Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Taj Yasin Maimoen merespons soal Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jati, Desa Jati, Jaten, Karanganyar, yang keracunan usai mencicipi menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Taj Yasin yang menjabat Ketua Tim Percepatan MBG Jateng itu mengatakan, Kepala SPPG Jati yang mencicipi menu MBG hingga mengalami mual dan muntah itu sebagai contoh yang bagus.
"Bagus, kalau dilakukan seperti itu artinya bertanggung jawab," kata Taj Yasin yang akrab disapa Gus Yasin saat ditemui di Kantor Pemprov Jateng, Jumat (14/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, Kepala SPPG Jati itu telah menunjukkan pertanggungjawaban dengan mencoba menu MBG yang dinilai tidak layak makan.
"Itu diperlihatkan bahwa keterjaminan kelayakan makanan itu baik, itu lebih kita periksa. Kita apresiasi ya," ucapnya.
Taj Yasin menambahkan, berdasarkan pidato Presiden RI Prabowo Subianto hari ini, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap keberlangsungan program MBG.
"Tadi sesuai instruksi Bapak Presiden, MBG tetap berjalan, akan tetapi tetap pada perbaikan. Perbaikan ini ketika ada kesalahpahaman, penyalahgunaan, atau kewenangan terkait menu-menu yang tidak layak dikonsumsi, apalagi menyampaikan keracunan, akan kita tindak bersama," jelasnya.
Sebelumnya diberitakan, Kepala SPPG Jati, Desa Jati, Jaten, Karanganyar, Abra Yodha Raya, mengaku sempat mual hingga muntah saat mencicipi salah satu menu MBG. Ayam yang menjadi menu itu dibuang setelah diketahui tidak layak dikonsumsi.
Abra menceritakan kejadian yang menimpanya pada Rabu (12/8), usai SPPG menerima laporan dari tim dapur bahwa menu ayam rempah yang diolah berbau mencurigakan. Dia pun berinisiatif mencicipi sebelum menunya dibagikan.
"Saya dapat laporan dari dapur, dari chef-nya bilang, 'Pak ini coba dirasakan sama dibau, ini kalau dari saya ada agak aneh'. Ahli gizi juga sudah merasakan, laporan ke saya, terus saya turun tangan," kata Abra saat ditemui detikJateng di SPPG Jati, Jaten, Karanganyar, Kamis (13/8).
Saat itu ada 10 orang yang ikut mencicip. Namun, hanya Abra yang mengalami mual hingga muntah.
"Kalau saya kemarin iya (muntah-muntah) sama mual dan pusing. Yang mencicip ada saya, pengolahan tuh semua, ada ahli gizi, jadi sekitar 10 orang. Yang lain nggak apa-apa," ucapnya.
"Rasa itu enak, karena apa? Ketutup rempah, tapi dari aroma nggak bisa dibohongi, Mas. Aromanya memang beda, agak kecut gitu. Kalau di organoleptik itu ada 1 sampai 5 nggih, itu kita kasih nilai 2, jadi rendah. Makanya dari situ uji organo yang tidak masuk, otomatis saya merasakan gitu," sambungnya.
Abra kemudian menduga mual hingga muntah tersebut disebabkan dia sebelumnya menjalani banyak aktivitas.
"Mungkin bisa jadi itu karena saya sorenya habis sepakbola pol-polan sampai lemas terus paginya kan jaga di sini, jadwal piket juga di sini. Kalau piket otomatis nggak tidur, nah mungkin efek itu juga bisa," terangnya.
Ia melanjutkan, menu ayam rempah itu dimasak untuk batch dua sebanyak 300 porsi. Begitu ada temuan ayam rempah berbau aneh, distribusinya langsung dibatalkan.
"Menu ayam rempah cuma beberapa baskom, satu sampai dua baskom tadi, cuma 300-an porsi. Batch pertama juga 300 penerima dan itu aman. Jadi yang bermasalah itu yang kedua, batch kedua itu belum kita bagikan," tegasnya.
Dirinya mengakui memang sebanyak 300 porsi yang sudah dibagikan ditarik kembali. Hal itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi dari SPPG.
"Batch pertama. Jadi sudah ada yang dimakan, ada yang belum, itu pokoknya ditarik semua. Itu langkah antisipasi. Bukan itu yang bahaya nggak, tapi itu langkah antisipasi kami seperti itu. Jagani (berjaga-jaga)," bebernya.
Abra melanjutkan, selain menarik lagi 300 porsi batch 2, ayam rempah yang sudah dimasak sebagai menu MBG itu langsung dibuang atau dimusnahkan. Ia menyebut kerugian akan ditanggung pihak mitra.
