Apa Kabar Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Dosen UIN Walisongo Semarang?

Apa Kabar Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Dosen UIN Walisongo Semarang?

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Senin, 11 Mei 2026 19:38 WIB
Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan UIN Walisongo Semarang, Ummul Baroroh, di Landmark UIN Walisongo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Senin (11/5/2026).
Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan UIN Walisongo Semarang, Ummul Baroroh, di Landmark UIN Walisongo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Senin (11/5/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Ummul Baroroh, buka suara soal kasus dugaan pelecehan seksual oleh dosen. Ia menyebut UIN Walisongo benjut alias babak belur akibat kasus tersebut.

Hal itu disampaikan Baroroh dalam Diskusi Publik yang dihadiri puluhan mahasiswa di Landmark UIN Walisongo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Diskusi itu bertajuk 'Mengungkap Realitas dan Upaya Mitigasi Kekerasan Seksual di Kampus yang Berkedok Agama'.

Dalam diskusi itu, Baroroh menyebut persoalan yang mencuat di media sosial itu bukan persoalan diinginkan oleh siapapun. Pihak kampus pun mengaku sudah merespons kasus itu dengan melakukan investigasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita membencinya, kita tidak suka itu. Oleh karena itu, respons kami tentu sangat merespons dan tidak diam saja. Kami melakukan investigasi, bertindak, dan semuanya harus dengan hati-hati," ucapnya.

ADVERTISEMENT

Berkaitan kasus yang sudah viral di media sosial itu, Baroroh berpesan kepada mahasiswa agar cerdas menggunakan media, karena seluruh informasi bisa diakses dengan mudah di media sosial.

"Ketika kejadian di sini, dunia sudah akan membaca yang ada di sini. Saat ini UIN sudah bopeng, sudah benjut ke mana-mana," ucapnya.

"Kita semua sudah bonyok dengan adanya pemberitaan itu. Mau tidak mau kita harus mengakui semua ini. Bukan lagi yang halus, mulus. Makanya monggo kita bijak dalam menggunakan media sosial," lanjutnya.

Ia mengatakan, UIN Walisongo sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam menjunjung tinggi keadilan, kehormatan, seluruh civitas akademika, baik laki-laki maupun perempuan.

"Harapannya kita semuanya aware, peduli terhadap itu kita semuanya punya kewajiban untuk mencegahnya jangan sampai terjadi," ucapnya.

"Ketika itu sudah kejadian dengan jelas, maka tentu akan dikenakan sanksi-sanksi sesuai peraturan yang berlaku," lanjutnya.

Ia menyebut, kampus tidak menormalisasi perilaku tersebut. Baroroh juga mengajak mahasiswa untuk mengubah pola pikir yang patriarkis.

"Meskipun tidak mudah, tidak semudah membalik telapak tangan, karena yang namanya budaya itu terbentuk sudah sangat lama," ucapnya.

"Marilah kita bersama-sama di kampus kita mensosialisasikan, kita tidak boleh mentolerir kekerasan, tidak boleh mentolerir perundungan, dan sebagainya," tegasnya.

Terancam Dipecat Jika Terbukti

Dosen terduga pelaku pelecehan seksual terhadap mahasiswa di UIN Walisongo Semarang terancam dipecat apabila terbukti bersalah.

"Kode etik dosen itu ada, tadi sudah dikatakan bahwa dalam aturan, KS (kekerasan seksual) termasuk (pelanggaran) paling tinggi. (Sanksinya bisa dipecat?) Bisa, kalau misal terbukti dan ada pemberatan," kata Baroroh di kampus, Senin (11/5/2026).

Baroroh mengatakan, pihak kampus saat ini masih menunggu proses investigasi yang dilakukan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) dan Satgas (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual) PPKS.

"Perlu dukungan teman-teman, untuk korban kalau kalau banyak ya melapor saja supaya bisa jelas. Ada saksi, ada bukti, itu akan membantu investigasi," katanya.

Baroroh juga memastikan, identitas korban akan dirahasiakan pihak kampus sesuai SOP penanganan kekerasan seksual.

"Kita nggak akan ada inisial apa-apa. Komitmennya dan SOP-nya seperti itu," tegasnya.

Meski dugaan kasus telah ramai dibicarakan di media sosial, Baroroh mengaku hingga kini pihak kampus belum melakukan konfrontasi terhadap terduga pelaku.

"Belum (mengkonfrontasi), karena ini SOP-nya begitu. Saya bukan timnya," ucapnya.

Kendati demikian, menurut Baroroh, penanganan kasus ini menjadi bentuk komitmen UIN Walisongo Semarang untuk berpihak pada korban dan tidak membiarkan kekerasan seksual terjadi di lingkungan kampus.

"UIN berpihak kepada korban dan melakukan investigasi serta menindak sesuai perilakunya," pungkasnya.

Viral di Media Sosial

Sebelumnya diberitakan, pelecehan seksual yang diduga dilakukan seorang dosen di UIN Walisongo Semarang viral di media sosial. Korban dari aksi bejat dosen itu disebut ada lebih dari satu mahasiswa.

Kasus itu mencuat usai diunggah akun Instagram @pesan_uinws. Akun itu mengunggah aduan dari mahasiswa yang mengeluhkan sosok dosen yang disebut meresahkan mahasiswi.

"Ki bapak bergitar kok suwi suwi meresahkan to, tulung ditindaklanjut bolo. Sudah banyak korban yang speak up melalui dm mimin," tulis akun @pesan_uinws, dilihat detikJateng Kamis (7/5).

Dalam unggahan itu diperlihatkan pesan teks pelaku yang diduga dosen itu kepada para mahasiswi. Dalam chat melalui WhatsApp, dosen itu meminta mahasiswi memberikan foto vulgar dan melontarkan pertanyaan yang tidak senonoh.

"Pak, Bpknya tolong berhenti "memplorotkan" masa depan bunga2 suci di taman F***. Tolonglah bpk jangan merusak mahasiswi baik2, tolonglah bpk jangan mengajari mereka hal2 jelek," tulis seorang mahasiswa anonim yang pesannya dimuat di unggahan itu.

"Pukul 03.00 dini hari waktunya bpk tidur bukan waktu bpk meminta foto sexy "memplorotkan" kesucian hati anak2 kemarin sore yang takut tatkala menolak permintaan anda," lanjutnya.

Saat dimintai konfirmasi, Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Walisongo, Yusuf Aditya Pratama, mengatakan pihaknya masih melakukan koordinasi dan pengumpulan data terkait dugaan kasus tersebut.

"Secara jelas kita memang belum melakukan rilis kronologinya seperti apa, karena memang kita masih membutuhkan banyak koordinasi," kata Yusuf saat dihubungi detikJateng.

Yusuf menyebut, hingga kini ia belum mendapatkan data pasti jumlah korban. Namun, ia memastikan korban lebih dari satu orang.

"Dari beberapa informasi yang terkait bisa dipastikan lebih daripada satu. (Lebih dari dua?) Iya sepertinya lebih dari dua," ujarnya.




(apl/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads