Warga Jabungan Semarang Sambat Kekeringan, Sumur Asat-BAB di Sungai

Warga Jabungan Semarang Sambat Kekeringan, Sumur Asat-BAB di Sungai

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Senin, 19 Okt 2026 15:16 WIB
Suasana pembagian air bersih di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Senin (19/10/2026).
Suasana pembagian air bersih di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Senin (19/10/2026).Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Kekeringan sudah terjadi selama dua bulanan ini di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Sumur mengering membuat warga harus menghemat air hingga mencuci dan buang air besar (BAB) di sungai.

Pantauan detikJateng di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, para warga membawa sejumlah galon untuk diisi air bersih dari penyaluran air bersih oleh Polda Jateng. Mereka harus menggotong galon seberat 19 liter demi memenuhi kebutuhan air keluarganya.

"Musim kemarau seperti ini susah, air pada habis, sumurnya kering. Jadi cuma ada air bantuan ini sama air sungai," kata salah satu warga setempat, Puji (35) di Jabungan, Senin (19/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Puji mengatakan warga selama ini hanya mengandalkan bantuan air bersih dan sumber mata air di daerah tersebut. Namun, untuk mendapatkan air dari mata air yang jaraknya puluhan kilometer, warga harus mengantre cukup lama.

"Air itu mengalir ke sini pakai pipa, jaraknya 100 kilometer mungkin, harusnya buat masjid tapi masjidnya kalah sama warganya. Kalau kami ngantre air itu bisa sampai 3 jam-an, harus bawa 5-10 galon," jelasnya.

ADVERTISEMENT

"Itu 5 galon untuk 1 hari saja nggak cukup buat sekeluarga, jadi cuma buat minum. Di sini juga habis di dropping air paling juga nanti malam sudah langsung habis stoknya," lanjutnya.

Puji menyebut untuk mencuci pakaian dan buang air besar (BAB), warga mau tak mau memanfaatkan air sungai. Oleh karenanya, ia mengaku sangat bergantung dengan dropping air bersih dari berbagai pihak.

"Kalau nyuci baju kita di sungai, berak di sungai. Cuma kalau lagi kemarau kayak gini aja," tuturnya.

"Makanya kita harapannya selama musim kemarau ini bantuan bisa ada setiap hari. Kalau nggak ada air, sungai kering, wah pusing sekali kita," lanjutnya.

Suasana pembagian air bersih di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Senin (19/10/2026).Suasana pembagian air bersih di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Senin (19/10/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Hal senada disampaikan warga RT 1 RW 3 lainnya, Sambari (54). Dia mengatakan air bantuan dropping terkadang belum mencukupi kebutuhan keluarganya, sehingga dia bersama tiga anggota keluarga lainnya harus menghemat air untuk mandi hingga mencuci.

"Ini sudah bukan airnya kurang, tapi memang nggak ada air. Untuk mandi, untuk cuci ya diirit-irit supaya air yang sedikit ini bisa cukup sampai saat ada bantuan ke depannya," kata Sambari kepada detikJateng.

Sambari mengaku biasanya hanya mendapatkan sekitar 5-6 galon air dari dropping. Sejumlah air bersih dalam galon itu pun masih kurang, karena air juga digunakan untuk memasak dan kebutuhan lainnya.

"Untuk kebutuhan minum, kami beli air mineral yang dibeli di warung. Ya ini selama kemarau pembeliannya meningkat, biasanya satu galon bisa buat dua hari, sekarang dua galon cuma untuk tiga hari. Kalau air bantuan habis, buat mandi ya mau nggak mau pakai air mineral," jelasnya.

Sembari berharap hujan segera turun agar warga bisa kembali mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

"Harapannya semoga hujan segera datang, jadi warga di sini untuk kebutuhan air sehari-hari bisa tercukupi," tuturnya.

Lurah Jabungan, Muhammad Hasani, menambahkan kekeringan tahun ini sudah berlangsung panjang sejak Juli 2026 di daerahnya. Awalnya, dropping air bersih dilakukan dua kali dalam sepekan, tapi kekeringan semakin parah hingga dropping dilakukan setiap hari.

"Mulai sekitar bulan Juli itu memang kami sudah dropping terus air bersih untuk warga. Cuma untuk September dan Oktober yang terdampak semakin meluas, droppingnya harus semakin rutin bagi RW 3, 4, 5," jelas Hasani.

"Total yang terkena dampak kekeringan sekitar 1.500 jiwa, berdasarkan data terakhir. Jadi droppingnya ini praktisnya kami ada dropping setiap hari," lanjutnya.

Hasani mengatakan saat ini kondisi sumur-sumur warga telah mengering, begitu pula sumber air sungai yang selama ini dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Dropping air bersih bahkan harus disalurkan dua kali, demi memenuhi kebutuhan air bersih waega.

"Kalau teratasi secara permanen tidak. Kami hanya berusaha semaksimal mungkin dengan melakukan dropping air bersih yang hampir setiap hari," ujar Hasani merespons soal bantuan dropping air cukup membantu mengatasi kekeringan.

Polda Jawa Tengah pun hari ini menyalurkan bantuan 16 ribu liter air bersih kepada warga Jabungan. Sebanyak dua tangki air bersih dibawa ke Jabungan untuk dibagikan kepada para warga.

"Dalam rangka melaksanakan kegiatan bakti sosial membantu masyarakat kekeringan, membagikan air bersih. Ada 16.000 liter yang kita bagikan," kata Kasubbid Penmas Bidmas Polda Jateng, AKBP Eko Kurniawan di lokasi.

Ia mengatakan bantuan air bersih disalurkan menggunakan dua tangki. Kegiatan serupa juga dilakukan serentak oleh jajaran polres di wilayah Jateng.

"Seluruh Polres melakukan kegiatan. Paling tidak ada 35 Polres, sedangkan dari satu Polres pun ada beberapa titik yang saat ini belum kami koordinasikan," jelasnya.

"Harapannya dengan aksi bakti sosial yang kami lakukan ini dapat meringankan, dapat membantu masyarakat di mana kekeringan ini tentunya kebutuhan air bersih menjadi sangat penting sekali," imbuhnya.

Halaman 2 dari 2
(ams/apl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads