Sejumlah warga menutup paksa aktivitas tambang ilegal di Dusun Pakis, Desa Sidomukti, Kecamatan Weleri, Kendal. Penutupan dilakukan lantaran warga kesal dengan aktivitas tambang yang sudah meresahkan.
"Kami sudah bosan dan jengkel dengan aktifitas tambang di sini. Kami siap demo di sini," kata Paryan, Ketua RW-01 dusun Pakis kepada detikjateng, Selasa (12/5/2026).
Mereka menuntut galian C ilegal yang sudah berlangsung sekitar satu tahun itu segera ditutup.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tuntutan warga di sini ya galian C ilegal ini harus dihentikan," ujarnya.
Sebelum mendatangi lokasi, warga berkumpul di pinggiran jalan Desa Sidomukti sekitar pukul 14.00 WIB.Mereka membawa sejumlah spanduk yang bertuliskan "Hentikan Tambang Ilegal, Ini Tambang Ilegal Dan Harus Ditutup".
"Aksi ini memang dadakan karena kalau tidak seperti ini pasti akan bocor dan operasionalnya akan berhenti dulu. Ini spanduk yang kami bawa juga sudah jelas, kami minta aktifitas tambang ditutup," jelasnya
Warga tutup galian c ilegal di Kendal. Foto: Saktyo Dimas R/detikJateng |
Tiba dilokasi penambangan, warga meminta operasional alat berat atau backhoe yang sedang melakukan pengerukan tanah dihentikan.Sejumlah warga naik ke atas backhoe dan memasang spanduk tersebut.
Tak hanya itu saja, warga juga menghentikan laju tiga truk yang bermuatan tanah galian untuk tidak keluar dari lokasi penambangan.
"Termasuk truk yang bawa muatan terpaksa kami hentikan agar tidak keluar dulu," terangnya.
Warga tidak hanya memasang spanduk di backhoe tapi juga memasang spanduk di lokasi penambangan dan gudang yang diduga menyimpan solar subsidi ilegal.
"Tadi spanduknya juga kami pasang di lokasi penambangan dan gudang yang tadi kami intip isinya solar subsidi ilegal," ucapnya.
Paryan memaparkan di dusun Pakis ada tiga titik lokasi dan total ada delapan alat berat yang beroperasional di penambangan.
"Penambangan di sini ada tiga lokasi dan semuanya ilegal. Kalau tadi saya hitung ada delapan alat berat yang beroperasional di tiga lokasi ini," paparnya.
Paryan mengungkapkan operasional penambangan sudah berjalan hampir satu tahun dan untuk waktu operasionalnya 24 jam.
"Penambangan ilegal di sini rata-rata sudah hampir satu tahun. Operasionalnya full 24 jam non stop," ungkapnya.
Warga sempat menanyakan surat izin tambangnya namun pengurus tambang tidak bisa menunjukkan.Selain aktifitas tambang ilegal, warga juga menemukan belasan galon berisi solar subsidi dilokasi dan digudang proyek.
"Tadi kami juga tanyakan ke pengurusnya tambang dan bilangnya dapat solarnya dari HKTI yang jalin kerja sama," jelasnya.
Lebih lanjut Paryan mengaku selama ini warga desa tidak pernah diajak bermusyawarah terkait adanya aktifitas penambangan.Bahkan warga sekitar awalnya tidak mengetahui apakah penambangan tersebut legal atau ilegal.
"Selama ini saya yang juga ketua RW disini dan warga lainnya juga tidak pernah diajak komunikasi dengan pak Lurah terkait tambang di sini. Jadi kami awalnya tidak pernah tahu apakah tambang itu ilegal atau legal," lanjutnya.
Warga tutup galian c ilegal di Kendal. Foto: Saktyo Dimas R/detikJateng |
Paryan menyebutkan lokasi penambangan dekat dengan hutan lindung dan selama ini warga terkena dampak banjir.
"Lokasi penambangan sangat dekat dengan pemukiman penduduk. Warga disini sudah merasakan dampaknya kebanjiran," katanya.
Selama operasional penambangan, tidak ada aparat penegak hukum yang berani menghentikan aktifitasnya.
"Tidak ada satu pun aparat yang berani datang ke lokasi tambang untuk menghentikan operasionalnya," tandasnya.
Paryan dan warga berharap aktifitas tambang ilegal di desanya dihentikan dan meminta polisi agar memproses hukum pengusaha tambang.
"Kami sangat berharap pengusaha tambang ilegal harus diproses hukum dan usahanya ditutup," pungkasnya.
Tak berselang lama, jajaran Polsek Weleri mendatangi lokasi demo dan mengamankan lokasi tambang.
(apl/ahr)


