Warga Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus mengeluh soal banyaknya populasi lalat di permukiman warga karena keberadaan kandang ayam. Kondisi ini pun membuat warga dan aktivitas sehari-hari tidak nyaman.
"Lalat mengerikan sekali. Lalat itu sudah beberapa tahun lalu. Kita sudah sabar, tapi ketika kita sabar mereka (pemilik kandang) menjadi-jadi," kata perwakilan warga Bulungcangkring, Nur Ahmad kepada wartawan di lokasi Desa Bulungcangkring, Jumat (2/10/2026).
Dia menjelaskan tidak jauh dari permukiman warga atau sekitar kurang dari 500 meter terdapat 20 kandang ayam. Kandang itu dimiliki beberapa orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat keberadaan kandang ini berdampak pada banyaknya lalat yang masuk ke permukiman warga.
"Penjelasan dari desa itu ada 20 kandang. Sementara yang paling ledakan populasi lalat terdampak RW 8. Termasuk ke sekolah juga," kata Nur.
Lebih lanjut, menjelaskan keberadaan lalat sangat mengerikan di permukiman warga. Lalat itu hingga di rumah sampai tempat-tempat makan yang digunakan sehari-hari.
Kondisi ini kata dia sebenarnya sudah lama terjadi. Bahkan pada bulan April 2026 lalu, warga sempat audiensi dengan pemdes dan pemilik kandang terkait banyaknya populasi lalat. Akan tetapi sampai ini tidak ada tindaklanjut.
"Bulan April 2026 kita audiensi, tapi setelah tanda tangan 6 bulan tidak ada tindakan," kata Nur.
"Dari bulan April kita menekankan populasi lalat, justru kondisinya semakin banyak sampai sekarang ini," jelas dia.
Oleh karena itu, ia meminta agar kandang ayam tersebut ditutup saja. Terlebih waktu enam bulan setelah audiensi tidak ada tindak lanjut dari para pemilik kandang.
"Warga menuntut agar kandang ayam ditutup, soalnya enam bulan yang lalu sudah mengadakan mediasi, mediasi sudah disepakati untuk angka lalat, dan pembersihan kandang," terang dia.
"Terus paguyuban menyanggupi kalau ada kandang yang tidak bersih, pihak kandang tidak diisi ayam atau dioperasi. Tapi setelah 6 bulan dari tanda tangan sampai sekarang tidak ada tindakan," lanjut dia.
Sementara itu, Kepala Desa Bulungcangkring, Sulakim mengatakan akan memanggil para pemilik kandang dan warganya. Dia akan mencari bersama agar kandang berjalan sementara warga juga nyaman tidak terganggu dengan banyaknya lalat.
"Dalam seminggu ke depan, langkah Pemdes akan memanggil pengelola kandang, rencana Sabtu kita sampaikan keluhan warga," ujarnya kepada wartawan di Bulungcangkring.
"Semoga ada jalan keluar yang terbaik, kami berharap pengelola jalan bisa berjalan kenyamanan warga juga bisa terkendalikan," lanjut dia.
Peternak Akui Populasi Lalat Meledak Saat Panen
Terpisah, salah satu peternak, Heri Hermawan mengatakan di Desa Bulungcangkring terdapat 20 kandang peternak. Ia mengaku telah mengantisipasi penyebaran lalat dengan melakukan penyemprotan di area kandang dan lingkungan masyarakat.
"Sepertinya peternakan di sini ada 20 peternakan, antisipasi kita biosecurity di farm kita sudah berjalan untuk pagi sore kita semprot di area farm. Untuk ke masyarakat kita semprot ke permukiman warga juga," kata dia kepada wartawan di lokasi.
Heri menjelaskan penyebaran lalat ini diduga karena musim panen ternak ayam. Menurutnya saat panen perkembangan lalat bertambah banyak daripada hari biasanya.
Karena ditambah total ada 20an kandang ternak sehingga penyebaran lalat begitu banyak dan berpindah dari tempat ke tempat lainnya.
"Karena lalat biasanya ada banyak saat musim panen. Biasanya kalau musim panen lebih banyak karena siklus panen kita tidak bisa bareng tidak bisa serentak jadi bisa berpindah- pindah dari ujung ke ujung. Musim pergantian biasanya banyak lalat," jelasnya.
Meskipun demikian, ia berupaya untuk menekan penyebaran lalat agar tidak banyak ke permukiman warga.
"Kita ke depan agar kompak meningkatkan bio security, menekan perkembangan lalat, kalau mungkin menghilangkan di dunia peternakan susah, tetap ada lalat pasti ada, harapan kita memaksimalkan bio security agar perkembangan lalat tidak begitu pesat," pungkas dia.
(afn/apu)
