Narasi tentang adanya karya seseorang yang dipamerkan di museum pakai nama dosen Institut Seni Indonesia Surakarta (ISI Solo) viral di media sosial. Pihak ISI menjelaskan duduk perkara kesalahan tersebut.
Postingan itu viral usai diunggah akun Instagram @junian_afero, yang mengaku sebagai pemilik karya. Si pemilik akun menyebut dirinya mendapat informasi jika karyanya berupa seni kriya yang dipamerkan di Museum Tahir Solo menggunakan nama orang lain.
Ia mengaku sempat mencari tahu dan menemukan yang bersangkutan merupakan dosen ISI. Ia kemudian heran mengapa kesalahan macam itu bisa terjadi. @juanian_afero curiga jika ada unsur kesengajaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemarin saya dapat info dari teman yang kebetulan bertemu karya saya di @tahirsolomuseum . Dia melihat nama pemilik karya itu adalah Carly Sudarta Martaidaun dan tahun pembuatan 2023. Saya yang tidak kenal dengan beliau langsung berpikir bahwa ini sebuah pelanggaran, dan saya dibantu teman-teman mencari tahu kenapa bisa begini?. Setelah kami melakukan penyelidikan, ternyata beliau adalah seorang dosen @isi_surakarta yang mengajar di @fsrd_isi_ska.
Kok bisa begini ya, tidak mungkin kalau ini adalah kesalahan dalam pendataan. Ini jelas ada unsur kesengajaan. Karena keterangan telah diubah baik judul mau pun tahun pembuatan, dan karya itu sudah ada di @tahirsolomuseum sejak bulan Juli. Miris ketika ini dilakukan oleh seorang dosen @kriyaisisolo.official . Saya tahu bagaimana teman-teman dari Jurusan kriya itu dididik. Menciptakan karya yang benar-benar otentik, pantang meniru atau plagiasi.
Sehingga di angkatan saya dan sebelumnya dulu, teman-teman kriya punya karya yang hebat. Tiba-tiba kok ada kasus seperti ini dan pelakunya adalah seorang dosen, jelas ini sebuah pelanggaran. Ini sudah bisa dikatakan "pencurian". Tolong @isi_surakarta @fsrd_isi_ska bagaimana bentuk pertanggung jawabannya?," tulis akun Instagram @junian_afero, seperti yang dilihat detikJateng, Jumat (2/10/2026).
Pemilik karya Junian Akbar Avero, mengatakan dia mengetahui karyanya dipajang di Tahir Solo Museum dari temannya yang melihat karya tersebut.
"Kronologinya dari teman yang tahu karya itu sepertinya tidak asing, seperti karya Junian. Setelah dia dekatin untuk memastikan, oh ya karya ya Junian, tapi kok namanya bukan Junian, lalu dia konfirmasi kepada saya," kata Junian saat dihubungi awak media, Jumat (2/10/2026).
Dia menjelaskan, karyanya itu pertama dipamerkan tahun 2016. Selama ini, karyanya itu ia titipkan di kampus untuk edukasi mahasiswa baru.
Namun tiba-tiba karyanya dipajang di Tahir Solo Museum tanpa seizinnya. Ia menduga ada kesengajaan dalam penulisan identitas karya tersebut, terlebih karyanya ada yang berbeda dari yang seharusnya.
"Sama sekali (tidak ada konfirmasi). Ini asumsiku pribadi, ada unsur kesengajaan. Klarifikasinya di Kriya, di situ dia bilangnya salah data, atau pengolahan data, itu tidak bisa, sudah cacat logis. Maksudnya kalau itu salah data, berarti karyanya dia juga ada di situ, dan namaku juga ada di situ mungkin tertukar. Ini judulnya diganti, konsep diganti semuanya. Ketika dia klarifikasi itu, tidak ada dimensi dan deskripsinya juga, makanya udah memang ada unsur kesengajaan," jelasnya.
Saat ini pihaknya membuka pintu musyawarah. Dia ingin ada keterbukaan terkait hal tersebut.
"Harapan saya pihak ISI menindak tegas dengan sidang etik dengan Saudara Cerly dan panitia yang terlibat. Dan memberikan klarifikasi secara resmi, dan terbuka," ujarnya.
Klarifikasi ISI Solo
Diminta konfirmasi soal ini, Ketua Jurusan Kriya FSRD ISI Solo, Dr. Aan Sudarwanto, mengatakan karya tersebut merupakan ciptaan alumni Program Studi Kriya ISI Solo, Junian Akbar Avero. Terkait penulisan nama Cerly Sudarta Martsidaun, itu terkait kesalahan pengolahan data administratif dan keterbatasan waktu persiapan, tanpa ada niat sedikit pun untuk mengalihkan hak cipta maupun merusak karya.
Pihaknya menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan itu, dan panitia sudah membetulkan caption identitas di area display Tahir Solo Museum sesuai dengan data yang semestinya.
"Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada khalayak umum, khususnya kepada Saudara Junian Akbar Avero dan Saudara Cerly Sudarta Martsidaun atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat kekeliruan caption ID ini. Kami tegaskan bahwa sama sekali tidak ada tindakan pengambilalihan, klaim kepemilikan, ataupun niat menghilangkan atribusi karya," kata Aan, dalam siaran pers yang diterima detikJateng, Jumat (2/10/2026).
Kejadian ini murni merupakan kesalahan administratif internal dalam proses seleksi akibat padatnya jadwal panitia yang terbagi dalam dua pameran besar yang berdekatan, yakni Pameran Abinawa Bhumi #2 dan Pameran Humanity.
"Kami juga meluruskan bahwa isu mengenai pengrusakan karya itu tidak benar; bagian atas karya sengaja disimpan demi kesesuaian arahan kurator dan saat ini tersimpan aman di Kantor Dosen Kriya. Kesalahan input data ini adalah tanggung jawab panitia, dan kami meminta publik untuk tidak menyudutkan Sdr. Cerly Sudarta. Masukan dari para sahabat seni menjadi catatan evaluasi yang sangat berharga bagi kami ke depan," ujarnya.
Saat ini, karya yang berjudul asli 'Pencerah Batin' karya Junian Akbar Avero (2018) telah dipajang dengan caption baru yang sudah diperbaiki secara akurat. Pameran "Humanity" sendiri merupakan program kolaborasi antara ISI Solo melibatkan Prodi Kriya, Seni Murni, Desain Interior, dan Fotografi, dengan Tahir Solo Museum.
Kata Pihak Museum
Dihubungi terpisah, Operational Manager Tahir Solo Museum, Darryl Yusuf Putra mengatakan karya tersebut bisa berada di museum karena terpilih kurasi oleh pihak museum sejak bulan Juli 2026.
"Kerja sama dengan ISI Solo berupa penyelenggaraan pameran secara berkala setiap 3 bulan berganti tema pameran. Dari pihak Tahir Solo Museum, kami menentukan tema yaitu humanity. Lalu dari ISI mengajukan semua karya yang ada di ISI dan kurator menentukan karya mana yang dipilih. Setelah kurator memilih dimana kebetulan waktu itu sangat pendek, yakni 1 minggu sebelum museum opening. Maka ada kesalahan dalam pendataan yang di laksanakan dari tim Teknis dari ISI," kata Darryl.
Dia mengatakan, karya tersebut masih dipajang di museum, dengan caption identitas yang sudah diperbaiki sesuai kepemilikannya.
