Kekeringan sudah terjadi selama dua bulanan ini di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Sumur mengering membuat warga harus menghemat air hingga mencuci dan buang air besar (BAB) di sungai.
Pantauan detikJateng di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, para warga membawa sejumlah galon untuk diisi air bersih dari penyaluran air bersih oleh Polda Jateng. Mereka harus menggotong galon seberat 19 liter demi memenuhi kebutuhan air keluarganya.
"Musim kemarau seperti ini susah, air pada habis, sumurnya kering. Jadi cuma ada air bantuan ini sama air sungai," kata salah satu warga setempat, Puji (35) di Jabungan, Senin (19/10/2026).
Puji mengatakan warga selama ini hanya mengandalkan bantuan air bersih dan sumber mata air di daerah tersebut. Namun, untuk mendapatkan air dari mata air yang jaraknya puluhan kilometer, warga harus mengantre cukup lama.
"Air itu mengalir ke sini pakai pipa, jaraknya 100 kilometer mungkin, harusnya buat masjid tapi masjidnya kalah sama warganya. Kalau kami ngantre air itu bisa sampai 3 jam-an, harus bawa 5-10 galon," jelasnya.
"Itu 5 galon untuk 1 hari saja nggak cukup buat sekeluarga, jadi cuma buat minum. Di sini juga habis di dropping air paling juga nanti malam sudah langsung habis stoknya," lanjutnya.
Puji menyebut untuk mencuci pakaian dan buang air besar (BAB), warga mau tak mau memanfaatkan air sungai. Oleh karenanya, ia mengaku sangat bergantung dengan dropping air bersih dari berbagai pihak.
"Kalau nyuci baju kita di sungai, berak di sungai. Cuma kalau lagi kemarau kayak gini aja," tuturnya.
"Makanya kita harapannya selama musim kemarau ini bantuan bisa ada setiap hari. Kalau nggak ada air, sungai kering, wah pusing sekali kita," lanjutnya.
Hal senada disampaikan warga RT 1 RW 3 lainnya, Sambari (54). Dia mengatakan air bantuan dropping terkadang belum mencukupi kebutuhan keluarganya, sehingga dia bersama tiga anggota keluarga lainnya harus menghemat air untuk mandi hingga mencuci.
"Ini sudah bukan airnya kurang, tapi memang nggak ada air. Untuk mandi, untuk cuci ya diirit-irit supaya air yang sedikit ini bisa cukup sampai saat ada bantuan ke depannya," kata Sambari kepada detikJateng.
Sambari mengaku biasanya hanya mendapatkan sekitar 5-6 galon air dari dropping. Sejumlah air bersih dalam galon itu pun masih kurang, karena air juga digunakan untuk memasak dan kebutuhan lainnya.
"Untuk kebutuhan minum, kami beli air mineral yang dibeli di warung. Ya ini selama kemarau pembeliannya meningkat, biasanya satu galon bisa buat dua hari, sekarang dua galon cuma untuk tiga hari. Kalau air bantuan habis, buat mandi ya mau nggak mau pakai air mineral," jelasnya.
Sembari berharap hujan segera turun agar warga bisa kembali mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
"Harapannya semoga hujan segera datang, jadi warga di sini untuk kebutuhan air sehari-hari bisa tercukupi," tuturnya.
(ams/apl)