Seorang siswa bernama Aqib (7), warga Kebondalem, Pemalang, meninggal dengan dugaan menjadi korban perundungan (bullying) pada Rabu (30/9) sore. Jenazahnya diautopsi Bidokkes Polda Jawa Tengah (Jateng) di RSUD M Azhari Pemalang.
"Ya, kami Sat Reskrim bersama Polsek Pemalang Kota menerima laporan dari masyarakat atau adanya informasi bahwa ada seorang anak meninggal dunia yang diduga akibat adanya tindakan kekerasan," kata Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M Wildan Umar, saat ditemui detikJateng di RSUD M Azhari, Kamis (1/10/2026).
Wildan menyatakan, sejak Rabu (30/9) malam, pihaknya sudah meminta keterangan awal dari sejumlah saksi, termasuk orang tua korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan hari ini, kami sedang melaksanakan autopsi kepada korban untuk mengetahui penyebab kematian dari korban," kata Wildan.
"Terkait jenazah nanti kami akan jelaskan, kami akan dalami dengan pihak tim forensik Biddokkes Polda Jateng. Karena saat ini terkait dengan pelaksanaan autopsi kami dibantu oleh Biddokkes Polda Jateng secara scientific crime investigation," tambahnya.
Diah Indriyanti, orang tua Muhamad Hasbi Al-Aqib bin Nurwandi (7), bocah SD yang tewas diduga dibully, ditemui di rumah duka di Kebondalem, Pemalang, Kamis (1/10/2026). Foto: Robby Bernardi/detikJateng |
Sempat Dirawat di RS
Ditemui di rumah duka, ibu korban, Diah Indriyanti (36), mengungkapkan dirinya terpukul atas kematian anak ketiganya tersebut. Ia bercerita, korban berubah jadi pendiam, bahkan tidak berani bercerita, terkait penganiayaan yang dialaminya.
Diah mengatakan, sebelum meninggal, murid Kelas 2 SDN 1 Kebondalem itu dirawat di RSUD M Azhari selama sembilan hari sejak Kamis (17/9) lalu. Korban sempat pulang selama 3 hari di rumah, sebelum akhirnya meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit, Rabu (30/9) sore.
"Hari Kamis tanggal 17 kemarin, selama 9 hari dirawat di rumah sakit. Pulang dari rumah sakit 3 hari, kemudian kemarin berniat dibawa ke rumah sakit kembali, tapi seperti itu (meninggal)," kata Diah.
Diah mengatakan, selama sakit itu, anaknya berubah. Semula periang dan doyan makan, buah hatinya menjadi pendiam. Korban bahkan menceritakan perundungan yang dialaminya kepada dokter.
"Cuma saya merasa udah beda dari pola makan sama pola setiap hari. Anak itu biasanya ceria tapi berubah, pendiam," katanya.
"Dia baru bercerita itu setelah diperiksa sama dokter, baru dia cerita," tambah Diah.
Namun, diakui Diah, ia hanya mendapatkan secuil cerita dari anaknya. Ia hanya mengetahui penganiayaan itu terjadi pada jam istirahat, sementara hari dan tanggalnya, Diah tidak mengetahuinya.
"Dipukul perut, ada yang menendang pakai sepatu. Dan itu pun saya pertama enggak... enggak tahu kalau anak itu udah dipukul. Saya baru tahu itu kemarin-kemarin," katanya.
Diah menuturkan ada luka memar di perut dan kaki anaknya tersebut.
"Memar di perut dan kaki, warna biru-biru lebam," katanya.
"Tiga hari di rumah, anak merasakan sakit-sakit, mengeluhkan perut sakit." imbuh Diah.
Ia juga menyatakan anaknya juga sulit berjalan karena kondisi kaki dan perutnya tersebut.
"Kalau diangkat juga mengeluh sakit," katanya.
Kecewa dengan Pihak Sekolah
Setelah tiga hari di rumah, Diah mengungkapkan kondisi buah hatinya kian parah, sehingga pada Rabu (30/9) mereka kembali membawanya ke rumah sakit. Namun, dalam perjalanan, anaknya meninggal.
"Harapan kami selaku orang tua udah cukup Aqib saja. Yang lain jangan. Mungkin saya ikhlas enggak ikhlas, karena (anak) enggak sakit nggih. Jadi kan saya merasa... Kok enggak sakit, kok tiba-tiba kayak gitu," ungkap Diah.
Terpisah, suami Diah, Nurwandi (43), berkata sempat mendatangi sekolah untuk meminta penjelasan perundungan yang dialami putranya. Namun, upayanya sia-sia.
"Anak saya itu sebelum meninggal sudah ngomong siapa-siapa yang mukul dia, dilihatin foto terus dia nunjuk. Ada tiga anak, yang dua kelas 5 dan satu kelas 6. Saya mencoba minta kejelasan sekolah, namun belum ada hasilnya, kata Nurwandi.
Kini, keluarga korban berharap polisi dapat segera mengungkap secara gamblang dugaan kekerasan atau perundungan terhadap putranya dan ada keadilan untuk anaknya.

