Penjelasan Ilmiah soal Fenomena Embun Upas di Dieng

Penjelasan Ilmiah soal Fenomena Embun Upas di Dieng

Trisna Wulandari - detikJateng
Senin, 20 Jul 2026 18:27 WIB
Wisatawan menujukkan suhu udara yang turun hingga minus tiga derajat celcius dan menyebabkan embun beku  di Lapangan Pandawa, dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (12/7/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena embun beku atau embun upas di dataran tinggi Dieng terjadi pada musim kemarau sekitar Juni - September akibat angin monsun Australia yang membawa massa udara kering sehingga suhu permukaan dapat turun hingga di bawah nol derajat celsius dan membekukan uap air menjadi embun beku. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU
Suhu Minus 3 Derajat, Dieng Diselimuti Embun Beku. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Solo -

Sejumlah warga melaporkan kawasan Dataran Tinggi Dieng mencapai suhu -6 derajat Celsius pada Kamis, 9 Juli 2026 lalu. Begini penjelasan ilmiahnya soal itu.

Dilansir detikEdu, Senin (20/7/2026), Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Guruh Tjiptanto, mengungkapkan suhu yang kerap dilaporkan tersebut bukan suhu udara, tetapi suhu minimum permukaan rumput yang diukur menggunakan termometer khusus.

"Suhu nol derajat atau minus memang terjadi. Namun itu bukan suhu udara, melainkan suhu minimum rumput, yaitu termometer yang dipasang di permukaan rumput," kata Guruh, dikutip dari Antara pada Sabtu (18/7).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Guruh mengatakan suhu 0 derajat Celsius atau lebih rendah lagi kerap dilaporkan saat muncul fenomena embun upas. Fenomena ini berpeluang muncul semakin besar jika musim kemarau lebih kering dari normalnya.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026. Adapun kondisi kering akan berlanjut sampai September 2026.

ADVERTISEMENT

"Semakin kemaraunya kering atau di bawah normal sifatnya maka kemungkinan embun upas akan lebih sering terjadi, apalagi ini belum di puncak kemarau. Puncak kemarau di Agustus nanti, bahkan di September pun masih kering kemaraunya," ujarnya.

Tentang Embun Upas

Untuk diketahui, embun upas adalah fenomena saat suhu ekstrem di bawah titik beku memproses embun menjadi es.

Dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada, embun upas merupakan istilah yang bagi embun beku yang dikenal dan digunakan masyarakat Jawa. Dalam bahasa Inggris, embun upas dikenal dengan istilah frost.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aris Pramudia, menjelaskan embun upas atau frost juga dapat terjadi karena beberapa faktor berikut:

  • Topografi dan posisi geografis tempat terjadinya berada di ketinggian sekitar 2.000 mdpl di atas permukaan laut
  • Tiupan angin pada puncak musim kemarau membawa udara dingin
  • Langit cerah tanpa tutupan awan
  • Ada angin tenang pada dini hari
  • Penurunan suhu ekstrem hingga mencapai titik beku
  • Bentuk wilayah cekung sehingga udara mengendap, tidak dapat mengalir keluar dari cekungan, dan terjebak di dasar cekungan.

Dampak Embun Upas

Aries menerangkan, embun upas atau frost menyebabkan kerusakan pada tanaman setempat, terutama pada tanaman kentang.

"Di dataran tinggi Dieng, tanaman eksisting adalah tanaman pertanian hortikultura atau perkebunan dataran tinggi, seperti kentang, sayuran, teh, dan lainnya," terangnya.

Di sisi lain, ia mengakui fenomena embun upas melatari ketertarikan sejumlah warga datang ke Dieng untuk menyaksikan suasana beku yang tidak lazim di Indonesia.

"Hal yang menjadi perhatian bersama adalah terdapat konflik kebutuhan adanya frost di Dieng antara sektor pertanian dan sektor pariwisata," ucapnya.

Antisipasi Embun Upas

Aries mengatakan, kawasan Dieng memiliki iklim sedang dan curah hujan tinggi dengan ketinggian permukaan 1.200-1.500 mdpl. Kondisi ini memungkinkan Dieng menjadi tempat budi daya pertanian tiga kali tanam, dengan komoditas sayuran dataran tinggi atau tanaman perkebunan dataran tinggi.

Untuk mendukung potensi pertanian ini, perlu ada antisipasi dalam menangani embun upas. Berikut di antaranya:

  • Water sprinkling dengan menyemprotkan air ke pertanaman
  • Pemanasan langsung pada tanaman dalam skala luas tertentu
  • 'Mengaduk' udara atau meniupkan angin buatan untuk menciptakan sirkulasi udara
  • Membuatkan naungan untuk tanaman
  • Memilih tempat yang aman untuk menanam
  • Memasang mulsa atau material penutup permukaan tanah untuk menjaga kelembapan, mencegah gulma atau tanaman liar, dan menjaga suhu tanah.



(dil/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads