Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Tengah (Jateng) telah mencapai 520 hektare (ha). Kebakaran disebut paling banyak terjadi karena pembakaran lahan tebu.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Penataan Lingkungan Hidup dan Perlindungan Hutan DLHK Jateng, Soegiharto. Ia mengatakan, berdasarkan laporan yang dihimpun hingga 24 Agustus 2026, terdapat 232 kejadian karhutla.
"Dari Januari sampai Agustus, jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan 232 kali. Luas hutan dan lahan yang terbakar mencapai 520,2 ha. Terdiri dari hutan negara 326,2 ha dan lahan masyarakat 194 ha," kata Soegiharto saat dihubungi detikJateng, Minggu (30/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengucapkan, dari 232 kejadian kebakaran, 202 kejadian terjadi di hutan negara. Sedangkan 30 kejadian lainnya terjadi di lahan masyarakat.
"Tutupan hutan dan lahan yang terbakar di antaranya hutan tanaman jati, tanaman tebu, semak belukar, dan hutan rakyat," urainya.
"Yang paling banyak (terbakar) di lahan-lahan tebu, terus hutan produksi yang jati itu biasanya yang bawah dibakar. Itu lumayan banyak," lanjutnya.
Soegiharto mengungkapkan, kebakaran lahan tebu banyak terjadi saat proses persiapan lahan. Batang dan sisa tanaman yang telah dibabat kemudian dibakar.
"Misalnya mau menanam tebu, kan dibabat dulu, terus dibakar," jelasnya.
Kebakaran lahan tebu tersebut, lanjutnya, tersebar di sejumlah daerah di Jateng secara merata. Mulai dari Blora hingga Pemalang.
"Yang kebakaran lahan tebu hampir semua. Blora, Pati, Grobogan, Sragen, Wonogiri juga lumayan banyak. Klaten, hutannya sedikit tapi lumayan, berarti yang terbakar hutan rakyat. Terus sisi selatan ada Pemalang, Kendal, Kabupaten Semarang," urainya.
Selain itu, Soegiharto menyebut, sebagian besar karhutla di Jateng diduga dipicu aktivitas manusia. Namun, dia mengatakan tidak semua kebakaran dilakukan dengan sengaja.
kemudian ditinggalkan.
"Beberapa yang tidak sengaja. Misalnya membakar di bagian pinggir, terus ditinggal, lupa, terus merembet ke mana-mana," ujarnya.
Kondisi cuaca yang kering juga disebut membuat api lebih mudah menyebar. Soegiharto mengatakan, faktor El Nino turut memperparah terjadinya karhutla di Jateng.
"Sekarang benar-benar kering sekali. Sehingga api kecil pun sudah bisa menyulut cukup banyak," katanya.
Adapun, berdasarkan data DLHK Jateng, karhutla di Jateng diperkirakan menimbulkan kerugian sekitar Rp 2,4 miliar. Sejauh ini, kata Soegiharto, tak ada korban jiwa dari kejadian karhutla di Jateng.
"Kerugiannya diperkirakan mencapai Rp 2,4 miliar. Terdiri dari Rp 1,66 miliar dari lahan masyarakat dan Rp 737,5 juta di hutan negara," jelasnya.
Pihaknya juga mewaspadai potensi kebakaran di hutan alam, terutama di wilayah pegunungan. Gunung Lawu, Sindoro-Sumbing, hingga sejumlah kawasan pegunungan lainnya, kata Soegiharto, perlu mendapat perhatian.
"Kalau di hutan-hutan itu masih hutan alam asli. Asal tidak ada yang menyulut, insyaallah aman. Tapi kami agak khawatir kalau itu terjadi di hutan-hutan alam, karena agak berbahaya," tuturnya.
"Kami dengan teman-teman di lapangan sudah meningkatkan patroli, mencegah. Karena sebagian besar penyebabnya manusia," sambungnya.
