Pelajar SMP Pemalang Dibully hingga Tewas, Kakak Kelas Jadi ABH

Pelajar SMP Pemalang Dibully hingga Tewas, Kakak Kelas Jadi ABH

Robby Bernardi - detikJateng
Senin, 24 Agu 2026 13:33 WIB
Kapolres Pemalang, AKBP Rendy Setia Permana
Kapolres Pemalang, AKBP Rendy Setia Permana. Foto: Robby Bernardi/detikJateng
Pemalang -

Kematian AAF (13), pelajar kelas 7 di SMP N 4 Randudongkal, Pemalang, warga Desa Semingkir, Kecamatan Randudongkal, terungkap. Kakak kelas korban kini ditetapkan sebagai Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH).

Korban dianiaya di lingkungan sekolah beberapa kali di bulan Juli 2026. AAF dinyatakan tewas saat mendapatkan penanganan medis di rumah sakit pada Minggu malam (02/08/2026).

Kapolres Pemalang, AKBP Rendy Setia Permana mengungkapkan, setelah melakukan pemeriksaan saksi-saksi dan memenuhi alat bukti, pihaknya menetapkan satu pelajar yang merupakan kakak kelas korban sebagai ABH.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Korban adalah pelajar kelas 7, sementara terduga ABH adalah pelajar kelas 8 di sekolah yang sama," kata AKBP Rendy Setia Permana kepada detikJateng, Senin (24/8/2026).

ADVERTISEMENT

Kekerasan di lingkungan sekolah setempat, dikatakan Rendy, terjadi empat kali di bulan yang sama yakni Juli 2026, di lingkungan sekolah.

"Ada empat lokasi di sekolah. Lokasi di bawah pohon dekat gerbang sekolah, depan ruang Laboratorium IPA, depan ruang kelas 7D dan depan toilet sekolah," jelasnya.

Akibat beberapa kali mendapatkan penganiayaan tersebut, korban pada Minggu (2/8) sempat menjalani penanganan medis di Puskesmas Randudongkal, kemudian di RS Muhammadiyah Mardhatillah. Namun, pada Minggu malam (2/8), pukul 19.30 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.

"Kasus ini kemudian dilaporkan ke Polres Pemalang, oleh ibu dari anak korban," kata Rendy.

Usai menerima laporan tersebut, pihak Polres Pemalang, kemudian melakukan pendalaman. Bahkan, 17 saksi diperiksa polisi, termasuk teman-teman sekolah korban, guru BK, guru mata pelajaran dan tenaga medis.

"Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi dan barang bukti yang diamankan, Polres Pemalang telah menetapkan satu anak yang berkonflik dengan hukum (ABH)," tambah Rendy.

Terkait penanganan anak di bawah umur ini, Rendy menjelaskan proses penanganan perkara dilakukan sesuai dengan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak.

"Terhadap ABH, dikenakan Pasal 80 ayat 2 dan atau ayat 3 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak," jelasnya.

Rendy menambahkan, peristiwa yang terjadi ini, diharapkan menjadi pelajaran bagi semua orang, termasuk pihak sekolah, para orangtua dan masyarakat untuk lebih mengawasi.

"Mari bersama-sama, kita ciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan. Semoga tidak terjadi lagi," kata Kapolres Pemalang.

Kronologi Versi Ibu Korban

Sementara itu, Evi Prianti (34), ibu korban, saat dikonfirmasi melalui teleponnya mengatakan agar hukum ditegakkan seadil-adilnya. Dia juga menjelaskan soal kronologi peristiwa yang dialami anaknya.

"Kepinginnya saya, hukum di Indonesia seadil-adilnya tidak mandang kaya miskin, ditegakkan adil, begitu aja. Kalau memang bersalah hukum sesuai pasal. Aku gak minta apapun, pengin keadilan bagi anakku," ungkapnya, Jumat (7/8/2026).

Dugaan penganiayaan pada anaknya telah dirasakan Evi sejak anaknya sakit-sakitan.

"Saya yakin dikeroyok, karena dia gak pernah sakit, gak punya riwayat sakit. Masak tiba-tiba meninggal," jelasnya.

Evi juga menceritakan hari demi hari sebelum anaknya meninggal dunia. Menurut Evi, penganiayaan sudah terjadi sebelum dia dipanggul BK pada Kamis (23/7/2026).

Kamis (23/7/2026)

Dirinya pergi ke sekolah dipanggil BK dipertemukan dengan anak-anak yang terlibat dugaan bully dan saat itu sudah ada permintaan maaf. Dalam kesempatan itu pula dirinya menanyakan ada tidaknya CCTV dan petugas pengamanan, kaitannya ancaman pada anaknya melalui WhatsApp pada Rabu malam (23/07).

"Tanggal 23, saya ke BK, gini cuma memastikan sekolah ini ada pengamanan gak, ada satpam gak. Dijawab Bu Numik di sini ada. Iya soalnya ada WA semalam (Rabu, 22 Juli) ancam anak mau keroyok," jelasnya.

Beberapa kali Evi berupaya berkordinasi dengan pihak sekolah terkait ancaman kekerasan pada diri anaknya. Namun, tetap saja anaknya menjadi korban.

Jumat (24/7/2026)

Pertemuan di sekolah dan aksi permintaan maaf sejumlah pelaku di sekolah tidak membuat kasus ini berakhir. Jumat sore (24/7), anaknya mendapatkan ancaman melalui pesan WhatsApp.

"Tanggal 24 sore, ada WA lagi, beda orang, nama D****. Bolang Kamu nantangin kelas 8. Mau dikeroyok. Panggil tu abang lu yang pecundang," kata Evi .

Karena mengancam anaknya, Evi sore itu langsung ke rumah yang bersangkutan untuk segera menyelesaikan persoalan yang ada.

"Tanggal 24 saya dan adik ke Wisnu ke D****. Mamahnya itu teman saya pas TK," kata Evi.

Dari sinilah Evi mengetahui siapa yang menyuruh untuk melakukan pengancaman pada anaknya.

Malam harinya anaknya cerita selama ini ia dibully sama yang lainnya .

"Mama tidak tahu yang sebenarnya. Aku diancam dibully. Kalau lagi jajan dihadangin dan bajunya ditarik kerah depan," ujar Evi menirukan cerita anaknya.

Sabtu (25/7/2026)

Ternyata korban masih saja dibully kakak kelasnya. Bahkan korban dibawa ke kamar mandi dan ditantang.

"Anakku Sabtu siang pulang sekolah, jam 14.30 wib . Aku tanya gimana masih dibully gak? Masih mak aku dibawa ke kamar mandi, saman si R***. Aku gak diapa-apain. Di situ bilang, di situ kakak kelas 2. R*** cuma nantang," kata Evi meniru suara anaknya.

Lagi-lagi Evi langsung menyelesaikan persoalan itu dan yang bersangkutan berjanji tida akan mengulangi lagi.

Minggu (26/7/2026)

Korban tidak banyak beraktivitas. Menurut Evi anaknya tampak murung.

"Minggu kan gak sekolah. Tidur-tiduran. Aku gak tahu. Dia banyak diamnya," kata Evi .

Senin (27/7/2026)

Pada Senin (27/7), anaknya mulai tampak sakit. Hal itu terlihat saat dirinya menjemput anaknya.

"Senin sekolah saya jemput di situ dia cuma megang tangan 2, dia ngeluh sakit. Cuma dia bilang aku habis olah raga," kata Evi.

Saat ditanya apakah jatuh, dijawab korban tidak. Saat itu Evi hanya memberikan obat pereda.

Selasa (28/7/2026)

Korban mengeluh tangannya sakit dan tidak enak badan serta gelisah. Kemudian dibawa ke puskesmas, setelah di puskesmas di sarankan oleh dokter Puskesmas untuk melaksanakan ronsen karena yang bersangkutan mengalami pembengkakan tangan dan sesak nafas dan oleh ibunya tidak dilaksanakan dan memilih hanya berobat jalan.

"Akhirnya periksa hari Selasa. Di sana disarankan suruh ronsen pas ditekan pundaknya dia merasa sakit. Kata dokter sekarang gak dicover BPJS. Aku cuma pegang duit 50 ribu," ucapnya.

Akhirnya dia kembali ke apotek untuk obat anaknya sesuai keluhan anaknya.

Jumat (31/7/3026)

Kondisi korban semakin memburuk akhirnya dibawa ke IGD RS Mardhotillah dan dilakukan rontgen. Ternyata korban mengalami keretakan di lengan.

"Jumat saya bawa anak saya ke IGD saya minta ronsen. Pak tolong anak saya sakit. Soalnya anak saya mengarah sepertinya dibully. Trus dironsen, dokter umum menyatakan, ini analisanya yang bukan dokter radiologi. Sepertinya ada keretakan di lengan," jelas Evi.

Tapi karena ruangan rumah sakit penuh mereka kembali ke rumah. Pada Jumat malamnya, dari mulut anaknya keluar darah dua kali.

"Keluar darah dari mulut dua kali. Watuk (batuk) tapi gak bisa batuk," katanya.

Evi panik dan langsung menghubungi guru olah raga, kemudian menanyakan apakah bener, anaknya jatuh saat jam olah raga.

"Aku semakin panik, WA (WhatsApp) guru. Akhire guru ke sini. Ini alfian kenapa, katanya habis olahraga. Saya tanya ke guru olahraga. Guru olah raga dan BK, saya tanya ke guru Alfian jatuh gak sih. Tidak, kata guru olah raga," jelas Evi.

Sabtu (1/8/2026)

Kondisi korban mengalami muntah darah kondisi kesehatan turun. Kemudian Sabtu siang, sejumlah teman-teman yang juga kakak kelasnya, entah kenapa pada datang ke rumahnya.

"Jam 13.00 bocah-bocah ke sini banyak," kata Evi.

Dari percakapan itu diketahui anaknya mengalami kekerasan di sekolah. Kondisi korban makin memburuk dan kemudian dibawa ke rumah sakit.

"Setelah mereka pulang, anakku nafase sesak. Bengine (malamnya) ora karuan. Esuk-esuk (besoknya) tak gawa (RS), terus meninggal," jelas Evi.

Minggu (2/8/2026)

Korban kemudian ditempatkan di ruang ICU RS Mardotillah. Namun pada pukul 19.30 WIB korban dinyatakan meninggal dunia.

Simak juga Video 'Dikeroyok 13 Pelajar, Keluarga Siswi SMK di Lubuklinggau Lapor Polisi':

Halaman 2 dari 3
(alg/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads