Satreskrim Polres Pemalang masih menyelidiki kasus meninggalnya seorang siswa SDN 1 Kebondalem Pemalang yang diduga dianiaya kakak kelasnya. Saat ini polisi telah memeriksa delapan orang saksi, empat di antaranya merupakan anak-anak.
"Saat ini sudah melakukan pemeriksaan total delapan saksi. Empat di antaranya saksi anak, dua dari pihak sekolah dan dua dari orang tua korban," kata Kasatreskrim Polres Pemalang AKP Wildan Umar saat ditemui di Mapolres Pemalang, Senin (5/10/2026).
Wildan mengatakan, dua saksi dari pihak sekolah yang telah dimintai keterangan yaitu kepala sekolah dan guru. Ia menegaskan masih mendalami seluruh rangkaian perkara ini, termasuk soal ada atau tidaknya pengakuan dari pihak yang berkaitan dalam kasus tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti kita akan keluarkan (hasilnya). Saat ini sedang kami lakukan pendalaman terkait penanganan kasus tersebut," ucap dia.
Terkait hasil autopsi korban, Wildan menyebut hingga kini hasil resmi belum diterima. Hasil pemeriksaan masih berada di tim Biddokkes Polda Jawa Tengah.
"Autopsi belum (keluar). Sementara masih ada di tim Biddokkes Polda Jateng, jadi hasil resminya masih menunggu dari Biddokkes Polda Jateng," jelasnya.
Wildan juga membantah informasi yang beredar di media sosial yang menyebut kondisi tubuh korban mengalami kerusakan akibat penganiayaan. Ia menyatakan informasi tersebut tidak benar.
"Kebetulan kami ikut (autopsi), dan untuk hal tersebut saya nyatakan tidak benar," tegasnya.
Wildan menambahkan, pihaknya akan menyampaikan hasil pemeriksaan autopsi setelah menerima laporan resmi dari Biddokkes Polda Jateng.
"Untuk barang bukti nanti kami akan keluarkan pada waktu rilis. Nanti kami akan berikan penjelasan seterang-terangnya terkait penanganan kasusnya," ujar dia.
Warga Geruduk SD di Pemalang
Diberitakan sebelumnya, ratusan warga dan orang tua menggeruduk SDN 1 Kebondalem, Pemalang. Mereka menuntut adanya keadilan terhadap Aqib (7) murid kelas 2 yang meninggal diduga dibully kakak kelasnya.
Pantauan detikJateng, Senin (5/10), aksi dimulai pukul 09.30 WIB dan berakhir pukul 11.30 WIB. Sempat terjadi aksi saling dorong antara warga yang berusaha masuk meminta pertanggungjawaban sekolah dengan pihak keamanan.
Plt Bupati Pemalang, Nurkholes, datang ke lokasi pukul 10.10 WIB. Ia menemui perwakilan warga dan orang tua siswa, dengan audiensi berlangsung sekitar satu jam lebih. Ia juga menyoroti dugaan adanya upaya menutupi kejadian yang menimpa Hasbi.
"Karena dari kejadian itu sudah menutup-nutupi, sudah mengajarkan anak untuk berbohong. Jadi menurut saya enggak banget lah jadi kepala sekolah seperti itu," kata dia.
Aqib Meninggal dalam Perjalanan ke RS
Diketahui, Aqib meninggal pada Rabu (30/9) sore saat dalam perjalanan dibawa ke rumah sakit. Ia sebelumnya sempat dirawat selama 9 hari di RSUD dr M Azhari karena diduga dianiaya kakak kelasnya.
Ibunya, Diah Indriyanti (36), mengatakan Aqib mulai menjalani perawatan di rumah sakit pada Kamis (17/9). Saat itu, keluarga belum mengetahui adanya dugaan kekerasan yang dialami anaknya.
Setelah menjalani perawatan selama sembilan hari, Aqib diperbolehkan pulang. Namun, kondisi korban kemudian disebut semakin menurun.
Aqib bahkan tidak dapat berjalan karena mengeluhkan sakit di sekujur tubuh.
Setelah tiga hari berada di rumah, kondisi Aqib kembali memburuk. Pada Rabu (30/9), keluarga berencana membawanya kembali ke rumah sakit. Namun, dalam perjalanan, Hasbi meninggal dunia.
Kini warga dan orang tua siswa mendesak agar dugaan perundungan yang menimpa Aqib diusut secara tuntas serta ada langkah tegas untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan sekolah.
Lihat juga Video 'Dikeroyok 13 Pelajar, Keluarga Siswi SMK di Lubuklinggau Lapor Polisi':
(dil/ams)
