Pilu Murid SMP Pekalongan Dikeroyok hingga Koma Perkara Cewek

Pilu Murid SMP Pekalongan Dikeroyok hingga Koma Perkara Cewek

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 15 Agu 2026 06:31 WIB
Kondisi siswa SMPN di Pekalongan korban pengeroyokan.
Kondisi siswa SMPN di Pekalongan korban pengeroyokan. Foto: dok. detikJateng
Solo -

Insiden pengeroyokan menimpa seorang murid kelas 9 SMP Negeri 6 Kota Pekalongan berinisial F (15). Korban koma dianiaya teman sekolah hanya karena persoalan perempuan.

Perwakilan SMP Negeri 6 Kota Pekalongan, Qurratiani, didampingi Kepala SMPN 6 Kota Pekalongan, Ika, mengatakan pihak sekolah mengetahui kejadian tersebut setelah mendapat laporan dari orang tua korban pada Kamis (13/8) siang, usai korban pulang sekolah.

"Dengan adanya laporan ini ada ananda bernama F yang kebetulan dipukul oleh temannya, dua temannya, di saat jam istirahat sekolah. Setelah pulang sekolah, orang tuanya mengonfirmasi ke kami dan ada luka fisik," ujar Ani saat ditemui detikJateng di RSUD Bendan, Jumat (14/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perkara Asmara

Qurratiani menerangkan, pengeroyokan tersebut berawal korban yang berpacaran dengan adik kelasnya.

ADVERTISEMENT

"Bahwa si korban F (AAF), ini mungkin memiliki teman dekat, dan teman dekat itu lawan jenis (R). Sementara di lawan temannya itu tadi, masih punya cerita berlanjut dengan mantannya," tuturnya.

Qurratiani berkata, R mengadu kepada korban bahwa dirinya sering diganggu mantannya yang sekelas dengannya di kelas 8.

Karena itu, korban meminta kepada mantan pacar R untuk tidak lagi mengganggu. Namun, peringatan itu ternyata dilaporkan ke murid kelas 9.

"Dan di situ biasa mungkin ada gejolak-gejolak rasa suka yang masih belum move on, yang satunya ingin memiliki, akhirnya terjadi komunikasi lewat media sosial yang mungkin membuat trigger untuk pada akhirnya si anak (mantan pacar R) ini mungkin memberi tahu temannya bahwa dia merasa terancam dan seterusnya," jelas Ani.

Saat jam istirahat pada Kamis (13/8) pukul 09.30 WIB, korban mendapat pesan singkat untuk ke kamar mandi sekolah. Di situlah terjadi cekcok hingga terjadi pengeroyokan.

"Pada hari H kejadian itu, pada awalnya mengundang si anak ini (korban) untuk bertemu untuk mengkonfirmasi 'maksudnya apa sih yang (telah) di WA itu'. Tapi karena mungkin ada persinggungan fisik, pada akhirnya mungkin saling tidak terima, maka terjadi kontak fisik yang seperti itu, yang berakhir dengan anak ini posisi sekarang masih dalam pemantauan kesehatan," jelasnya.

Ani menyebut ada tiga orang yang menemui korban di toilet sekolah saat jam istirahat itu.

"Yang terlibat dalam pertemuan itu sebenarnya ada tiga orang. Tapi yang melakukan kontak fisik adalah dua orang," jelas Ani.

Terpisah, Kapolsek Pekalongan Timur, Kompol Tri Handayani, menyebutkan tiga orang yang terlibat pengeroyokan berinisial A dari kelas 9 B, serta G dan F dari kelas 9 F.

"Jadi intinya, ada hubungan yang terganggu oleh mantannya. Kemudian si mantan ini diingatkan oleh korban agar tidak mengganggu ceweknya. Mantannya kemudian melaporkan ke kakak kelasnya, yang sama-sama kelas 9 dengan korbannya, karena terancam hingga tidak sekolah," kata Tri Handayani saat ditemui di Mapolsek Pekalongan Timur.

Dia menjelaskan komunikasi korban dan pelaku itu dilakukan via WhatsApp yang berlanjut dengan pertemuan di toilet. Pihaknya pun berharap kasus ini bisa selesai dengan kekeluargaan.

"Kejadiannya usai olahraga saat istirahat. Tapi, setelah kejadian korban ini masih mengikuti pelajaran hingga pulang sekolah, terus sakit," jelas Tri Handayani.

Perwakilan SMPN 6 Kota Pekalongan, Qurratiani, didampingi Kepala SMPN 6 Kota Pekalongan, Ika,, Jumat (14/8/2026).Perwakilan SMPN 6 Kota Pekalongan, Qurratiani, didampingi Kepala SMPN 6 Kota Pekalongan, Ika,, Jumat (14/8/2026). Foto: Robby Bernardi/detikJateng

Salah Satu Pelaku Jago Beladiri

Perwakilan SMPN 6 Kota Pekalongan Qurratiani melanjutkan, salah satu pelaku pengeroyokan diketahui jago taekwondo.

"Ya kebetulan anak itu (pelaku) punya prestasi memang di bidang beladiri," ungkapnya.

Qurratiani mengatakan pihak sekolah telah memanggil orang tua ataupun keluarga dari para siswa yang terlibat dalam kasus tersebut.

"Prioritas saat ini keselamatan anak. Yang kedua, ini tahapan kami adalah mengonfirmasi semua orang-orang atau anak-anak yang kebetulan menjadi trigger kejadian ini," ujar dia.

"Pagi ini (Jumat) tadi sudah kami undang semua untuk anak-anaknya. Baik tadi si anak yang temannya tadi maupun anak-anak yang beradu fisik dengan si anak F ini. Pihak orang tua dari si yang kontak fisik pun alhamdulillah kami sudah undang," sambungnya.

Kondisi Korban Membaik

Dokter Bair Ginting yang menangani korban menuturkan, F sempat koma saat dilarikan ke rumah sakit. Sempat mengalami penurunan kesadaran hingga koma akibat benturan keras di kepala, kini kondisi korban membaik.

"Waktu (pasien) masuk saya dilaporkan kondisinya itu koma. Kemudian dalam perjalanannya setelah kita berikan obat-obatan, kemudian diberikan oksigen, kondisinya perlahan membaik," ucap dokter Bair.

Dari hasil pemeriksaan CT-scan, dokter menyebut tidak ditemukan adanya perdarahan maupun memar pada otak.

"Hasil CT-scan-nya cukup baik, jadi artinya tidak ada perdarahan atau tidak ada memar di sana," jelasnya.

Dokter menduga kondisi yang dialami F lebih berkaitan dengan efek benturan keras pada kepala.

Terkait informasi mengenai kemungkinan adanya keretakan pada tulang tengkorak, dokter menjelaskan bahwa kondisi tersebut memang dapat terjadi akibat benturan keras. Namun, keretakan tulang tengkorak tidak selalu menjadi kondisi yang mengancam jiwa.

"Retak tulang tengkorak itu bukan sesuatu yang berbahaya atau bukan sesuatu yang mengancam jiwa. Yang berbahaya itu justru kalau terjadi perdarahan di dalam otaknya," terangnya.

Halaman 2 dari 2
(apu/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads