Chattra di Puncak Candi Borobudur Bakal Dipasang Setelah Waisak

Chattra di Puncak Candi Borobudur Bakal Dipasang Setelah Waisak

Eko Susanto - detikJateng
Minggu, 03 Mei 2026 16:49 WIB
Menbud Fadli Zon silaturahmi dengan Kepala Sangha Theravada Indonesia, Bhante Sri Pannavaro di Vihara Mendut, Kabupaten Magelang, Minggu (3/5/2026).
Menbud Fadli Zon silaturahmi dengan Kepala Sangha Theravada Indonesia, Bhante Sri Pannavaro di Vihara Mendut, Kabupaten Magelang, Minggu (3/5/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng
Magelang -

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan pemasangan chattra di puncak Candi Borobudur dilakukan setelah Waisak 2570 BE/2026. Dia menyebut chattra bagi umat Buddha itu adalah satu penghormatan, perlindungan, dan pencapaian dari amalan yang tertinggi.

"(Kapan chattra dipasang) Nanti setelah Waisak," kata Fadli Zon kepada wartawan usai bersilaturahmi dengan Bhante Sri Pannavaro Mahathera di Vihara Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Minggu (3/5/2026).

Menjelang Perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026 pada Minggu (31/5) mendatang. Menbud Fadli Zon melakukan silaturahmi dengan Kepala Sangha Theravada Indonesia, Bhante Sri Pannavaro Mahathera di Vihara Mendut.

Diketahui, Vihara Mendut tahun ini persis berusia 50 tahun. Momen silaturahmi itu, salah satunya membahas keberadaan chattra.

"Saya berkesempatan berkunjung ke Bhante Pannavaro di Vihara Mendut yang pada tahun ini sudah 50 tahun. Jadi setengah abad persis, dulu dibangun tahun 1976 dan sekarang tahun 2026," sambung Fadli Zon.

"50 tahun dari Vihara Mendut dan Bhante Pannavaro juga sudah di sini sejak awal. Beliau menjadi semacam pemimpin umat di sini dan kita bisa menyaksikan di wilayah yang sangat asri ini, bisa banyak bercerita tentang arca-arca yang ada, terkait dengan Borobudur, Mendut. Juga secara umum arca-arca Buddha dan situs-situs Buddha yang ada di sekitar Borobudur," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fadli Zon mengaku juga mendapatkan penjelasan tentang norma, nilai, dan ajaran-ajaran baik dari Bhante.

"Dan kita tentu sangat senang sekali bahwa Bhante Pannavaro tadi menjelaskan bagaimana pentingnya chattra bagi umat Buddha sebagai penghormatan, sebagai pelindungan, dan bahkan amalan yang tertinggi. Saya kira ini satu aspirasi yang memang sangat penting terkait denganliving heritage," bebernya.

"Tentu saja kita akan berusaha di Kementerian Kebudayaan untuk bagaimana tidak hanya perlindungan, ada Pak Dirjen juga, dari situs-situs tersebut, tapi juga pengembangan, pemanfaatan, pembinaan kebudayaan juga bagian penting. Sebagai living heritage juga harus bermanfaat bagi masyarakat yang ada di sekitar," tambah Fadli Zon.

Fadli menjelaskan filosofi chattra bagi umat Buddha. Berdasarkan penjelasan Bhante Pannavaro, chattra merupakan salah satu bentuk penghormatan.

"Bhante tadi menyampaikan, ya saya tanya secara filosofis, bhante kalau salah tolong dikoreksi. Tapi, intinya chattra bagi umat Buddha itu adalah satu penghormatan, satu perlindungan, dan satu pencapaian dari amalan yang tertinggi," katanya.

"Setiap situs-situs agama Buddha selalu ada chattranya, ada mahkotanya, mungkin payungnya. Di relief Borobudur, itu juga saya tidak tahu jumlahnya ada berapa, banyak sekali. Chattranya juga ada. Ini saya kira bagian dari upaya kita untuk beradaptasi agar apa yang menjadi aspirasi untuk menjadikan Borobudur sebagai living heritageini harus kita realisasikan. Ini juga didukung oleh organisasi-organisasi Buddha, saya kira juga masyarakat pada umumnya. Karena ini juga akan semakin banyak mendatangkan kebaikan bagi kita," tegasnya.

ADVERTISEMENT

Pesan Waisak Bhante Sri Pannavaro

Bhante Sri Pannavaro menyebut kedatangan Fadli Zon untuk bersilaturahmi. Ada sejumlah topik yang dibahas, di antaranya tentang pohon bodi dan arca.

"Siilaturahim, berkenalan dengan kami. Karena kami tinggal di Vihara di dekat Borobudur. Tidak ada tujuan yang lain," katanya.

"Sambil jalan, lalu beliau (Fadli Zon) bertanya bermacam-macam. Tentang pohon bodhi, tentang arca Buddha, lalu saya menjelaskan semaksimal mungkin," ujar Bhante Pannavaro.

Perihal chattra, Bhante Pannavaro mempersilakan wartawan mengutip yang disampaikan Menbud Fazli Zon.

"(Soal chattra) Mengutip pernyataannya Pak Menteri saja. Saya tidak usah menambahi," kata dia.

Dalam Waisak 2570 BE/2026, pihaknya berpesan kepada umat Buddha untuk membersihkan pikiran, dan berperilaku dengan baik.

"(Pesan Waisak bagi umat) Bersihkan pikiran, bersihkan perilaku dengan baik. Karena kalau pikiran kita bersih, perilaku kita bersih, kita bisa memberikan pengabdian yang maksimal. Baik kepada keluarga, masyarakat, kepada bangsa, kepada negara ini," pintanya.

"Tetapi, kalau pikiran itu dipenuhi dengan keserakahan, kebencian, kecongkaan, apa yang kita kerjakan akan menjadi tidak murni. Manfaatnya sangat sedikit. Bahkan bisa sia-sia. Oleh karena itu, sangha kami, Sangha Theravada Indonesia mengambil tema menapaki jalan suci, bersumbangsih kepada negeri. Kalau anda ingin bersumbangsih pada negeri, jalankanlah jalan suci. Karena tanpa membersihkan diri kita, apa yang kita lakukan akan tidak banyak manfaatnya. Penuh dengan pamrih," pungkasnya.




(ams/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads