Satreskrim Polres Pemalang, menyebut 2 anak yang merupakan kakak kelas, terlibat dalam aksi kekerasan buntut meninggalnya siswa kelas 2 SD di Pemalang. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 09.00 WIB, saat jam istirahat .
"Hasil pemeriksaan saksi-saksi, dua anak terlihat dalam aksi itu. Berdasarkan keterangan saksi, sebelum meninggal dunia anak korban sempat ditunjukkan foto semua anak di kelas 5 dan 6. Korban saat itu menunjuk dua kakak kelasnya tadi," kata Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP Wildan Umar, saat menyampaikan dalam acara pers rillis di Mapolres Pemalang, Senin malam (5/10/2026).
Dua anak yang ditunjuk korban sebelum meninggal merupakan kakak kelas 5. Sedangkan satu anak yang semula diduga terlibat, dari keterangan saksi-saksi korban sebelum meninggal dan saksi-saksi anak lainnya tidak terlibat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditambahkan Wildan, dari kedua anak kelas 5 yang diduga terlibat, tidak ada anak dari anggota Polri. Demikian juga satu anak kelas 6, yang awalnya diduga terlibat.
"Kami cek ke saksi dan diperkuat dengan data kartu keluarga, yang kami terima dari pihak sekolah, pekerjaan orang tua atau bapak dari ketiga anak tersebut adalah tenaga medis dan wiraswasta, bukan polisi yang selama ini dikabarkan di sosial media," kata Wildan.
Dalam pers rillis itu juga diungkapkan, peristiwa tersebut, terjadi pada Sabtu (12/9), di saat jam istirahat di depan pintu kamar kecil.
"Itu terjadi pada hari Sabtu, saat jam istirahat di depan kamar kecil. Kondisi lokasi sepi karena banyak yang bermain di depan halaman," ungkapnya.
Wildan menyebut saat kejadian tidak ada aksi pemalakan.
"Berdasarkan hasil penyelidikan maupun penyidikan dan pemeriksaan kepada saksi anak maupun dari saksi-saksi yang sudah kami peroleh, bahwa dari keterangan tidak ada tindakan pemalakan yang terjadi kepada korban," katanya.
Peristiwa tersebut terjadi akibat ketersinggungan yang kemudian, berujung pada aksi kekerasan.
"Jadi murni karena adanya ketersinggungan baik dari ucapan maupun perbuatan di antara anak korban ataupun anak yang terlibat dalam tindakan dugaan kekerasan ini," ungkapnya.
"Dan saksi anak pun terlihat kejadian hal tersebut setelah terjadi itu juga kabur, takut. Sehingga tidak melaporkan kepada pihak guru pada waktu itu. Itu menurut keterangan saksi anak yang kami peroleh," ungkapnya.
Kemudian dari data absensi yang diterimanya, Wildan mengatakan, kedua anak yang diduga terlibat memang sempat absen karena sakit, dibuktikan dengan surat keterangan dokter.
"Namun kedua anak yang diduga terlibat dan satu anak lainnya tidak ada yang ke luar kota, ketiganya berada di Pemalang sampai dengan saat ini," katanya.
Sementara itu di lokasi yang sama, Perwakilan Bapas, Sri Yuni Hidayat, mengatakan Polres Pemalang bersama Balai Pemasyarakatan (Bapas), Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) dan Dinas Sosial Kabupaten Pemalang berkomitmen menangani kasus ini secara profesional dan sesuai prosedur hukum yang berlaku, berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA).
"Dari kami, kepolisian, dinsos nantinya, akan melakukan rapat terkait keputusannya seperti apa," katanya.
Sebelumnya diberitakan, Muhamad Hasbi Al-Aqib bin Nurwandi (7), murid kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Pemalang, meninggal dunia pada Rabu (30/9) sore saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Hasbi, warga Kebondalem, sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit setelah mengeluhkan sakit pada bagian perut. Ibunya, Diah Indriyanti (36), mengatakan anaknya mulai masuk rumah sakit pada Kamis (17/9). Saat itu, keluarga belum mengetahui adanya dugaan peristiwa kekerasan yang dialami anaknya.
Setelah menjalani perawatan selama sembilan hari, Hasbi diperbolehkan pulang. Namun, kondisi korban disebut semakin menurun hingga tidak dapat berjalan karena mengeluhkan sakit di sekujur tubuh.
Setelah tiga hari berada di rumah, kondisi Hasbi kembali memburuk. Pada Rabu (30/9), keluarga berencana membawanya kembali ke rumah sakit. Namun, dalam perjalanan, Hasbi meninggal dunia.
Lihat juga Video 'Kepsek SMPN 18 Malang Didemo Ratusan Siswa gegara Aksi Penamparan':
(apl/apl)
