Pengangeng Sasana Wilapa Kubu Paku Buwono (PB) XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay, merespons langkah buka paksa Lembaga Dewan Adat (LDA) lokasi revitalisasi kawasan Keraton Solo. Rumbay menyayangkan pernyataan dari Ketua LDA, GRAy Koes Moertiya atau Gusti Moeng itu.
"Selama masih bisa berkomunikasi, berembuk, dan bermusyawarah, mengapa harus ada kekerasan? Mengapa harus selalu dengan paksaan, kekerasan, dan ancaman? Hal seperti ini yang sangat saya sayangkan," kata Rumbay dihubungi detikJateng, Rabu (22/7/2026).
Rumbay menegaskan pihaknya selalu terbuka untuk berdialog. Namun, ia merasa selama ini komunikasi tersebut sengaja diputus. Salah satu contohnya adalah saat agenda sosialisasi revitalisasi yang digelar baru-baru ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama ini saya tidak pernah mendapatkan undangan. Seperti kemarin contohnya, saat ada sosialisasi revitalisasi, kami sama sekali tidak mendapatkan undangan untuk berembuk," tuturnya.
Dibanding buka paksa, Rumbay menyebut pihak LDA bisa menghubungi dirinya ataua GKR Pakubuwono untuk menjalin komunikasi.
"Padahal kontak WhatsApp saya ada, nomor WhatsApp Gusti Kanjeng Ratu juga ada. Kan bisa saling berkirim pesan untuk berembuk bersama. Namun, hal itu tidak pernah dilakukan," lanjutnya.
Rumbay juga menepis isu mengenai permintaan kunci kepada dirinya. Menurutnya, selama ini tidak ada komunikasi mengenai hal tersebut.
"Justru di luar sana seolah-olah dikesankan bahwa mereka sudah meminta kunci dan akses, padahal kenyataannya tidak ada komunikasi seperti itu kepada kami. Kalau memang ingin meminta kunci, akses, atau bermusyawarah, buatlah komunikasi yang baik," tegasnya.
Di sisi lain, Rumbay memgaku pihaknya senang jila Keraton Solo bisa direvitalisasi. Ia kembali menegaskan bagwa tidak ada komunikasi antara LDA dengan dirinya.
"Kami justru senang bisa bekerja sama dengan pemerintah, tentunya tetap dalam koridor yang benar demi kebaikan Keraton. Selama ini saya merasa memang tidak ada komunikasi yang baik antara LDA dengan kami," tambahnya.
"Sangat disayangkan muncul pernyataan seolah-olah akan membuka paksa. Mengapa harus selalu menggunakan kata-kata ancaman, paksaan, dan kekerasan? Kalau memang kami masih dianggap sebagai keluarga, ayolah kita bicara dan duduk bersama baik-baik," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak 13 titik kawasan Keraton Solo akan dilakukan revitalisasi. Hanya saja, masih ada sejumlah lokasi yang terkendala akses untuk masuk ke dalam.
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Solo, GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, mengatakan sejumlah lokasi hingga kini masih terkunci dan belum bisa diakses oleh tim proyek. Dirinya mengaku tak segan-segan melakukan pembukaan secara paksa.
"Ya itu nanti kita buka semua. Kalau mereka nggak mau buka, ya kita akan buka paksa. Sebetulnya masalah ditutup itu kita sudah selalu ngomong untuk dibuka," ujar Gusti Moeng usai wilujengan revitalisasi Keraton Solo di Keraton Solo, Selasa (21/7).
Dirinya memerinci, beberapa lokasi yang masih terkendala akses di antaranya adalah kawasan Keputren, Keraton Kulon sisi timur termasuk Pendopo, Kuncungan, dan Tursino Renggo, serta Ndalem Ageng.
