Bocah di Banyumanik Semarang Diduga Dianiaya Ibu Tiri hingga Lebab

Bocah di Banyumanik Semarang Diduga Dianiaya Ibu Tiri hingga Lebab

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Senin, 19 Okt 2026 19:49 WIB
Bhabinkamtibmas Polsek Banyumanik, Aiptu M. Sobirin saat ditemui di kantor kelurahan setempat, Senin (19/10).
Bhabinkamtibmas Polsek Banyumanik, Aiptu M. Sobirin saat ditemui di kantor kelurahan setempat, Senin (19/10). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Semarang -

Seorang anak lelaki yang tengah duduk di bangku kelas 1 SD di Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, diduga dianiaya ibu tirinya. Saat ini anak tersebut telah dipisahkan dari orang tuanya.

"Kebetulan kami waktu itu hari Sabtu (17/10) sekitar pukul 14.00, saya biasa melakukan melakukan kegiatan rutin di wilayah. Begitu saya melihat ada WA, ada telepon masuk bahwa di situ ada telepon, ada WA yang di mana membutuhkan bantuan. Di mana bantuan itu menyangkut tentang anak-anak yang diduga dianiaya oleh orang tuanya," kata Bhabinkamtibmas setempat, Aiptu M. Sobirin, saat ditemui di kantor kelurahan setempat, Senin (19/10).

"Sudah kami lihat ada beberapa luka, ada yang lama, ada yang yang baru. Ada sedikit memar ya mungkin jiwitan-jiwitan (cubitan). Mungkin dari jiwitan-jiwitan ibunya, mungkin saking jengkelnya, luka-luka tanya di situ (sekujur tubuh)," sebutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mendapat laporan tersebut, Sobirin langsung berkoordinasi dengan instansi lainnya. Dia juga mendatangi kos tempat keluarga bocah itu tinggal.

"Terus kami koordinasi dan kami juga untuk mendatangi ke kosan tersebut," ucapnya.

ADVERTISEMENT

Dia menyebut kedatangannya ke kosan tersebut dalam maksud untuk menyelamatkan korban. Sobirin pun memutar otak agar orang tua yang bersangkutan tidak menolak kunjungannya bersama instansi lainnya.

"Kami briefing dari PSM, dari PPA Kota Semarang, saya Babinkamtibmas, dan Bu RT. Saya kasih masukan dengan pengalaman-pengalaman yang kami lakukan. Nanti saya sebagai polisi jangan kelihatan. Dan kami pun briefing untuk supaya bagaimana caranya bisa menyelamatkan si anak ini dari orang tuanya ataupun bisa keluar dari kos-kosan itu," bebernya.

Dia pun meminta agar salah seorang petugas instansi terkait untuk mengganjal pintu dengan kaki. Hal itu dilakukan agar pintu tidak kembali ditutup.

"Terus kami ajarkan supaya nanti apabila dibuka pintunya untuk salah satu di antara kita ini, tim ini, untuk menjegal kaki supaya pintu tidak ditutup dengan masuk kaki berbicara supaya tidak ditutup kembali pintunya," terangnya.

"Akhirnya berhasil kita dengan teknik yang seperti itu. Kita bisa maju, kita bisa ngobrol gitu, kita tanyakan anaknya," imbuhnya.

Kemudian, bocah yang masih berusia enam tahun itu muncul. Mereka langsung berinisiatif untuk membawa anak itu keluar rumah.

"Terus anaknya keluarlah dengan keadaan yang yang sangat memprihatinkan. Terus dari PPA Kota Semarang mengajak ngobrol (orang tua yang bersangkutan), (sementara) anaknya langsung kita tarik keluar," sebutnya.

Sobirin menanyakan apakah bocah itu sudah makan. Ternyata sejak pagi hingga sore korban belum menyantap satupun makanan. Bocah itu bercerita bahwa ibu tirinya belum masak lantaran tidak ada kompor di rumahnya.

"Saya tanyakan kenapa (tidak makan), katanya ibunya nggak masak karena tidak punya kompor," ungkapnya lirih.

Dia berinisiatif untuk membelikannya sebungkus nasi dengan lauk ayam goreng. Ternyata anak tersebut makan dengan lahap.

"Terus saya belikan makan satu bungkus itu dan lauknya ayam. Jatahnya bapaknya yang datang juga itu ya ikut dimakan juga sama dia," ujarnya.

Sobirin dan petugas lainnya lantas mengedukasi orang tua terkait agar anak tersebut bisa mereka rawat.

Saat diperiksa identitasnya, keluarga tersebut bukan asal Kota Semarang. Usai berembuk, bocah lelaki itu kemudian diamankan oleh Dinas Sosial Jawa Tengah (Dinsos Jateng).

"Terus, kami berusaha menanyakan ke PPA Kota Semarang, ternyata kita lihat identitasnya kependudukan warga ini ternyata bukan warga Kota Semarang," sebutnya.

"Akhirnya dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah memberikan informasi, kejelasan kepada kedua orang tuanya. Akhirnya dengan pendampingan kami sebagai Bhabinkamtibmas dan akhirnya kedua orang tuanya relakan, mengikhlaskan untuk anaknya biar dibawa oleh Dinas Sosial untuk diurus dan suatu saat bisa ditengok, dilihat. Pun kami tidak akan menghalang-halangi karena memang mereka sebagai orang tuanya," sambungnya.

Diduga Dianiaya Ibu Tiri Sebab Depresi

Sobirin mengatakan, bocah itu diduga dianiaya oleh ibu tiri. Dia menduga sang ibu tiri depresi sebab faktor ekonomi.

"Mungkin dari ekonomi (ibu tiri diduga menganiaya anaknya). Ibu tiri mungkin dia depresi atau dengan keadaan ekonomi yang ini dia mungkin asam lambungnya kumat untuk pelampiasan marah dan lainnya ke si anak," kata Sobirin.

Sobirin menemukan banyak lebam di tubuh si anak karena diduga dicubit. Dia tidak menemukan adanya lebam bekas benda tumpul.

Dia menerangkan keluarga tersebut kerap berpindah-pindah kosan. Adapun ayah kandung anak tersebut bekerja sebagai pegawai martabak di Banyumanik.

"Kebetulan kami juga melihat situasi keadaan kosnya atau dari kehidupannya dari warga ini sangat memprihatinkan. Kebetulan bapaknya bekerja sebagai membantu bikin martabak. Tapi dia hanya hanya karyawan saja, tidak bisa berbuat apa-apa kan," terangnya.

Dia mengatakan berdasarkan keterangan warga bahwa tetangga sekitar mendengar teriakan anak itu sekitar dua hingga tiga hari sebelum dirinya mendapat informasi dugaan penganiayaan itu. Namun, diduga penganiayaan itu sudah berlangsung lama

"Jadi kalau yang saya tahu kemarin itu yang tetangganya sudah dengar kejadian teriak-teriak itu sudah dua hari tiga hari. Begitu kita lihat ternyata lukanya lama itu," pungkasnya.



(afn/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads