Kota Solo terasa lebih panas akhir-akhir ini terutama pada siang hari. Apa sih penyebabnya?
"Terkait dengan kenapa temperatur itu menjadi panas, memang secara klimatologis juga, secara klimatologis itu bulan Oktober adalah bulan terpanas dalam 1 tahun," kata Ketua Tim Manajemen dan Operasional BMKG Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Giarto dihubungi awak media, Selasa (14/10/2026).
Dia menjelaskan, pergerakan semu matahari memengaruhi tingginya suhu pada periode tahun ini. Selain itu, tutupan awan yang relatif sedikit membuat radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi semakin tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sedikitnya tutupan awan itu menjadi lebih kecil, jadi radiasi matahari yang diterima juga cukup tinggi. Sehingga menyebabkan lebih panas. Di samping itu tadi ada dampak El Nino yang menjadi lebih kering," ujarnya.
Giarto mengatakan, dampak kondisi tersebut dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah dan Kota Surakarta. Namun, dia belum memiliki data historis mengenai suhu tertinggi yang pernah tercatat khusus di Kota Solo.
Sebagai gambaran, suhu tertinggi yang terukur di wilayah Semarang pada 2026 mencapai 37,1 derajat Celsius pada pekan sebelumnya.
"Untuk yang Solo kita memang tidak memiliki data historis, untuk bulan ini (Semarang) yang tertinggi masih 36, 35 (derajat Celsius), itu minggu yang lalu 37,1," jelasnya.
Kapan Hujan?
Terkait peluang hujan, Giarto memperkirakan frekuensi hujan mulai terlihat di sejumlah wilayah Jawa Tengah pada November. Hujan diprakirakan mulai lebih sering turun pada dasarian II November atau sekitar tanggal 11-20 November.
"November dasarian dua, dasarian dua itu artinya di atas tanggal 20," kata Giarto.
Giarto menjelaskan, suhu yang dirasakan masyarakat bisa terasa lebih tinggi dibandingkan suhu yang terukur. Menurutnya, hal tersebut ditentukan kondisi lingkungan yamg memengaruhi tingkat panas.
"Ketika suhu yang terukur itu relatif tinggi, yang dirasakan juga akan lebih tinggi, tergantung masyarakat itu berada atau bergantung pada vegetasi atau lingkungannya. Kalau dia di jalan raya menjadi lebih panas," ungkapnya.
Dia menambahkan, kondisi panas tahun ini belum tentu menjadi yang terparah sepanjang sejarah. Berdasarkan catatan yang dia sampaikan, suhu tertinggi di Semarang pernah mencapai 39,6 derajat Celsius pada Oktober 2015.
"Suhu yang tertinggi itu di tahun 2015 yang terukur mencapai 39,6 derajat, begitu," bebernya.
Giarto mengimbau masyarakat mengurangi kegiatan di luar ruangan, terutama ketika paparan sinar matahari sedang tinggi.
"Yang jelas pertama kurangi kegiatan di luar, karena radiasi matahari cukup tinggi. Ini bisa melemahkan kondisi fisik kita apabila kita terdampak atau terpapar oleh panas dan radiasi tersebut," ujarnya.
Selain itu, masyarakat diminta mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan. Material kering di permukaan bumi dinilai lebih mudah terbakar, terlebih ketika angin bertiup cukup kuat.
Dia menyarankan masyarakat menghindari pembakaran sampah atau material lain yang tidak diperlukan. Jika pembakaran tidak dapat dihindari, prosesnya harus diawasi agar api tidak merembet.
"Untuk kondisi saat ini sebaiknya jangan dibakar, karena angin yang bertiup cukup kuat, masih timuran, terus daerahnya kering. Ini nanti akan berbahaya," jelasnya.
Giarto juga mengingatkan petani agar menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi ketersediaan air. Petani disarankan mempertimbangkan tanaman yang tidak membutuhkan banyak air untuk menjaga produktivitas selama musim kemarau.
"Pemilihan tanaman ini juga penting sekali untuk meningkatkan produktivitas. Jangan melakukan penanaman dengan tanaman yang membutuhkan air cukup banyak, karena tahun ini relatif curah hujannya menjadi lebih sedikit," pungkasnya.
Simak juga Video 'BMKG Prediksi Awal Musim Hujan di Sebagian Kalimantan Dimulai Oktober':
(afn/apu)
