Cerita Awal Mula Sutrimo Kerja di Rumah Febrie Adriansyah

Cerita Awal Mula Sutrimo Kerja di Rumah Febrie Adriansyah

Anang Firmansyah - detikJateng
Senin, 10 Agu 2026 20:18 WIB
Polisi masih mendalami penyebab tewasnya pria bernama Sutrimo di depan klinik kecantikan Mordent di Jaksel. Penyebab kematian Sutrimo masih belum diketahui. (Adhfar/detikcom)
Foto: Polisi masih mendalami penyebab tewasnya pria bernama Sutrimo di depan klinik kecantikan Mordent di Jaksel. Penyebab kematian Sutrimo masih belum diketahui. (Adhfar/detikcom)
Banyumas -

Sutrimo ternyata diketahui sudah cukup lama bekerja dengan mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah. Namun, keluarga mengaku tidak mengetahui secara pasti posisi Sutrimo di rumah Febrie, termasuk apakah dia berstatus sebagai kepala rumah tangga (karumga) atau bukan.

Hal itu disampaikan kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni. Menurut Aan, satu hal yang dipastikan keluarga adalah Sutrimo memang bekerja bersama Febrie.

"Oh, betul. Kalau itu betul. Cuma tentang apakah dia karumga atau bukan, keluarga nggak ada yang tahu," kata Aan saat dihubungi wartawan lewat telepon, Senin (10/8/2026)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aan mengatakan Sutrimo sudah bekerja dengan Febrie dalam waktu cukup lama. Meski sempat berhenti bekerja selama sekitar dua tahun untuk bekerja di tempat lain, Sutrimo kemudian kembali bekerja bersama Febrie.

Bahkan, menurut Aan, ketika Sutrimo sakit, biaya pengobatannya disebut turut dibantu. Begitu pula ketika pandemi COVID-19.

ADVERTISEMENT

"Sudah lama. Kadang-kadang kalau pernah off, pernah berapa tahun off. Tapi ketika sakit juga dibiayain. Pada saat Covid juga tetap," ujarnya.

Sutrimo diketahui pernah menikah. Namun, pernikahan tersebut berakhir dengan perceraian dan dia tidak memiliki anak.

"Sudah menikah dan sudah bercerai. Kebetulan tidak memiliki anak. Duda," tutur Aan.

Menurut Aan, pekerjaan Sutrimo bersama Febrie bermula dari keahliannya sebagai tukang bangunan.

Keluarga mengetahui Sutrimo pernah mengerjakan pembangunan rumah milik Febrie. Setelah pekerjaan tersebut selesai, Sutrimo disebut kemudian dipercaya dan diajak bekerja bersama Febrie.

"Pak Sutrimo itu memang pekerjaan dulunya awalnya adalah tukang. Memang membiayai bangunan dan lain-lain. Setahu keluarga Pak Sutrimo ini ya bangun rumah Pak Febrie," jelasnya.

Setelah itu, Sutrimo disebut mendapat kepercayaan untuk ikut bekerja bersama Febrie

"Lalu karena Pak Febrie cocok, terus diajak kerja ikut Pak Febrie," imbuh Aan.

Dalam kesehariannya, pekerjaan Sutrimo disebut cukup beragam. Tidak hanya mengerjakan pekerjaan tertentu di luar rumah, dia juga disebut kerap mengurus berbagai keperluan rumah milik Febrie.

"Sehari-hari pekerjaan Pak Sutrimo itu macam-macam. Kadangkala disuruh ngerjain proyek. Kalau tidak keluar, ya Pak Sutrimo di rumah ngurusin rumah-rumahnya Pak Febrie," ungkapnya.

Pekerjaan tersebut antara lain memperbaiki berbagai bagian rumah hingga mengurus pembayaran sejumlah kebutuhan rumah tangga.

"Misalnya benerin apa segala macam. Termasuk disuruh bayar listrik, bayar apa. Jadi salah satu kepercayaannya beliau," kata Aan.

Keluarga Sutrimo Tak Pernah Bertemu Febri

Meski Sutrimo telah lama bekerja bersama Febrie, hubungan tersebut ternyata tidak membuat keluarga Sutrimo mengenal Febrie secara langsung.

Aan mengatakan dirinya mengetahui hal itu setelah membaca komunikasi antara Sutrimo dengan adiknya. Dari percakapan tersebut, diketahui ada anggota keluarga yang pernah datang ke Jakarta saat Sutrimo mengerjakan pembangunan rumah.

Namun, keluarga tidak pernah diperkenalkan secara langsung kepada Febrie.

"Saya tanya pernah nggak dipertemukan sama Pak Febrie? Nggak pernah. Memang tidak ada satu pun yang berkomunikasi langsung dengan Pak Febrie," ujar Aan.

Menurutnya, bagi keluarga di desa, Sutrimo hanya dikenal sebagai orang yang bekerja mengikuti Febrie yang merupakan seorang jaksa.

"Orang desa ya, pokoknya tahunya ikut Pak Febrie, jaksa," katanya.

Aan mengatakan komunikasi antara Febrie dan keluarga Sutrimo juga tidak pernah terjadi. Selama ini, hubungan antara Febrie dan keluarga hanya diketahui melalui Sutrimo.

"Jadi Pak Febrie itu setahu keluarga hanya komunikasi dengan Pak Sutrimo," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, teka-teki kematian Sutrimo, pria warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas yang ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mulut berbusa di depan klinik kecantikan Mordent di kawasan Jakarta Selatan (Jaksel) masih belum diketahui. Pihak keluarga, awalnya tidak menaruh kecurigaan apa pun saat menerima jenazah almarhum.

Namun, belakangan keluarga mulai mempertanyakan sejumlah kejanggalan, mulai dari dokumen rumah sakit, kondisi jenazah, hingga ponsel dan barang pribadi yang disebut tak kunjung dikembalikan.

Hal itu disampaikan kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni. Menurut Aan, keluarga pada awalnya menerima jenazah dalam kondisi sudah dikafani dan dibersihkan sehingga tidak melihat adanya sesuatu yang mencurigakan.

"Pertama memang pada saat mereka terima mayat, memang mayat sudah dikafani, sudah bersih, dan tidak ada yang mencurigakan," kata Aan saat dihubungi melalui telepon, Senin (10/8).

Selain itu, keluarga mengetahui Sutrimo memiliki riwayat penyakit gula. Mereka mendapat informasi bahwa kadar gula darah Sutrimo disebut mencapai 600. Karena itu, keluarga saat itu menerima kematian Sutrimo sebagai sesuatu yang wajar. Apalagi jenazah segera dipulangkan dan langsung dimakamkan pada hari yang sama.

"Mereka datang jam 10 (malam) itu ya langsung dikubur. Tidak ada kecurigaan apa pun awalnya," ujarnya.



(afn/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads