Sejumlah warga menggelar aksi demo ke sebuah pabrik pengolahan udang di Desa Waturoyo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Massa geram karena telah membayar untuk masuk kerja di pabrik itu, ternyata tak kunjung dipanggil untuk bekerja.
"Dulu Rp 2 juta, dimintai dari oknum HRD ini. Dulu katanya mau dikerjakan di pabrik ini, tapi tidak kunjung ada kerja," kata orang tua korban, Widodo, kepada wartawan di lokasi, Jumat (2/10/2026).
Pantauan detikJateng di lokasi, massa tiba di lokasi sekira pukul 13.30 WIB. Ada ratusan massa yang melakukan orasi di depan pintu masuk pabrik. Turut hadir juga dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB).
Setelah melakukan orasi, massa pun menggelar audiensi dengan manajemen pabrik. Audiensi ini digelar di ruangan dengan dijaga ketat oleh polisi. Sekira 1 jam lebih, audiensi baru selesai.
Widodo mengatakan, 4 tahun silam ia mendaftarkan anak perempuannya agar bisa bekerja di pabrik sektor pengolahan udang. Waktu itu ia dimintai sejumlah uang jutaan rupiah sebagian jaminan bisa bekerja di pabrik tersebut.
"Sudah 4 tahun daftar anak saya tidak diterima, padahal rumah saya dekat dengan pabrik, belakang tembok persis," kata Widodo.
"Dulu Rp 2 juta dimintai dari oknum HRD ini, dulu katanya mau dikerjakan di pabrik ini, apa saja mau, anak saya perempuan cewek waktu itu berusia 19 tahun" lanjut dia.
Karena percaya dengan oknum HRD itu, ia menyerahkan uang Rp 2 juta. Akan tetapi seiring waktu, ternyata anaknya tidak kunjung diterima untuk bekerja.
"Dulu bilangnya saya bisa masukkan anak Bapak ke sini supaya bisa kerja, tapi kok terus tidak ada kabar setelah kasih uang," terang dia.
Menurutnya, korban lebih dari satu orang. Dijelaskan, korban yang bersama dirinya ada 6 orang.
"Korban lain banyak, nggak tahu pasti, puluhan lebih, tadi yang bareng ada 6 orang didata, belum yang lain, masih banyak yang belum," jelasnya.
"Ada yang dimintai Rp 3 juta ada Rp 5 juta, macam-macam," ujarnya.
Korban lainnya, Siti Rahmawati mengaku kena tipu setelah setor uang Rp 5 juta untuk anaknya agar bisa bekerja di pabrik pengolahan udang. Akan tetapi setelah ditunggu beberapa tahun tidak ada kabar.
Ia mencoba menagih pun tidak ada kepastian dari oknum HRD tersebut.
"Saya senilai Rp 5 juta, sama tidak pernah kerja sejak beberapa tahun lalu," jelasnya ditemui di lokasi.
Dia bersyukur, setelah didemo, akhirnya pihak oknum HRD dan pabrik bertanggung jawab mengembalikan uang para korban.
"Kami terima kasih kepada AMPB yang memperjuangkan rakyat kecil, harapan saya tidak ada korban selanjutnya seperti saya," jelasnya.
(afn/dil)