Sederet Kecurigaan Keluarga atas Kematian Sutrimo

Round-Up

Sederet Kecurigaan Keluarga atas Kematian Sutrimo

Tim detikJateng - detikJateng
Selasa, 11 Agu 2026 05:02 WIB
Polisi masih mendalami penyebab tewasnya pria bernama Sutrimo di depan klinik kecantikan Mordent di Jaksel. Penyebab kematian Sutrimo masih belum diketahui. (Adhfar/detikcom)
Foto: Polisi masih mendalami penyebab tewasnya pria bernama Sutrimo di depan klinik kecantikan Mordent di Jaksel. Penyebab kematian Sutrimo masih belum diketahui. (Adhfar/detikcom)
Solo -

Sutrimo, seorang pria asal Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, ditemukan tewas di depan klinik kecantikan Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel). Pihak keluarga pun mencurigai kematian almarhum.

Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengungkapkan awalnya pihak famili tidak mencurigai kematian Sutrimo. Namun, berbagai kabar simpang siur lama kelamaan membuat mereka curiga.

Apalagi, Sutrimo ditemukan dalam kondisi mulut berbusa di depan klinik Mordent di Kebayoran Baru, Jaksel, pada Kamis (23/7) lalu. Karena itu, keluarga mempertanyakan mulai dari dokumen dari rumah sakit, kondisi jenazah, hingga soal ponsel dan barang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayat sudah dikafani, sudah bersih, dan tidak ada yang mencurigakan," kata Aan saat dihubungi wartawan melalui telepon, Senin (10/8/2026).

ADVERTISEMENT

Berawal Ponsel dan Dompet yang Belum Kembali

Aan menuturkan, begitu datang, jenazah Sutrimo langsung dimakamkan. Saat itu, mereka mendapat kabar bahwa gula darah almarhum menembus 600. Diketahui, Sutrimo mempunyai riwayat penyakit gula.

"Mereka datang jam 10 (malam) itu ya langsung dikubur. Tidak ada kecurigaan apa pun awalnya," ujarnya.

Pihak keluarga diberi tahu bahwa barang pribadi almarhum seperti ponsel akan dikirimkan menyusul. Namun, selang beberapa"Beberapa hari kemudian kan ada berita dan lain-lain. Pihak keluarga ya di satu sisi merasa, ini ada apa sih," ucap Aan.

Aan mengatakan, keluarga juga berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi mereka mulai merasakan adanya kejanggalan, tetapi di sisi lain mereka takut berhadapan dengan perkara besar.

"Karena ini berkaitan dengan tokoh besar dan perkara besar yang ada di Indonesia. Mereka menyadari kalau misalnya nanti ada laporan, keluarga pasti direpotkan. Mereka ketakutan," kata dia.

Kecurigaan makin bertambah setelah barang pribadi seperti HP Sutrimo tak juga dipulangkan.

"Setelah kita lihat belakangan, HP enggak pulang-pulang. Dompet enggak pulang dan lain-lain. Ya mereka juga kecurigaannya bertambah," tutur Aan.

Keluarga Sutrimo juga mempertanyakan orang yang mengantarkan jenazah. Menurut Aan, nomor telepon orang tersebut sebelumnya masih dapat dihubungi, tetapi kemudian tidak aktif.

Aan menyebut keluarga Sutrimo memiliki keterbatasan. Mereka tidak memiliki kemampuan secara finansial untuk menghadapi proses panjang jika perkara tersebut dilaporkan.

"Mereka merasa, 'saya ini siapa'. Siapa yang menjamin kalau ada masalah? Mau wara-wiri saja pasti mengeluarkan uang. Sementara mereka itu untuk hidup saja susah. Kondisi emosional keluarga, terutama ibu Sutrimo, juga menjadi salah satu pertimbangan," ujarnya.

Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, saat memberikan keterangan kepada wartawan usai melapor ke Polresta Banyumas, Sabtu (8/8/2026) malam.Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, saat memberikan keterangan kepada wartawan usai melapor ke Polresta Banyumas, Sabtu (8/8/2026) malam. Foto: Anang Firmansyah/detikJateng

Tahu Kondisi Mulut Berbusa Sutrimo dari Formulir Kronologi

Persoalan lain muncul setelah Aan memperoleh dokumen yang disebut berkaitan dengan kronologi kondisi Sutrimo sebelum meninggal. Aan mengaku terkejut setelah menerima informasi bahwa dalam dokumen itu disebutkan soal busa yang keluar dari mulut dan hidung Sutrimo.

"Saya kaget, nggak ada loh. Kita nggak ada surat dari keterangan rumah sakit yang ada begitu. Kita semuanya bahwa memang ini, karena tidak lengkap. Justru tidak ada apapun gitu kan," katanya.

Menurut Aan, formulir kronologi tersebut tidak pernah disampaikan kepada pihak keluarga Sutrimo saat jenazah dipulangkan.

"Dokumen itu tidak pernah disampaikan kepada keluarga. Jadi memang pengantar jenazah dengan sengaja, orang pengirim jenazah itu menyembunyikan satu formulir kronologis tadi," ujar Aan.

Aan kemudian membandingkan dokumen yang diperolehnya dengan dokumen yang dimiliki keluarga Sutrimo. Dia menyebut terdapat kesamaan tanda tangan dalam formulir tersebut.

"Kita bandingkan tanda tangan dalam formulir, Febrio (Adiono) itu kan identik dengan yang ada di kami," ungkapnya.

Diminta Balik Jakarta oleh Febrie

Dikatakan Aan, sebelum meninggal, Sutrimo sempat diminta balik Jakarta oleh atasannya, eks Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah. Diketahui, polisi menggeledah kediaman Febrie pada 8 Juli lalu.

Aan berujar berdasarkan keterangan yang didapat keluarga, Sutrimo pulang sehari setelah penggeledehan rumah Febrie.

"Dia pulang pada saat sehari setelah penggeledahan. Emang disuruh pulang sama bosnya (Febrie Adriansyah) katanya," ujar Aan.

Ketika itu, dalam teleponnya, Febrie meminta Sutrimo segera kembali ke Jakarta. Namun, Sutrimo menjawab bahwa dirinya tidak mempunyai uang untuk membeli tiket.

"Nah dia pulang memang ditelepon sama Pak Febrie. Pengakuan dari salah satu saksi, bosnya telepon. Intinya, 'kamu pulang saja (ke Jakarta), karena aku ini lagi kalau mau cerita sama siapa' gitu. Sutrimo menyampaikan, 'saya nggak punya uang, Bos'. Lalu dijawab tiket sudah disiapkan, uang sudah ditransfer, dan nanti kamu ditemani dua orang dari Stasiun Purwokerto," ujarnya.

Aan mengatakan, Sutrimo kemudian kembali lagi ke Jakarta sebelum 19 Juli 2026. Namun, tanggal pastinya belum dapat dipastikan karena sebagian riwayat percakapan WhatsApp di ponsel keluarga hilang.

"Pokoknya sebelum tanggal 19, 18 atau 19, saya nggak pasti karena saya lihat WA-nya mulai 19," jelasnya.

Ungkap Komunikasi Terakhir Sutrimo

Aan melanjutkan, pihak keluarga juga mengungkap komunikasi terakhir Sutrimo sebelum meninggal. Saat itu, Sutrimo sempat mengirim foto makanan yang disantapnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan riwayat percakapan di WhatsApp yang masih bisa diakses, Sutrimo berkomunikasi secara normal. Ia sempat menanyakan keponakan hingga mengirim momen kesehariannya.

"Pak Sutrimo ini orangnya penyayang. Selain menjaga ibunya, dia komunikasi baik dengan adiknya. Nanyain keponakannya setiap hari, minta video dan lain-lain," tutur Aan.

Aan mengungkap komunikasi terakhir Sutrimo yang dinilai penting dalam melihat kondisi almarhum sebelum ditemukan meninggal. Menurutnya, pada 23 Juli, Sutrimo masih sempat mengirim foto makanan sekitar pukul 03.18 WIB.

"Terakhir (komunikasi) itu dari tanggal 19 sampai dengan 23 Juli. Dia terakhir jam 03.18 itu ngirim foto makanan," kata Aan.

Foto tersebut memperlihatkan makanan berupa ayam goreng lengkap dengan lalapan. Aan menyebut makanan tersebut seperti menu ayam goreng Lamongan.

"Makanannya ayam goreng, ayam goreng Lamongan, piringnya hijau. Jadi ayam goreng, lalapan, kayak Lamongan gitu," jelasnya.

Tak berhenti di situ. Sekitar pukul 04.00 WIB, Sutrimo kembali mengirim foto. Kali ini, dia terlihat sedang duduk di seberang rumah utama milik eks Jampidsus Febrie Adriansyah.

"Jam 04.00 dia juga ngirim foto dia lagi duduk di seberang rumah utamanya Pak Febrie," ujar Aan.

Saat itu, oleh adik Sutrimo, pesan tersebut baru dibalasnya sekitar pukul 06.00 WIB sekaligus mengirim video anaknya.

"Jam enam itu baru sadar belakangan. Saya bilang ini dibaca ya? Iya dibaca, langsung. Tapi memang, kenapa nggak balas?" kata Aan.

Kemudian, sekitar pukul 08.00 WIB, ponsel keluarga mendapat panggilan dari nomor milik Sutrimo. Panggilan tersebut baru diangkat sekitar pukul 08.30 WIB.

Namun, bukan Sutrimo yang berbicara di ujung telepon. Orang tersebut mengaku sebagai teman Sutrimo dan menyampaikan kabar bahwa Sutrimo telah meninggal dunia.

"Dua jam setengah kemudian ya. Ternyata jam delapan itu hapenya Mbak Anies ada telepon panggilan dari Pak Sutrimo. Dari nomor HP Sutrimo berkali-kali, baru diangkat jam 08.30," ujar Aan.

"Ternyata yang telepon itu adalah orang mengaku temannya Pak Sutrimo. Mengabarkan Pak Sutrimo jam 08.30 itu sudah tidak ada (meninggal dunia)," pungkasnya.

Cerita Sutrimo Bisa Kerja Bareng Febrie

Aan lantas membeberkan hubungan Sutrimo dengan Febrie. Ia menjabarkan almarhum sudah bekerja dengan Febrie dalam waktu cukup lama.

Meski sempat keluar selama dua tahun untuk bekerja di tempat lain, Febrie masih menerima Sutrimo untuk kerja lagi kepadanya. Bahkan, menurut Aan, ketika Sutrimo sakit, biaya pengobatannya dibantu.

"Sudah lama. Kadang-kadang kalau pernah off, pernah berapa tahun off. Tapi ketika sakit juga dibiayain. Pada saat Covid juga tetap," ujarnya.

Menurut Aan, pekerjaan Sutrimo bersama Febrie bermula dari keahliannya sebagai tukang bangunan.

Keluarga mengetahui Sutrimo pernah mengerjakan pembangunan rumah milik Febrie. Setelah pekerjaan tersebut selesai, Sutrimo disebut kemudian dipercaya dan diajak bekerja bersama Febrie.

"Pak Sutrimo itu memang pekerjaan dulunya awalnya adalah tukang. Memang membiayai bangunan dan lain-lain. Setahu keluarga Pak Sutrimo ini ya bangun rumah Pak Febrie," jelasnya.

Setelah itu, Sutrimo disebut mendapat kepercayaan untuk ikut bekerja bersama Febrie

"Lalu karena Pak Febrie cocok, terus diajak kerja ikut Pak Febrie," imbuh Aan.

Dalam kesehariannya, pekerjaan Sutrimo disebut cukup beragam. Tidak hanya mengerjakan pekerjaan tertentu di luar rumah, dia juga disebut kerap mengurus berbagai keperluan rumah milik Febrie.

"Sehari-hari pekerjaan Pak Sutrimo itu macam-macam. Kadangkala disuruh ngerjain proyek. Kalau tidak keluar, ya Pak Sutrimo di rumah ngurusin rumah-rumahnya Pak Febrie," ungkapnya.

Pekerjaan tersebut antara lain memperbaiki berbagai bagian rumah hingga mengurus pembayaran sejumlah kebutuhan rumah tangga.

"Misalnya benerin apa segala macam. Termasuk disuruh bayar listrik, bayar apa. Jadi salah satu kepercayaannya beliau," kata Aan.

Aan mengatakan, bagi warga desa, mereka hanya tahu Sutrimo bekerja untuk Febrie yang berprofesi sebagai jaksa.

"Orang desa ya, pokoknya tahunya ikut Pak Febrie, jaksa," katanya.

Makam Sutrimo Bakal Diekshumasi

Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin, menyatakan pihaknya menjadwalkan ekshumasi makam Sutrimo pada Rabu (12/8) besok.

"Barusan ditanyakan ya terkait ekshumasi. Kami sudah menerima pelimpahan laporan polisi dari Bareskrim Polri, kemudian laporan polisi dari Polresta Banyumas," paparnya.

Ia mengungkap Polda Metro Jaya resmi menangani kasus kematian Sutrimo setelah mendapat pelimpahan laporan polisi dari Bareskrim Polri dan Polresta Banyumas.

"Dari hasil penyelidikan yang tentunya sudah dilakukan oleh Polresta Banyumas, juga dari hasil penyelidikan dari tim Ditreskrimum Polda Metro Jaya, kami sudah meningkatkan ke proses penyidikan. Insyaallah hari Rabu besok lusa, kami akan melakukan ekshumasi di Banyumas," bebernya.

"Mudah-mudahan nanti dari hasil ekshumasi kita bisa menemukan dan kita bisa menyimpulkan apa yang menjadi penyebab dari kematian yang bersangkutan," tambah Iman.

Halaman 2 dari 2
(apu/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads