Polisi Periksa Saksi Kasus Dugaan Bully Tewaskan Siswa SD di Pemalang

Polisi Periksa Saksi Kasus Dugaan Bully Tewaskan Siswa SD di Pemalang

Robby Bernardi - detikJateng
Jumat, 02 Okt 2026 15:53 WIB
Kasatreskrim Polres Pemalang, AKP M Wildan Umar.
Kasatreskrim Polres Pemalang, AKP M Wildan Umar. Foto: Robby Bernardi/detikJateng
Pemalang -

Seorang murid kelas 2 SD di Pemalang, meninggal usai diduga dianiaya oleh kakak kelasnya. Saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi.

"Hari ini kita melakukan pemeriksaan saksi-saksi, baik dari keluarga korban, pihak sekolah maupun teman korban," kata Kasatreskrim Polres Pemalang, AKP M Wildan Umar, saat dihubungi detikJateng, Jumat (2/10/2026), .

Lebih lanjut lagi, Wildan menjelaskan pemeriksaan saksi-saksi ini juga melibatkan tim psikiater.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hasil itu (pemeriksaan saksi-saksi), masih terus kita dalami dan kembangkan," katanya.

ADVERTISEMENT

Wilda juga menyayangkan beredarnya kabar terkait peristiwa dugaan bully tersebut. Padahal, kebenaran dari informasi tersebut belum bisa dipastikan.

"Ya, Kami menyayangkan adanya sejumlah kabar di media sosial, yang belum diketahui kebenarannya," kata Wildan.

Sementara itu, terpisah kepala SD N 1 Kebondalem, Erning Rustini, saat dikonfirmasi enggan berkomentar banyak. Ia hanya menyerahkan sepenuhnya pada kepolisian.

"Maaf Mas, semua sudah saya serahkan ke kepolisian (polres)," ungkapnya singkat saat dihubungi awak media melalui pesan singkatnya, Jumat (2/10/2026).

Sebelumnya diberitakan, Muhamad Hasbi Al-Aqib bin Nurwandi (7), murid kelas 2 di SD N 1 Kebondalem, Pemalang, Rabu Sore (30/9), meninggal dalam perjalan ke rumah sakit. Meninggalnya warga Kebondalem, Pemalang, ini, diduga menjadi korban pengeroyokan kakak kelasnya.

Menurut ibu korban, yakni Diah Indriyanti (36), mengungkapkan anaknya sejak Kamis (17/9) masuk rumah sakit. Keluhannya, sakit perut. Diah sendiri saat itu belum mengetahui anaknya menjadi korban dugaan bully.

Setelah perawatan di rumah sakit selama 9 hari, anaknya dibawa pulang. Kondisinya sudah tidak bisa berjalan, karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya. 3 hari di rumah, anaknya merasa sakit lebih parah lagi.

Rabu (30/9), rencananya akan dibawa kembali ke rumah sakit, namun dalam perjalanan, anaknya menghembuskan nafas terakhirnya. Kamis pagi (01/10), Bidokes Polda Jawa Tengah, melakukan otopsi di RSUD M Azhari. Hasil otopsi sendiri belum keluar. Usai dilakukan otopsi, korban kemudian dimakamkan.



(apl/afn)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads