Seorang pria berinisial HS di Brebes mendatangi polisi, dan mengaku sudah memutilasi, bahkan merebut jasad ayahnya. Kini, polisi menyelidiki pengakuan itu, sekaligus mencari barang bukti.
Kanit Reskrim Polsek Kersana, Aiptu Heri Sukamto, mengemukakan polisi melakukan penyelidikan dengan mendatangi rumah HS di kompleks perumahan Desa Kemukten, Kecamatan Kersana. Septic tank di rumah itu dibongkar.
"Hari ini (kemarin), rumah HS yang di kompleks perumahan dibongkar bagian septic tank-nya," jelas Heri, Minggu (18/10).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Minim Alat Bukti
Namun, pembongkaran septic tank itu tidak menemukan petunjuk sekecil apapun.
"Hasil dari Inafis belum diketahui karena perlu dikaji dulu. Kalau pembongkaran septic tank, tidak nemu apa-apa selain kotoran," ungkap Heri, Senin (19/10/2026).
Heri melanjutkan, penyelidikan tersebut terkendala bukti yang begitu minim. "Kendalanya minim alat bukti. Tapi penyelidikan tetap jalan untuk menemukan alat bukti kuat," ujar Heri.
Dikatakan Heri, selama proses pemeriksaan di rumah maupun pembongkaran septic tank, tidak ada jejak dari aksi HS. Alat yang dipakai membunuh, memutilasi, hingga merebus ayah kandungnya juga tidak ditemukan.
"Mungkin karena sudah empat bulan, jadi sudah lama. Belum ditemukan alat bukti yang kuat," papar dia.
Alasan Pelaku Bunuh-Mutilasi Ayah
Heri melanjutkan, HS memberikan pengakuan saat ditanya kenapa dia sampai nekat membunuh dan memutilasi ayahnya. HS berkata, dia menghabisi sang ayah demi adik perempuannya.
Berdasarkan klaim HS, dia mengaku sudah membunuh ayahnya, sehingga tidak perlu dicari saat akan menjadi wali nikah.
"Jadi biar pada tahu kalau bapaknya sudah tiada, karena HS punya adik perempuan," tutur Heri.
Dijelaskan lebih lanjut, HS khawatir adik perempuannya mengalami masalah bila akan menikah nanti. Hal ini karena akan membutuhkan wali nikah yang tidak lain adalah ayahnya. Karena alasan itulah, dia sengaja mengakui semua perbuatannya tersebut.
"Dengan mengaku, orang akan tahu, ayahnya telah tiada. Jadi bila adiknya akan menikah nanti, tidak perlu mencari ayahnya untuk dijadikan wali, karena tidak akan ketemu," lanjutnya.
Heri menambahkan, HS merupakan anak sulung tiga bersaudara. Dua adiknya laki-laki dan perempuan. Untuk adik perempuan, saat ini masih menjalani pendidikan di pondok pesantren.
Sementara, Polisi masih melakukan penyelidikan terkait pengakuan HS. Sejak memberikan testimoni, HS masih dimintai keterangan di Mapolres Brebes.
"Statusnya belum tersangka, karena masih penyelidikan," pungkas Heri.
Beli Dandang untuk Rebus Jasad Ayah
Heri menuturkan, HS berujar bahwa dirinya memutilasi ayahnya menjadi 10 bagian. Dia tak hanya memutilasi, namun juga membakar tulang-tulang ayahnya, dan melarungnya di Sungai Kluwut Bulakamba.
"Pengakuannya, ayah dia dibunuh dan dipotong 10 bagian. Potongan direbus 2 hari hingga hancur dan dibuang ke sungai Kluwut yang menuju ke laut. Tulangnya dibakar hingga menjadi abu," ujar Heri.
Bahkan, HS mengaku membeli dandang besar untuk merebus potongan jenazah ayahnya.
"HS sengaja beli dandang besar Rp 750 ribu untuk merebus potongan jasad ayahnya," papar Heri.
Heri menjelaskan, HS mengaku membunuh ayahnya saat siang hari. Kala itu, korban tengah tidur di rumah keluarga.
Di rumah lama, HS digorok dan tubuhnya di mutilasi menjadi 10 bagian. Berikutnya, HS membungkusnya dan memindahkan potongan tubuh ke rumah keluarga yang baru di kompleks perumahan di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Brebes yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah lama.
"Dibunuh saat tidur dan dimutilasi. Kemudian dibawa ke rumah yang ada di kompleks pakai karung," terang Heri seperti disampaikan HS.
Kepada polisi, HS mengaku sempat akan membuang jasad korban ke dalam septic tank di rumah tersebut. Namun saat akan dibuang, saluran buangan WC tidak mampu memuat potongan tubuh korban.
HS pun kemudian membeli dandang besar seharga Rp 750 ribu. Alat masak ini oleh HS dipakai merebus potongan tubuh ayahnya.
Selama dua hari direbus, potongan badan ayahnya kemudian dibuang ke sungai Kluwut. Tulang belulang korban dibakar dan abunya dibuang ke lokasi yang sama.
"Setelah hancur, dibuang ke Kali Kluwut. Tulang dibakar sampai jadi abu," cerita Heri.
