Hasil Ekshumasi Jenazah Sutrimo Diketahui 2-3 Pekan Mendatang

Hasil Ekshumasi Jenazah Sutrimo Diketahui 2-3 Pekan Mendatang

Anang Firmansyah - detikJateng
Rabu, 12 Agu 2026 19:47 WIB
Suasana makam Sutrimo jelang ekshumasi di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Selasa (11/8/2026).
Suasana makam Sutrimo jelang ekshumasi di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Selasa (11/8/2026). Foto: Anang Firmansyah/detikJateng
Banyumas -

Proses ekshumasi makam Sutrimo di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, telah selesai. Ketua Tim Dokter Forensik, Prof Ahmad Yudianto mengatakan pemeriksaan laboratorium membutuhkan waktu sekitar 2-3 pekan

"Perkiraan antara sekitar 2-3 minggu. Itu artinya pemeriksaan laboratoriumnya bisa terselesaikan semua," kata Ahmad saat konferensi pers di Mapolresta Banyumas, Rabu (12/8/2026).

Ahmad menjelaskan, lamanya proses pemeriksaan disebabkan jumlah sampel yang cukup banyak dan kondisi jenazah yang telah dimakamkan selama hampir tiga pekan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sutrimo diketahui dimakamkan pada 23 Juli 2026. Dalam ilmu kedokteran forensik, kondisi tersebut telah masuk dalam proses pembusukan lanjut sehingga pemeriksaan secara visual menjadi lebih sulit.

"Seperti diketahui bahwasanya jenazah ini telah dikubur pada tanggal 23 Juli. Jadi sudah hampir tiga minggu. Di ilmu kedokteran forensik ini sudah masuk pada proses pembusukan lanjut," jelas Ahmad.

ADVERTISEMENT

"Sehingga secara visual itu hampir semua sama, warna-warnanya dan semuanya. Sehingga ini perlu dilakukan pemeriksaan secara laboratorium secara mendetail," imbuhnya.

Ahmad menegaskan, tim belum akan menyampaikan kesimpulan mengenai penyebab kematian Sutrimo sebelum seluruh pemeriksaan laboratorium selesai.

"Sehingga sudah sampai sekali ini proses untuk finalisasi masih tetap berlangsung, menunggu sampai hasil dari pemeriksaan laboratorium tersebut yaitu pemeriksaan histopatologi, pemeriksaan toksikologi, dan pemeriksaan DNA," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, tim dokter forensik telah menyelesaikan ekshumasi dan autopsi jenazah Sutrimo di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas. Dari pemeriksaan luar dan dalam secara visual, tim tidak menemukan tanda-tanda luka akibat kekerasan benda tumpul maupun senjata tajam.

Ketua Tim Dokter Forensik, Prof Ahmad Yudianto, mengatakan pemeriksaan belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematian Sutrimo. Sebab, tim mengambil puluhan sampel dari berbagai bagian tubuh untuk diperiksa di laboratorium.

Dari hasil pemeriksaan, tim memastikan jenazah yang diperiksa merupakan laki-laki dengan perkiraan usia sekitar 40 tahun dan panjang badan 166 sentimeter.

"Dari hasil pemeriksaan kami, dari hasil ekshumasi dan autopsi, bahwasanya yang kami periksa itu adalah jenazah laki-laki umur sekitar 40 tahun dengan panjang badan 166 cm," kata Ahmad kepada wartawan di Mapolresta Banyumas, Rabu (12/8).

Namun, dalam pemeriksaan luar maupun dalam, tim tidak menemukan tanda-tanda luka yang secara visual menunjukkan adanya kekerasan benda tumpul ataupun senjata tajam.

"Dari hasil pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam, secara visual kami tidak mendapatkan tanda-tanda luka yang diakibatkan oleh kekerasan benda tumpul maupun senjata tajam," ujarnya.

Meski demikian, temuan tersebut belum cukup untuk menentukan penyebab kematian Sutrimo. Tim masih melakukan pemeriksaan lanjutan melalui tiga jenis pemeriksaan laboratorium, yakni histopatologi, toksikologi, dan DNA.

Pemeriksaan histopatologi dilakukan untuk memeriksa jaringan tubuh. Sementara pemeriksaan toksikologi dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya racun atau zat tertentu dalam tubuh. Adapun pemeriksaan DNA dilakukan untuk kepentingan identifikasi sekaligus melengkapi pemeriksaan penyebab kematian.

"Untuk itu kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut guna mengambil sampel-sampel untuk memastikan mencari penyebab pasti kematian," katanya.

Ahmad mengatakan, sampel yang diambil bukan hanya berasal dari satu atau dua bagian tubuh. Tim mengambil sampel dari berbagai bagian tubuh, mulai dari kepala hingga bagian tubuh bawah.

"Mulai dari kulit yang kami curigai, di situ ada kelainan, kami ambil. Dan juga termasuk swab, dan termasuk isi organ-organ dalam, seperti lambung dan juga ada jantung," ungkapnya.

Menurut Ahmad, ada puluhan sampel yang dikumpulkan dalam proses tersebut. Sampel-sampel itu kemudian akan diperiksa secara mendetail di laboratorium.

"Kami mengupayakan semaksimal mungkin untuk mengungkap kasus ini, untuk menentukan sebab kematiannya secara scientific dan ilmiah. Jadi kalau tidak salah itu, ada puluhan sampel yang kami ambil," tuturnya.



(dil/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads