Mahasiswi D4 Bahasa Asing Terapan Universitas Diponegoro (Undip), Aisyah Chustiya (20), sukses menyabet juara Wood Cup 2026. Tongkat kayu yang tak sengaja dia temukan di pantai itu membawanya jadi atensi para pecinta 'tongkat sedunia'.
Chustiya bercerita sudah mengikuti akun Instagram @officialstickreviews sejak SMA. Dia mengaku memang menyukai hal-hal unik dan kreatif.
"Aku memang suka hal-hal unik seperti orang memamerkan kayu-kayu dengan bentuk yang menarik," kata Chustiya saat dihubungi detikJateng, Kamis (23/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chustiya bercerita, tongkat tersebut ditemukan sekitar Maret 2026 saat bulan Ramadan. Kala itu, ia baru selesai bekerja paruh waktu dan memutuskan mampir ke Pantai Cipta yang berjarak sekitar 10 menit dari tempat tinggalnya di Semarang.
Chustiya mengungkap tongkat yang viral itu sebenarnya hanyalah kayu yang terdampar di bibir Pantai Cipta. Ia menduga, kayu tersebut merupakan akar bambu yang terbawa arus laut.
"Awalnya cuma cari angin doang sih niatnya. Terus mungkin namanya 'insting bolang (bocah petualang' nemu kayu itu. Biasanya aku juga suka lihat kayu-kayu yang random tapi juga nggak kuunggah karena memang nggak sebagus itu," ucap Mbak Kreatif Undip 2025 ini.
"Tapi pas yang satu itu aku kayak 'ih ini sumpah bagus banget', dan kurasa kayaknya ini waktunya aku tampil di Stick Nation," lanjut Chustiya.
Perempuan asal Sukoharjo itu kemudian merekam video tongkat tersebut, mengunggahnya ke Instagram Story, dan menandai akun @officialstickreviews. Tak disangka, videonya mendapat respons positif hingga akhirnya diunggah ulang dalam format Reels oleh akun tersebut.
"Terus di awal bulan Juli ini atau akhir Juni, dia announce buat submission lomba buat Stick Wood Cup 2026. Ya udah aku masukin juga, aku submit video ke link pendaftaran terus awal Juli perlombaan ini dimulai, ternyata yang mewakili Indonesia videoku," terangnya.
Tongkat tersebut belakangan ramai dijuluki 'Maui Hook' oleh warganet karena bentuknya dianggap mirip kail milik karakter Maui dalam film animasi Moana. Namun, ia menegaskan julukan itu bukan berasal darinya.
"Dari orang-orang sendiri. Dari awal diposting di Reels Official Stick Reviews sudah ada yang nyebut 'Maui Hook'. Ada juga yang bilang 'Pudge Hook', ada yang bilang mirip celurit. Jadi yang kasih nama itu netizen karena mereka punya imajinasi masing-masing melihat bentuk kayunya," ujarnya.
Menurut Aisyah, keunikan tongkat itu memang terletak pada bentuk alaminya yang melengkung. Ia menduga kayu tersebut merupakan akar bambu yang terbentuk secara alami tanpa campur tangan manusia.
"Bentuknya benar-benar alami, bukan dipotong atau dibentuk, 100 persen by nature. Bahkan ada juga yang bilang ujungnya mirip kepala angsa. Pas aku lihat lagi, iya juga sih. Jadi setiap orang punya imajinasi sendiri melihat bentuk kayu itu," katanya.
Akhirnya, kompetisi Wood Cup 2026 pun dilangsungkan menggunakan sistem voting. Tak disangka, Indonesia berhasil mengalahkan Spanyol, Brasil hingga Norwegia. Namun, ia merasa kemenangan itu bukan semata-mata prestasinya.
"Karena sistemnya vote, jadi 'the power of netizen' itu bekerja banget. Jadi kita menang karena memang lebih banyak orangnya. Jadi kalau mau dibilang ini prestasi buat aku, sebenarnya nggak juga," ungkapnya.
Meski tongkat tersebut kini dikenal hingga mancanegara, Chustiya mengaku sengaja tidak membawanya pulang. Ia membiarkan tongkat itu tetap berada di tempat pertama kali ditemukan.
"Kenapa aku nggak ambil kayunya karena aku juga nggak expect akan jadi serame ini. Terus mungkin karena budaya Jawa 'pring petuk', biasanya disakralkan," ungkapnya.
"Dan aku nggak mau membawa barang itu karena di kamarku yang sekecil ini di Semarang nyimpen barang segede itu, menurutku nggak make sense. Jadi aku tinggalkan," imbuhnya.
Menurutnya, kemenangan Indonesia di Wood Cup juga membuktikan jika hal sederhana dari alam bisa mendapat perhatian dunia. Ia menilai, Indonesia memiliki banyak benda unik seperti yang ditemuinya.
"Tapi yang paling berkesan, solidaritas netizen Konoha emang nggak bisa dilawan sih. Karena kayak hal seremeh-temeh kayu pun bisa jadi hal yang mempersatukan kita," ujarnya.
Pihak penyelenggara Wood Cup, lanjutnya, telah menghubunginya untuk mengirimkan hadiah. Namun, hingga kini Chustiya belum mengetahui bentuk hadiah yang akan diterima.
"Sudah aku kirimin alamatnya sampai sekarang belum tahu bakal dikasih apa. Cuma prediksiku mungkin merchandise. Soalnya mereka juga punya merchandise," tuturnya.
Kemenangan di Wood Cup 2026 pun turut membawa dampak positif buatnya. Selain mendapat banyak sorotan media, jumlah pengikut Instagram Chustiya juga bertambah sekitar 800 akun secara organik.
"Dulu followersku 2.200, sekarang udah 3.000 sekian. Orang yang follow pasti mengharapkan sesuatu baru dari akunku, jadi aku bakal lebih sharing up konten juga," katanya.
Chustiya pun menyampaikan pesan kepada remaja seusianya agar tak takut menunjukkan hobi yang dianggap nyeleneh. Ia mendukung hobi apapun yang dimiliki anak-anak muda di Indonesia.
"Jangan takut buat explore apa yang kamu suka dan jangan takut dibilang freak walaupun seaneh apapun atau sejarang apapun orang punya hobi kayak kamu. Jangan malu buat up (unggah) itu di sosial media," kata Chustiya.
"Be yourself, nggak harus ikut standar. Jangan terpaku buat ada di zona nyaman. Jadi kayak ada komunitas internasional ikut aja nggak apa-apa. Kalau nggak bisa bahasa Inggris. That's why you have to learn (makanya kamu harus belajar), jadi bisa tambah skill," lanjutnya.
