Cerita Mahasiswi Semarang Nurisa Raih Medali Emas Panahan di Asian Games 2026

Cerita Mahasiswi Semarang Nurisa Raih Medali Emas Panahan di Asian Games 2026

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Selasa, 13 Okt 2026 08:52 WIB
Asian Games - Aichi-Nagoya 2026 - Archery - Okazaki Central Park Multipurpose Square, Okazaki, Japan - October 1, 2026  Indonesias Nurisa Dian Ashrifah in action during her compound womens individual gold match against Philippines Amaya Amparo Cojuangco REUTERS/Anushree Fadnavis
Altet panah asal Semarang, Nurisa Dian Asrifa. Foto: REUTERS/Anushree Fadnavis
Semarang -

Nurisa Dian Asrifa, mahasiswi di Semarang, menorehkan prestasi bersejarah dengan meraih medali emas cabang olahraga panahan nomor compound individual putri di Asian Games 2026. Raihan ini setelah Nurisa mengalahkan atlet Filipina dengan skor 139-137 pada laga final di Okazaki, Jepang.

Kemenangan itu sekaligus menjadi medali emas pertama bagi Indonesia dari cabang olahraga panahan di Asian Games 2026. Nurisa pun menceritakan perjalanan prestasinya sebelum berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

Menurut mahasiswi Manajemen angkatan 2025 Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) itu, pertandingan final berlangsung cukup menegangkan. Skor kedua atlet terus berimbang hingga seri keempat, sehingga penentuan pemenang harus ditentukan pada seri terakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu itu saya menembak 9, lawan juga 9. Kemudian saya menembak 10, dia kena 9. Di tembakan berikutnya saya menembak 10, otomatis saya menang karena unggul tipis," kata Nurisa dalam keterangan tertulis yang diterima detikJateng dari Udinus, Senin (12/10/2026) malam.

Meski sudah unggul, Nurisa mengaku harus menahan keinginannya untuk langsung merayakan kemenangan, karena lawannya belum menyelesaikan seluruh tembakan.

ADVERTISEMENT

"Saya mau selebrasi, mau teriak, tapi yang sana belum selesai. Jadi kependam. Tapi benar nggak menyangka akhirnya bisa dapat," celetuknya.

Dalam perjalanannya menuju podium tertinggi, Nurisa juga bercerita sempat menghadapi kendala cuaca. Ia mengatakan, hujan turun hampir tanpa henti selama sekitar lima hari pada awal pertandingan.

"Kendalanya waktu awal-awal itu di sana hujan terus, hampir mungkin lima harian hujan terus nonstop. Waktu final malah panas. Kalau pagi hari mataharinya di depan banget, di depan wajah, jadi buat bidik itu agak nggak kelihatan," ujarnya.

Selain kondisi cuaca, atlet panahan yang memulai latihan sejak usia 13 tahun itu menyebut, India yang sebelumnya telah meraih dua medali emas sebagai salah satu lawan terberatnya. Namun, Nurisa memilih tak membebani diri dengan target kemenangan.

"Dari awal berangkat juga nggak ada ekspektasi menang. Dengan posisi ini justru membuat saya bermain lebih lepas karena nothing too lose saja," sebutnya.

"Pokoknya nembak yang enak aja dulu. Hasilnya itu nanti belakangan. Kalau menang alhamdulillah, kalau gagal ya berarti memang harus ada yang dibenahi lagi," imbuh Nurisa.

Nurisa pun mengaku senang dapat mengakhiri penantian medali emas Indonesia di cabang panahan Asian Games. Sebelumnya, dia juga menyumbangkan dua medali emas dan satu perunggu untuk Indonesia pada SEA Games.

Di balik prestasinya tersebut, Nurisa menjalani rutinitas latihan yang padat sebagai atlet yang mengikuti pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Jakarta dan masih harus menunaikan kewajibannya sebagai seorang mahasiswi.

"Biasanya aku latihannya jam 08.00 sampai jam 15.00 WIB. Terus jam 15.00 WIB sampai jam 17.00 WIB biasanya dipakai endurance (program penguatan fisik) atau nggak ke gym," ungkapnya.

"Pendidikan itu penting. Di samping menjadi atlet, saya juga ingin tetap melanjutkan pendidikan minimal sampai S1 untuk masa depan dan sebagai pegangan hidup. Dengan semua kesibukan saya, Udinus sangat suportif dan mendukung dengan memfasilitasi perkuliahan online," tuturnya.

Nurisa sendiri mulai mengenal panahan ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler saat duduk di bangku SD. Berawal dari rasa penasaran, ia kemudian bergabung dengan klub panahan dan menekuni olahraga tersebut hingga menjadi atlet nasional dan kini membidik kesempatan tampil di Olimpiade 2028.

"Untuk Olimpiade itu nanti masih ada perebutan tiket tahun 2027. Kalau misal bisa memperebutkan tiket, baru bisa ikut ke Olimpiade 2028," ucapnya.

Sebelum memasuki tahapan tersebut, Nurisa pun dijadwalkan mengikuti Asia Cup di China pada November 2026 dan Asian University Games di Malaysia pada Desember mendatang.

"Persiapan untuk ke sana (Olimpiade 2028), latihan sih. Mungkin ngencengin latihan di luar program pelatnas, seperti endurance atau weight training," ujarnya.

Halaman 2 dari 2
(apl/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads