Warga Rejosari, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, mulai terdampak kekeringan. Warga terpaksa harus membeli air galonan untuk mandi.
Pantauan detikJateng di RT7 RW10 Meteseh, Selasa (18/8), tampak truk tangki BPBD Kota Semarang datang membawa 5 ribu liter air. Sejumlah warga membawa ember untuk mendapatkan bantuan air bersih. Petugas bergantian mendistribusikan air ke tandon dan ember.
Seorang warga sekitar, Saromah (51), mengatakan kekeringan mulai melanda wilayahnya sejak sebulan lalu atau sekitar akhir Juli 2026. Warga mengandalkan air dari Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) sekitar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita dari Pamsimas pondok. Sudah sekitar dari akhir Juli kekeringan," kata Saromah saat ditemui di lokasi siang ini, Selasa (18/8/2026).
"(Air dari Pamsimas) Masih ngalir sedikit-sedikit. Nggak bisa untuk masak, mencuci-cuci, dan mandi," imbuhnya.
Warga terdampak kekeringan di Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang mendapat bantuan air bersih dari BPBD Kota Semarang, Selasa (18/8/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng |
Saromah mengambil beberapa ember air untuk kebutuhan sehari-hari. Air tersebut cukup untuk keperluan rumah tangga hingga tiga hari.
"Tiga hari sudah habis untuk mandi, nyuci, dan masak juga nggak apa-apa," ujar dia.
Warga lainnya, Abdul Mannan (64), mengatakan sudah sekitar dua bulan ini sumurnya kering. Air dari Pamsimas juga mulai mengering.
"Kadang itu sumur tak pakai. Cuma ini juga kering. Terus ini (Pamsimas) ngalire dari kemarin-kemarin itu kecil, cuma kadang nyala, kadang mati," kata Mannan.
Dirinya dan tiga anggota keluarga pun kesulitan air bersih untuk mandi dan mencuci pakaian. Adapun untuk minum, Mannan memilih untuk membeli air.
"Iya, untuk mandi sulit, untuk nyuci bahkan juga sulit," sebutnya.
Terkadang, Mannan membeli air hanya untuk mandi. Dalam sehari dia menghabiskan empat galon air dan kudu irit.
"Kadang sempat, kadang nggak (beli air untuk mandi). Empat galon biasanya satu hari.
Ketua RT7 RW10 Meteseh, Shohibul Adib, membenarkan wilayahnya sudah sebulan ini terdampak kekeringan. Warga pun memanfaatkan sungai untuk mencuci pakaian.
"Kalau nyuci di sungai," kata Adib.
Sungai tersebut berjarak sekitar 700 meter dari kampung. Dia mengatakan, air di sungai juga kotor dan debitnya kecil.
"Mungkin ya agak keruh (air sungainya) karena di atas ada itu galian. (Debit air sungai juga kecil) Nggih (iya)," ungkapnya.
Adib mengatakan, warganya juga membeli air untuk mandi. Per galonnya dibanderol Rp 4 ribu.
"Mungkin kalau buat mandi 4 galonan gitu. (Harga air per galon?) Rp 4 ribu," sebutnya.
Petugas Bidang Rehabilitas dan Rekonstruksi BPBD Kota Semarang, Sugiharto, mengatakan pihaknya membawa 5 ribu liter air bersih untuk disalurkan ke warga RT7 RW10 Meteseh. Air tersebut cukup untuk 36 kepala keluarga (KK).
"Untuk sementara BPBD Kota Semarang dropping air bersihnya di Kelurahan Meteseh RT7/RW10 karena permintaan dari hari kemarin. Kurang lebih dropping air dalam satu tangki ini kan ada 5 ribu liter untuk kebutuhan satu RT. Kebetulan warga RT7/RW10 ini cuman terdapat 36 KK," kata pria yang akrab disapa Icuk itu.
Icuk mengatakan, bagi warga yang membutuhkan air bersih bisa langsung menghubungi call center 112 atau pemangku wilayah setempat.

