Aliran Sungai Serayu di Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, surut. Kondisi ini mengundang atensi warga karena menjadi magnet baru sebagai wisata dadakan, terutama pada sore hari.
Pantauan detikJateng, kondisi air yang surut menghadirkan hamparan bebatuan dan pasir. Lebar sungai yang tadinya sekitar 100 meter mengecil hanya menyisakan setengahnya.
Alhasil banyak terbentuk kubangan air yang dangkal di beberapa titik yang digunakan oleh anak-anak untuk berenang. Tak jauh dari situ banyak orang dewasa terutama emak-emak yang berswafoto dengan latar belakang sungai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini dipicu musim kemarau yang sudah berlangsung beberapa waktu lalu. Selama Bulan Juli, di wilayah Kabupaten Banyumas, belum pernah diguyur hujan. Lokasi ini kemudian diberi nama Wadas Cinta Carik Srowot.
Pengunjung asal Desa Kaliori, Khomsatun, mengaku sengaja datang bersama anak dan tetangganya untuk berwisata. Ini merupakan kedua kalinya ia datang ke sini.
"Saya sudah dua kali ke sini. Awalnya sih karena penasaran, terus pemandangannya juga bagus, kebetulan ini lagi surut. Kalau tidak surut ya tidak bisa. Anak pada main air karena kan dangkal ya," kata Khomsatun kepada wartawan, Senin (20/7/2026).
Ia mengaku memilih wisata ke sini karena jaraknya dekat. Selain itu juga tidak ada pungutan biaya masuk, selain untuk parkir sepeda motor.
"Gratis, dan dekat pula dari rumah, cuma bayar parkir Rp 1.000 dan enak juga buat mainan air dan airnya sedang jernih, bersih. Tapi memang tetap harus diawasi ya, karena sebelah selatan masih rada dalam," terangnya.
Hal yang sama juga dikatakan Atun (47). Warga Desa Patikraja ini sengaja datang setelah melihat unggahan di media sosial soal mengeringnya Sungai Serayu.
"Saya awalnya lihat postingan di media sosial. Kondisi Sungai Serayu kok surut dan banyak yang datang buat wisata. Jadi ya ke sini sama anak," ujar Atun.
Meskipun Sungai Serayu juga melintasi wilayahnya yang berjarak sekitar 10 km ke arah hilir, kondisinya berbeda. Di wilayahnya Sungai Serayu debit airnya masih tinggi.
"Sebenarnya sih aliran sungainya sampai rumah saya, tapi kondisinya berbeda. Di sini bisa surut banget, sedangkan di dekat rumah saya masih lebar dan nggak bisa buat wisata," terang dia.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan Sukma, mengatakan musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang dengan suhu yang lebih panas akibat pengaruh El Nino.
"Musim kemarau ini karena pengaruh El Nino. Saat ini kami telah memetakan 81 desa di 19 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan berdasarkan pengalaman musim kemarau 2023. Sebagian besar wilayah rawan berada di kawasan selatan Banyumas," pungkasnya.
