Viral video berdurasi 30 detik memperlihatkan sekelompok orang bersimbah darah lantaran dimassa warga di Batang. Polisi mengungkap duduk perkaranya.
Diketahui, video itu diunggah di akun Instagram @pigura.warga.batang. Disebutkan dalam unggahan bahwa para pria itu adalah penjual kompor dan regulator yang menipu warga lanjut usia (lansia).
"Diduga Hendak Hipnotis Nenek dan Ambil Cincin, Dua Sales Kompor Diamankan Warga di Subah. Sales kompor diamankan anggota Polsek Subah setelah diduga terlibat dalam aksi percobaan mengambil perhiasan milik seorang nenek di Desa Gondang, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Selasa (29/9/2026)," tulis unggahan tersebut dilihat detikJateng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasat Reskrim Polresta Batang, Kompol Bintoro Thio Pratama mengatakan bahwa kelompok tersebut sebenarnya sales dari sebuah perusahaan regulator dan selang gas elpiji.
"Sekitar tujuh sampai delapan orang, dibagi menjadi empat tim. Empat orang di antaranya dua tim untuk menjual barang tersebut," kata Bintoro saat dimintai konfirmasi, Rabu (30/9/2026).
Bintoro mengatakan, insiden tersebut bermula dari transaksi penjualan regulator dan selang gas kepada seorang perempuan lanjut usia (lansia) di wilayah Subah. Menurutnya, terdapat sekitar 7 hingga 8 orang yang berada di lokasi dan terbagi dalam beberapa tim untuk menawarkan regulator serta selang gas kepada warga Desa Gondang, Kecamatan Subah.
Peristiwa bermula ketika salah satu tim menawarkan regulator dan selang gas kepada seorang warga lanjut usia di Dukuh Gondang, RT 3 RW 4, Desa Clapar, Kecamatan Subah.
Kepada korban, harga regulator dan selang gas yang ditawarkan disebut mencapai Rp 900 ribu. Karena tidak punya uang tunai, korban lantas menyerahkan kalung emas beserta suratnya kepada penjual.
Bintoro menerangkan, emas tersebut kemudian dijual seharga Rp 1,2 juta. Sehingga, selisih Rp 300 ribu seharusnya dikembalikan kepada korban.
"Seharusnya emas itu dijual, terus kalau ada sisa uangnya dikembalikan ke si Mbah. Kalau tidak salah dengar, emas itu laku Rp 1,2 juta. Berarti masih ada sisa Rp 300 ribu," ujar Bintoro.
Para Penjual Dicari-Dimassa
Karena selisih tersebut tidak kembali kepada korban, warga setempat pun bertanya-tanya. Massa selanjutnya mencari para penjual regulator dan selang gas yang masih berada di sekitar lokasi.
Bintoro menuturkan, penjualan itu terjadi pada Selasa (29/9) sekitar pukul 12.00 WIB. Adapun warga menghakimi para penjual pada sore harinya.
"Jadi kejadian siang, kemudian dicari warga. 'Mana yang jual, mana yang jual?', intinya dicari," jelasnya.
Beberapa orang dari rombongan penjual akhirnya ditemukan warga. Dalam kejadian tersebut, seluruh anggota rombongan yang berjumlah sekitar delapan orang disebut mengalami luka dengan tingkat berbeda.
Ada yang mengalami benjol, sementara sebagian lainnya mengalami luka hingga mengeluarkan darah.
Petugas Polsek dan Sat Reskrim yang datang ke lokasi kemudian membawa mereka ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan.
"Kalau di foto itu mungkin hampir semuanya. Ada yang benjol, ada yang sampai luka darah," katanya.
Dugaan Hipnotis
Bintoro menuturkan, terkait isu yang beredar di media sosial bahwa ada dugaan korban dihipnotis, pihaknya belum bisa memastikannya. Ia menyebut istilah hipnotis muncul karena korban merupakan seorang lansia berusia sekitar 77 tahun.
"Kalau bahasanya dihipnotis karena memang Mbah-mbah itu sudah tua, kalau tidak salah umur 77 tahun," ujarnya.
Namun, polisi menegaskan perkara tersebut masih dalam tahap penyelidikan. Termasuk mengenai sudah berapa lama para agen dari CV Glory Mega Makmur tersebut beroperasi di wilayah Batang, polisi masih melakukan pendalaman.
Dalam kesempatan itu Bintoro juga menyampaikan bahwa persoalan tersebut masih dimungkinkan diselesaikan melalui pendekatan restorative justice (RJ).
Ia mengatakan, pihaknya tetap melihat adanya persoalan dalam transaksi tersebut, khususnya terkait uang sisa hasil penjualan emas yang disebut belum dikembalikan kepada korban.
"Kalau saya boleh ngomong, sementara ada (dugaan pidana). Cuma kita tidak melulu harus ke pidana nantinya. Makanya tetap mengedepankan RJ dulu," ungkapnya.
Meski demikian, proses penyelidikan tetap dilakukan. Polisi juga mempertimbangkan kondisi karena peristiwa tersebut melibatkan banyak warga dan para penjual mengalami luka setelah diamuk massa.
"Masih dalam penyelidikan," tegas Bintoro.
Polisi mengimbau masyarakat agar tidak melakukan tindakan main hakim sendiri dan menyerahkan penanganan dugaan pelanggaran hukum kepada aparat berwenang.
Lihat juga Video 'Potret Pilu Lansia di Medan Tinggal di Rumah yang Hampir Ambruk':
(apu/ahr)
