Cerita Sopir Ambulans Hilir Mudik Antar Pasien Keracunan MBG di Batang

Cerita Sopir Ambulans Hilir Mudik Antar Pasien Keracunan MBG di Batang

Robby Bernardi - detikJateng
Jumat, 25 Sep 2026 20:47 WIB
Mustakim (baju merah) saat beraktivitas mengantarkan pasien keracunan di RSUD Kalisari Batang.
Mustakim (baju merah) saat beraktivitas mengantarkan pasien keracunan di RSUD Kalisari Batang. Foto: Robby Bernardi/detikJateng
Batang -

Ratusan orang mengalami keracunan usai menyantap Makan Gizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Suasana panik dan mencekam menjadi cerita tersendiri bagi para sopir ambulans yang hilir mudik mengangkut pasien ke fasilitas kesehatan.

"Sejak Rabu kemarin sore, Pak. Evakuasi pasien dari rumah, dari pondok, terus dibawa ke sini," kata Mustakim (35) di sela kesibukannya mengantar pasien ke RSUD Kalisari Batang, Kamis (24/9/2026).

Sejak Rabu siang (23/9) hingga malam, raung sirene ambulans terus memecah suasana dingin di Kecamatan Bawang, Batang. Kamis pagi (24/9), sirene ambulans kembali menyibak jalanan di Kecamatan Bawang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deretan ambulans bahkan sempat mengular hingga ratusan meter. Kendaraan-kendaraan itu silih berganti menjemput pasien dari rumah, pondok pesantren maupun lokasi lainnya, kemudian mengantarkan pasien ke puskesmas atau rumah sakit yang masih mampu menampung.

Kelompok Ambulans Alas Roban (KAAR) mencatat sekitar 80 unit ambulans ikut terlibat dan bergerak membantu penanganan ratusan pasien akibat keracunan massal di Bawang itu.

ADVERTISEMENT

Armada itu berasal dari berbagai unsur. Mulai dari ambulans desa, LazisMu, LazisNU, hingga sejumlah ambulans dari luar Batang seperti Sukoharjo, Plantungan, dan Kendal.

Mustakim menceritakan, sejak Rabu siang (23/9), ia habiskan waktunya untuk mengantar dan menjemput pasien. Tidak berhenti sampai di Puskesmas saja, karena setelah itu pasien kemudian dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan. Ada yang menuju Puskesmas Bandar, Subah, Gringsing, RSUD Limpung hingga terjauh ke RSUD Batang.

"Kemarin pas puncak-puncaknya, satu armada ambulans bisa antar pasien bisa sampai enam hingga delapan kali," kata Mustakim.

Mustakim dan sejumlah pengemudi ambulan stanby di depan Puskemas Bawang, Kamis (25/09).Mustakim dan sejumlah pengemudi ambulan stanby di depan Puskemas Bawang, Kamis (25/09). Foto: Robby Bernardi/detikJateng

Begitu selesai mengantarkan pasien ke rumah sakit, mereka tidak langsung pulang. Komunitas ambulan ini memiliki grup WhatsApp untuk koordinasi. Begitu ada informasi keberadaan pasien lain yang membutuhkan pertolongan, mereka segera kembali ke Bawang.

"Menjemput pasien, mengantar, menunggu kembali lagi. Menjemput pasien berikutnya," ungkapnya.

"Belum sempat pulang, belum mandi juga dua hari, Rabu-Kamis," ujar Mustakim ketika ditanya apakah sempat pulang ke rumah.

Pada Kamis siang (24/9), Mustakim baru saja menjemput tiga pasien dari rumah. Dua di antaranya balita dan satu orang dewasa. Ketiganya kemudian dibawa ke Puskesmas Bawang. Salah seorang pasien langsung dirujuk ke RSUD Batang.

Situasi pada Rabu malam (23/9), menjadi salah satu momen yang paling melekat dalam ingatan para sopir ambulans. Jumlah pasien yang harus dievakuasi begitu banyak, jumlah ambulans yang hilir mudik sampai 80 unit.

"Antrean ambulans di sini sampai pom bensin," kata Mustakim.

Dalam kondisi seperti itu, para sopir tidak hanya menghadapi kemacetan. Mereka juga menghadapi tekanan karena setiap menit sangat berarti bagi pasien yang berada di dalam kendaraannya.

Terpisah, Suparno, atau yang akrab dipanggil Mbah Parno, koordinator Kelompok Ambulans Alas Roban mengatakan mayoritas armada yang bergerak merupakan ambulans desa. Ada juga dari sejumlah yayasan lainnya. Namun, dari ambulans desa ini para pengemudinya juga banyak yang berasal dari perangkat desa.

Untuk kebutuhan bahan bakar, sejak awal para sopir menggunakan uang pribadi. Mereka dari awal memang menjalankan tugas demi kemanusiaan. Ketika mobil terus bergerak selama berhari-hari, uang saku para sopir akhirnya ikut menipis.

"Ya kesana kemari kita ya ongkos pakai pribadi. Bukan soal itunya ini memang panggilan jiwa, demi sebuah nyawa orang," kata Mbah Parno saat dihubungi melalui telepon, Jumat (26/9/2026)

Di saat yang sama, permintaan evakuasi pasien masih terus berdatangan. Mbah Parno kemudian mengambil keputusan. Ia menggunakan uang tabungannya sendiri.

Atas dasar rasa solidaritas antar pengemudi ambulans, ia mengambil uang pribadi untuk dibagikan ke pengemudi yang lain, guna menambah isi BBM. Meskipun, diakuinya tidak akan cukup, namun setidaknya ambulans masih bisa bergerak.

"Alhamdulillah, saya punya tabungan pribadi. Saya ambil, yang penting ayo, tak bagikan ke teman-teman ambulans. Tak kasih sementara per orangnya Rp 150 ribu buat beli BBM. Tidak akan cukup jelas itu. Setidaknya bisa bertahan di tugas kemanusiaan ini," tuturnya.

"Intinya gimana lah, yang penting mobil kita bisa jalan, kan harus ada BBM," tambah Mbah Parno.

detikJateng mencoba melakukan penghitungan jarak dan tempuh waktu perjalanan dari Puskesmas Bawang hingga terjauh di RSUD Kalisari, Batang. Untuk perjalanan dari Puskesmas Bawang hingga RSUD Kalisari Batang, jaraknya sekitar 43,5 kilometer sekali jalan dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 22 menit dalam kondisi berkendara normal. Artinya, perjalanan pergi-pulang bisa menempuh sekitar 87 kilometer.

Dan itu belum menghitung perjalanan lain untuk menjemput pasien dari rumah, mengantar ke fasilitas kesehatan lain maupun kembali ke Bawang.

Sementara satu, menurut Parno, ambulans bisa melakukan tiga, empat kali bahkan hingga 6 kali perjalanan dalam sehari.

Mbah Parno mengaku selama dua hari dua malam hampir tidak memiliki waktu untuk benar-benar beristirahat. Ia baru pulang sekitar tengah malam.

Belum sempat istirahat, pada Kamis (25/9) sekitar pukul 23.30 WIB, ia kembali mendapat permintaan evakuasi. Kali ini, delapan anak dari sebuah pondok di Kecamatan Bawang harus diantar ke Kecamatan Reban menggunakan dua unit ambulans.

"Begitu kondisi sudah mendingan, sembuh dari gejala keracunan, kita antar juga sampai rumah," katanya.

"Terus terang saya pun dua hari dua malam ini, saya pulang itu jam 12 (malam)," lanjutnya.

Mbah Parno menyebut, hingga Jumat (26/08), kebutuhan evakuasi belum sepenuhnya berhenti. Ia mengaku masih menerima permintaan ambulans.

"Pagi itu saja, mendapat telepon untuk mengerahkan lima unit ambulans ke Puskesmas Bawang, untuk pasien rujukan," katanya.

Bahkan setelah mengantar pasien pun, para pengemudi ambulans ini masih diminta menjemput pasien yang diperbolehkan pulang untuk dibawa kembali ke Bawang.

Pendataan bantuan bagi para pengemudi ambulans, diakuinya, memang mulai dilakukan oleh pihak instansi terkait. Namun, bagi para sopir di lapangan, kebutuhan BBM tidak bisa menunggu proses birokrasi dan administrasi selesai.

Mbah Parno berkata, saat suara sirene terdengar di jalanan, itu adalah tanda bahwa masih ada manusia yang tengah berjuang untuk manusia lainnya.

"Kami hanya berharap pada pengendara kendaraan lain di jalanan, kalau menemukan ada mobil ambulans yang menyalakan sirene, agar memberi kesempatan melintas," pungkasnya.

Untuk diketahui, dari data pukul 13.00 WIB siang tadi, Dinkes Kabupaten Batang mencatat total korban keracunan mencapai 521 orang. Dari jumlah tersebut, 173 orang dirujuk dari Puskesmas Bawang, 23 orang dirawat inap, dan 326 orang berstatus rawat jalan. Jumlah pasien rawat jalan ini mengalami peningkatan, sebelumnya 319 orang.

"Update hari Jumat, 25 September 2026, pukul 13.00 WIB, jumlah pasien 521," kata Kepala Dinkes Batang, Ida Susilaksmi, melalui pesan singkat, Jumat (25/9/2026) sore.

Halaman 2 dari 2
(alg/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads