Seorang siswa kelas VII SMP Negeri 4 Randudongkal, Pemalang, berinisial AAF (13) tewas dengan dugaan menjadi korban bullying (perundungan). Pihak sekolah buka suara dengan berdalih tidak pernah menerima laporan adanya tindak kekerasan terhadap korban.
Kepala SMPN 4 Randudongkal, Indah Palupi, ditemui di sekolah pada Selasa (4/8/2026) menyatakan selama kegiatan belajar mengajar yang sudah dua pekan berjalan, tidak ada laporan termasuk dugaan perundangan di sekolah. Ia meyakini tidak ada bullying di sekolah.
"Selama ini saya meyakini seperti itu. Tidak ada laporan apa pun di sekolah. Saya juga tidak pernah mendengar ada anak bertengkar maupun kekerasan fisik yang melibatkan korban," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan bahwa pendidikan dan pengawasan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Komunikasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah menjadi hal penting untuk mencegah terjadinya persoalan yang tidak diinginkan.
"Kalau ada permasalahan dengan anak-anaknya, orang tua sebaiknya segera berkoordinasi dengan sekolah. Sekolah juga harus menanggapi setiap keluhan yang disampaikan orang tua," jelasnya.
Indah melanjutkan, kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berjalan seperti biasa pascakabar meninggalnya AAF.
Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M. Faizal Wildan Umar, Selasa (4/8/2026). Foto: Robby Bernardi/detikJateng |
"Alhamdulillah pembelajaran berjalan normal, anak-anak juga tidak terpengaruh. Dari awal juga tidak ada keributan apa pun. Kenakalan yang ada paling seperti coret-coret atau bolos sekolah, masih dalam batas yang bisa ditangani," ujarnya.
Namun, ia membenarkan bahwa sejumlah siswa hari ini penuhi panggilan polisi ke Polres Pemalang.
"Masih (dimintai keterangan) itu-itu tadi semuanya. Sekitar 10 apa 11 ya, nanti tak tanya Bu Diah (salah satu guru)," ungkapnya.
Sementara itu, Sat Reskrim Polres Pemalang memeriksa sejumlah saksi, termasuk keluar dan teman-teman korban. Sejumlah siswa SMPN 4 Randudongkal juga dimintai keterangan.
Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M. Faizal Wildan Umar, ditemui di Polres Pemalang berkata saat ini, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) masih melakukan klarifikasi terhadap para saksi.
"Untuk saat ini Unit PPA sedang melaksanakan klarifikasi kepada saksi-saksi. Hari ini kami meminta keterangan kepada ibu korban," tuturnya.
Polisi juga menghadirkan 10 teman korban untuk dimintai keterangan guna mendalami fakta-fakta yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
"Betul, kami melakukan klarifikasi kepada teman-teman korban sejak kemarin. Hari ini kami melaksanakan pendalaman terhadap keterangan maupun fakta-fakta yang disampaikan oleh teman-teman korban," jelasnya.
Terkait kemungkinan adanya unsur penganiayaan, Faizal menyebut penyidik masih melakukan pendalaman dan belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kematian korban.
"Masih kami dalami dalam proses penyelidikan. Nanti akan kami sampaikan setelah seluruh data dan fakta terkumpul secara komprehensif," katanya.
Polisi juga masih menunggu hasil resmi autopsi dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Jawa Tengah untuk memastikan penyebab kematian korban.
"Untuk hasil autopsi secara resmi masih belum keluar. Kami masih menunggu hasil dari Biddokkes Polda Jateng," pungkasnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, korban sempat dirawat di RS Mardhatillah Muhammadiyah Randudongkal, Pemalang, pada Minggu (2/8). Namun, AAF dinyatakan meninggal pada Minggu malamnya.

