Sekda Jateng Ungkap Pemicu Munculnya Bakteri di MBG Sebabkan Keracunan

Sekda Jateng Ungkap Pemicu Munculnya Bakteri di MBG Sebabkan Keracunan

Jarmaji - detikJateng
Minggu, 30 Agu 2026 12:46 WIB
Sekda Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, saat di Boyolali, Minggu (30/8/2026).
Sekda Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, saat di Boyolali, Minggu (30/8/2026). Foto: Jarmaji/detikJateng
Boyolali -

Kasus keracunan menu Makan Berfizi Gratis (MBG), yang dialami siswa terjadi di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menyoroti terkait volume dan kapasitas SPPG.

Sumarno mengatakan, bahwa di setiap dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah ada pengelolanya. Juga ada ahli gizinya. Kasus keracunan yang muncul tersebut, harusnya pengelola melakukan asesmen dengan baik.

"Tentu saja di MBG itu kan sudah ada mereka yang ada di sana. Ada pengelolanya, ada ahli gizinya. Lha inilah yang tentu saja harusnya mereka bisa mengasesmen dengan baik," kata Sekda Provinsi Jateng, Sumarno, kepada para wartawan disela-sela kegiatan Frienship Run di Alun-alun Kidul Boyolali, Minggu (30/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sumarno mengemukakan, sebelumnya dirinya pernah menyampaikan terkait dengan MBG ini adalah masalah volume atau kapasitas. Menurut dia, kapasitas ini lah yang seharusnya benar-benar diukur. Volume ini tidak hanya masalah jumlah porsi yang dimasak. Namun juga jarak tempuh ke titik distribusi penerima manfaat.

"Inilah yang mungkin ini Pak Kepala BGN, Pak Daryono kayaknya juga lagi membangun untuk tata kelola yang lebih baik. Kebetulan salah satu deputinya adalah teman saya dulu dari BPKP. Saya juga sering berdiskusi untuk perbaikan tata kelola ini," ujar dia.

ADVERTISEMENT

"Karena sebetulnya kan ini harusnya kan ada peta ya, untuk wilayah segini, ada titik di sini. Karena mungkin dengan kapasitas 3.000 sampai 3.500 (porsi) itu cukup besar ya. Kalau bukan punya pengalaman catering itu mungkin agak berat ya. Sehingga itu tentu saja dengan mengejar waktu itu, kadang asesmennya agak kurang ya," lanjut dia.

Sumarno juga mengemukakan, Pemprov Jateng pernah mengusulkan agar penyaluran MBG ini melibatkan kantin sekolah. Hal ini karena di Jawa Tengah sudah ada program kantin sehat yang bekerja sama dengan BPOM.

"Sehingga tentu saja kalau di sekolah itu volumenya hanya di sekolah, bahkan para guru pun bisa mengawasi. Bahkan mungkin orang tua murid pun bisa, komite sekolah bisa ngawasi, sehingga tentu lebih baik. Tapi secara konsep itu mungkin dianggap terlalu kecil," jelasnya.

Dari sejumlah kasus keracunan MBG tersebut, pihaknya memberikan saran terkait dengan volume ini bisa menjadi catatan. Pihaknya membandingkan, di Boyolali jika ada warga yang mantu (menikahkan anak), dengan tamu 1.500 orang, maka yang bergotong-royong memasak bisa warga satu desa.

"Kalau saran kami dari kejadian-kejadian itu (keracunan) mungkin masalah volume ini menjadi catatan. Mungkin kita, kalau saya di Boyolali itu ya kalau orang mantu dengan tamu 1.500, itu yang rewang itu sak desa (satu desa) rewang semua itu, ikut masak. Itu pembanding lah," paparnya.

Lebih lanjut Sumarno mengatakan, evaluasi terkait volume hingga jarak distribusi ini penting. Karena dari hasil tes laboratorium kasus keracunan MBG yang terjadi, bakteri yang ditemukan pada menu tersebut muncul karena jarak dari waktu sejak disiapkan, dimasak sampai disajikan.

"Karena kejadian-kejadian kemarin kita dari lab itu kan bakteri, ada yang ditemukan bakteri dan sebagainya itu, muncul karena dari jarak, dari waktu sejak disiapkan, sejak dimasak sampai disajikan, sehingga sudah muncul-muncul bakteri. Berarti kan bicara masalah volume," tandas Sumarno.

Diberitakan sebelumnya, dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Boyolali. Dialami oleh seratusan siswa SMP Negeri 6 dan SMP Negeri 2 Boyolali.

"Untuk yang sakit hari ini tadi terdata 96 anak," kata Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMPN 6 Boyolali, Marsih Sri Hartini, ditemui di sekolah tersebut Jumat (21/8).

Selain itu, jelas dia, juga terdapat 3 guru dan satu pegawai Tata Usaha yang mengeluhkan gejala keracunan. Marsih juga mengaku, mengalaki gejala keracunan.

"Gurunya ada 3, TU satu (mengalami gejala keracunan). Kebetulan saya sendiri juga tadi habis ngajar saya juga diare. Maka terus saya mendahului pulang sebentar, terus kesini lagi," ungkapnya.

Kemudian terdapat 26 siswa izin tidak masuk sekolah karena sakit. Namun belum terkonfirmasi, 26 anak tersebut apakah juga mengalami gejala keracunan.

Marsih mengatakan, dugaan keracunan itu diduga dari menu MBG yang disantap siswa pada Kamis (20/8). Pada Jumat (21/8) pagi pihak sekolah mendapat laporan dan keluhan dari para siswa, bahwa mereka mengeluhkan sakit perut dan diare.

Menu yang disajikan pada Kamis yakni nasi putih, sop berisi makaroni, jamur, wortel, ayam iris. Lalu lauknya tahu pong dan buah kelengkeng.

Pihak sekolah kemudian melaporkan dugaan keracunan itu ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siswodipuran 2 yang menyuplai MBG ke sekolah tersebut. Dari SPPG yang melapor ke Dinas Kesehatan.

Pihak sekolah selanjutnya juga melapor ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali. Petugas medis dari Puskesmas Boyolali I, kemudian mendatangi SMPN 6 Boyolali dan melakukan pemeriksaan kesehatan kepada siswa yang sakit.

Kepala SMPN 2 Boyolali, Siyamto Budi, mengatakan ada sejumlah siswa yang mengalami keluhan sakit perut dan diare. Hari Kamis kemarin ada 3 siswa dan hari ini ada 4 siswa. Mereka masuk sekolah dan tidak sampai dibawa ke Puskesmas.

"Kemarin ada 3, hari ini ada 4. Itupun anaknya yang kemarin salah satunya," kata dia.

Dinas Kesehatan Boyolali, kemudian mendatangi SMPN 6 Boyolali untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan epidemiologi.

Kris menyatakan sudah mengambil sampel menu MBG yang disajikan kemarin. Sampel dikirim ke Labkesmas di Semarang, untuk diperiksa penyebab keracunan tersebut.

"Untuk sampelnya itu sudah kami kirimkan ke Labkesmas yang ada di Semarang. Jadi, kami juga menunggu hasil dari Labkesmas Semarang itu," tegasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Soal Keracunan Di SMAN 1 Lasem, DPRD Rembang : Belum Tentu Karena MBG"
[Gambas:Video 20detik] (apl/apl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads