Warga Geruduk SD di Pemalang Buntut Siswa Tewas Dibully Kakak Kelas

Warga Geruduk SD di Pemalang Buntut Siswa Tewas Dibully Kakak Kelas

Robby Bernardi - detikJateng
Senin, 05 Okt 2026 11:58 WIB
Situasi saat warga dan wali murid menggeruduk SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Senin (5/10/2026). Murid kelas 2 di sana tewas diduga dibully oleh kakak kelasnya.
Situasi saat warga dan wali murid menggeruduk SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Senin (5/10/2026). Murid kelas 2 di sana tewas diduga dibully oleh kakak kelasnya. Foto: Robby Bernardi/detikJateng
Pemalang -

Ratusan warga dan orang tua menggeruduk SDN 1 Kebondalem, Pemalang. Mereka menuntut adanya keadilan terhadap Aqib (7) murid kelas 2 yang meninggal diduga dibully kakak kelasnya.

Pantauan detikJateng, Senin (5/10/2026), aksi dimulai pukul 09.30 WIB dan berakhir sekitar pukul 11.30 WIB. Sempat terjadi aksi saling dorong antara warga yang berusaha masuk meminta pertanggungjawaban sekolah dengan pihak keamanan.

"Saya dari Pemalang. Saya bukan wali murid sini, tapi saya peduli, mengingat di sekolah sini, kerap terjadi hal serupa," kata Yahrul (39), salah satu peserta aksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu wali murid, Antika (33), warga Kaligelang, mengaku resah dengan adanya dugaan kekerasan di sekolah. Ia mengaku datang untuk memantau situasi lantaran anaknya masih duduk di kelas 3.

ADVERTISEMENT

"Ya, jadi saya resah sebagai orang tua. Akhirnya saya sekalian mantau, barangkali ada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," kata Antika.

Kekhawatiran Antika bukan tanpa alasan. Ia mengaku anaknya juga pernah mengalami dugaan kekerasan saat masih duduk di kelas 1 di sekolah tersebut.

Ia mengungkapkan, anaknya sempat mengalami sakit hingga demam dan kesulitan buang air besar.

"Sakit, demam. Tapi karena pertama, saya selidiki sendiri. Langsung diam-diam ke sini," ujarnya.

Saat itu, Antika berkomunikasi dengan pihak sekolah dan wali kelas. Masalah tersebut diselesaikan setelah anak yang diduga melakukan kekerasan sudah meminta maaf.

Meski begitu, Antika menegaskan kasus Aqib berbeda dengan yang dialami anaknya. Ia menyebut kasus yang menimpa Aqib sangat serius karena menyangkut nyawa korban.

Situasi saat warga dan wali murid menggeruduk SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Senin (5/10/2026). Murid kelas 2 di sana tewas diduga dibully oleh kakak kelasnya.Situasi saat warga dan wali murid menggeruduk SDN 1 Kebondalem, Pemalang, Senin (5/10/2026). Murid kelas 2 di sana tewas diduga dibully oleh kakak kelasnya. Foto: Robby Bernardi/detikJateng

"Kalau ini kan sudah keterlaluan, sudah menyangkut nyawa anak. Jadi harus ditindaklanjuti," tegasnya.

Ia berharap ada tindakan tegas terhadap pihak yang dinilai bertanggung jawab. Bahkan, Antika meminta kepala sekolah dan pelaku dikeluarkan dari sekolah.

Plt Bupati Pemalang, Nurkholes, datang ke lokasi sekitar pukul 10.10 WIB. Ia menemui perwakilan warga dan orang tua siswa, dengan audiensi berlangsung sekitar satu jam lebih.

Ia juga menyoroti dugaan adanya upaya menutupi kejadian yang menimpa Hasbi.

"Karena dari kejadian itu sudah menutup-nutupi, sudah mengajarkan anak untuk berbohong. Jadi menurut saya enggak banget lah jadi kepala sekolah seperti itu," katanya.

Kesaksian lain juga disampaikan orang tua siswa mengenai dugaan aksi pemalakan yang pernah dialami anaknya.

Seorang ibu bernama Akuyas (45), warga Pemalang, yang anaknya kini duduk di kelas 4 mengaku anaknya pernah dipalak oleh kakak kelas ketika hendak menuju kantin. Menurutnya, tindakan tersebut dilakukan oleh siswa kelas 5 atau 6.

"Ya, anak saya cerita, saat mau ke kantin atau jajan, dipalak kakak kelasnya," katanya.

Ia menyebut, dugaan pemalakan terhadap siswa di sekolah tersebut bukan hanya dialami anaknya.

"Sering. Terus uang yang disimpan juga banyak yang hilang, uang saku," katanya.

Ibu tersebut mengaku sudah mengajarkan anaknya agar berani melapor kepada orang tua apabila mengalami pemalakan.

Ia juga mengatakan pernah menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak sekolah ketika anaknya masih duduk di kelas 2. Namun, setelah itu anaknya tidak lagi mau bercerita mengenai kejadian serupa.

Hasbi Meninggal dalam Perjalanan ke Rumah Sakit

Diketahui, Aqib meninggal pada Rabu (30/9) sore saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Ia sebelumnya sempat dirawat selama 9 hari di RSUD dr M Azhari karena diduga dianiaya kakak kelasnya.

Ibunya, Diah Indriyanti (36), mengatakan Aqib mulai menjalani perawatan di rumah sakit pada Kamis (17/9). Saat itu, keluarga belum mengetahui adanya dugaan kekerasan yang dialami anaknya.

Setelah menjalani perawatan selama sembilan hari, Hasbi diperbolehkan pulang. Namun, kondisi korban kemudian disebut semakin menurun.

Hasbi bahkan tidak dapat berjalan karena mengeluhkan sakit di sekujur tubuh.

Setelah tiga hari berada di rumah, kondisi Hasbi kembali memburuk. Pada Rabu (30/9), keluarga berencana membawanya kembali ke rumah sakit. Namun, dalam perjalanan, Hasbi meninggal dunia.

Kini, warga dan orang tua siswa mendesak agar dugaan perundungan yang menimpa Hasbi diusut secara tuntas serta ada langkah tegas untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan sekolah.



(apu/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads