Sambat Warga Terdampak Asap TPA Jatibarang: Sesak Napas, Rumah Bau

Sambat Warga Terdampak Asap TPA Jatibarang: Sesak Napas, Rumah Bau

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Minggu, 04 Okt 2026 22:18 WIB
Indah, warga Kelurahan Kedungpane RT 07 RW 03, Kecamatan Mijen, Kota Semarang curhat soal gangguan asap TPA Jatibarang, Minggu (4/10/2026).
Indah, warga Kelurahan Kedungpane RT 07 RW 03, Kecamatan Mijen, Kota Semarang curhat soal gangguan asap TPA Jatibarang, Minggu (4/10/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Asap kebakaran TPA Jatibarang masih melanda warga Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, Kota Semarang. Warga mengeluhkan bau menyengat yang membuat sesak napas hingga rumahnya jadi bau.

"Napas sesak, sampai nggak pernah keluar rumah," kata Indah Astuningtuti (55) warga RT 07 RW 03 Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, saat ditemui detikJateng di rumahnya, Minggu (4/10/2026).

Pantauan detikJateng di Kelurahan Kedungpane, asap kebakaran TPA Jatibarang masih terlihat sedikit. Bau asap bercampur sampah juga masih cukup menyengat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa warga tampak sedang melakukan kerja bakti. Para ibu-ibu tengah menjemur pakaian sambil sesekali terbatuk-batuk akibat asap kebakaran.

Indah saat itu sedang menyapu abu sisa kebakaran yang mengotori rumahnya. Ia mengatakan, asap kebakaran membuatnya memilih tak keluar rumah karena khawatir menghirup asap.

ADVERTISEMENT

"Ini juga abunya masuk ke rumah. Saya sapu berkali-kali juga tetap ada lagi. Jadi bikin rumah kotor dan bau," ujar dia.

Indah mengatakan, dampak asap juga terasa pada pakaian yang dijemurnya. Pakaian yang dijemur di luar rumah disebut ikut berbau asap.

"Kami terdampak sekali. Di baju kalau kita jemur itu bau semua. Di napas terasa sesak, dada tuh kayak ampek (susah bernapas)," ujarnya.

Bahkan Indah mengaku sempat mengalami batuk dan pusing. Namun, Indah memilih beristirahat di rumah dan memperbanyak minum air hangat.

Kondisi kebakaran TPA Jatibarang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Minggu (4/9/2026).Kondisi kebakaran TPA Jatibarang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Minggu (4/9/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

"Sampai sesak kemarin awal-awal mau ke periksa, tapi udah biarin dulu saya gitu. Saya minumin air putih banyak aja yang hangat. Sampai batuk-batuk itu. Pusing kepala saya," tuturnya.

Menurut Indah, kondisi asap paling parah dirasakan pada beberapa hari lalu setelah kebakaran TPA Jatibarang, Rabu (30/9) malam. Saat itu, dia menyebut permukiman seperti berkabut.

"Kamis Jumat itu parah sampai berkabut, dikirain mendung padahal itu asap," katanya.

Meski kondisi asap disebut sudah berkurang, Indah mengatakan bau masih terasa hingga hari ini. Dia pun berharap penanganan kebakaran segera tuntas sehingga warga bisa kembali beraktivitas tanpa terganggu asap.

Indah, warga Kelurahan Kedungpane RT 07 RW 03, Kecamatan Mijen, Kota Semarang curhat soal gangguan asap TPA Jatibarang, Minggu (4/10/2026).Indah, warga Kelurahan Kedungpane RT 07 RW 03, Kecamatan Mijen, Kota Semarang curhat soal gangguan asap TPA Jatibarang, Minggu (4/10/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

"Berharapnya semuanya selesai, biar kesehatan kita kan juga enak. Bernapas tuh nggak ada kayak sumbatan. Napasnya nggak bisa los," ujarnya.

"Soalnya memang kalau sini ke TPA Jatibarang kan cuma 2 kilometeran, jadi asapnya paling banyak ya ke sini. Kalau ke Puskesmas untuk periksa juga jauh," sambungnya.

Indah telah tinggal di kawasan tersebut selama lebih dari 15 tahun. Dia mengatakan, pernah merasakan dampak kebakaran TPA Jatibarang yang sebelumnya terjadi pada 2023.

"Selama tinggal di sini pernah dua kali. Tapi dulu nggak sampai berhari-hari, ini paling parah. Kalau dulu kan nggak selama ini," katanya.

Hal senada dikatakan warga lainnya, Suprapti (48). Ia menyebut, asap paling terasa terjadi di pagi hari, saat angin bertiup ke arah pemukiman tempat tinggalnya.

"Pagi tadi masih berkabut. Ini aja masih, tapi karena siang nggak terlalu kelihatan. Dan ini angin larinya ke Gunung Pati. Jadi asap itu ngikut arus angin," kata Suprapti kepada detikJateng.

Menurutnya, asap kebakaran itu memiliki bau tak enak dan tak baik untuk tubuh. Ia kerap merasa pusing jika terlalu banyak menghirup asap kebakaran tersebut.

"Kalau ini sudah agak enak, kalau biasanya bikin kepala pusing. Baunya itu bau sampah, bau plastik. Nggak enak lah pokoknya," ucapnya.

"Kalau hari ini, dari tadi malam sampai pagi tadi jam 05.00 WIB paling pekat. Tapi sampai jam 10.00 WIB juga masih kerasa," sambungnya.

Warga Alami Gangguan Pernapasan

Sementara itu, Ketua RT 07 RW 03 Kedungpane, Hartanto mengatakan, dampak asap memang banyak dirasakan sejumlah warga di wilayahnya. Pihaknya telah menyampaikan data warga yang mengalami keluhan kepada kelurahan.

"Di tempat kami sudah mengajukan ada 15 warga yang terdampak dari kejadian ini, mengalami ISPA. Jadi sesak napas dan terbatuk-batuk," kata Hartanto kepada detikJateng.

Menurut Hartanto, warga mengeluhkan sesak napas dan batuk setelah asap dari kawasan TPA Jatibarang masuk ke permukiman. Menurutnya, arah angin membuat asap dari TPA menuju RW 02 dan RW 03.

"Karena ini kejadian luar biasa, kemarin saya sudah ngomong ke Pak Lurah bahwa angin itu bertiup dari TPA ke sini, makanya saya usuk minta untuk pengobatan, penyediaan masker," ujarnya.

Hartanto mengatakan, pihak kelurahan akhirnya telah menyalurkan masker kepada warga. Selain itu, posko kesehatan juga disediakan untuk warga yang mengalami keluhan akibat asap.

"Tapi poskonya di RW 4 yang dekat TPA. Seharusnya yang kami inginkan, posko itu bukan harus di RW 4 karena dampak (asap) itu di RW 3. Posko itu ada di RW 2 dan RW 3 harusnya," katanya.

"Jadi kita tidak jauh-jauh harus ke sana. Karena dampak dari asap itu tidak mengenai di RW 4, malah ke sini, ke RW 3 sama Gunungpati khususnya," jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto mengungkapkan, berdasarkan laporan BPBD per hari ini, terdapat 22 orang yang mengalami masalah pernapasan berupa batuk dan sesak napas.

"22 orang mengalami gangguan pernapasan berupa batui dan sesak napas. 15 orang dari Keluraha. Kedungpane, 2 orang Tambakaji, dan 5 orang dari Bambankerep," urai Endro melalui pesan singkat kepada detikJateng.

Halaman 2 dari 2
(afn/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads