur"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/apl)