Sekolah Dasar (SD) Kanisius Pucangsawit mengubah lahan pembuangan puing berangkal menjadi perkebunan sirkular. Lahan tersebut ditanam berbagai macam sayuran oleh para siswa.
Kepala Sekolah SD Kanisius Pucangsawit, Perdana Wulansari, mengatakan program holistik mulai dilakukan pada Maret lalu. Tidak hanya sekadar berkebun, para siswa diajak untuk menghargai proses makanan dari mulai menanam hingga tersaji di piring.
"Kami belajar mengadakan proses pembelajaran yang holistik. Anak-anak belajar menghargai proses, bahwa makanan sehat itu tidak instan ada di pasar, tapi ada proses menanam, merawat hingga memanen," ujar Kepala Sekolah, Perdana Wulansari, ditemui di SD Kanisius Pucangsawit, Kamis (30/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sari menjelaskan hasil panen perdana pada April lalu berupa pakcoi, bayam, kangkung, dan caisim telah berhasil diolah menjadi konsumsi sehat bagi siswa. Menariknya, sayuran tersebut tidak hanya dimasak biasa, tetapi dikreasikan agar disukai anak-anak.
"Kemarin pakcoinya kami olah menjadi smoothies dicampur dengan nanas dan jeruk. Ini bagian dari edukasi gizi 'Isi Piringku' supaya mereka tahu makanan sehat itu seperti apa," lanjutnya.
Lebih lanjut, Sari mengungkapkan jenis tanaman yang ditanam di sekolah. Mulai dari Tanaman Obat Keluarga (TOGA), kangkung, bayam, tomat, cabai, timun, kacang panjang, jagung hingga daun mint.
"Selain sayuran, sekolah juga mengelola kandang berisi 10 ekor ayam petelur," jelasnya.
Dengan adanya perkebunan tersebut, Sari menyebut juga sebagai wadah edukasi. Salah satunya mengenal tanaman dan belajar menghitung tanaman.
"Iya diolah sendiri, nanam sendiri tapi juga kebunnya bisa bermanfaat untuk proses pembelajaran anak. Misalnya kemarin kelas 1 belajar berhitung matematika di kebun. 'Oh di bedengan satu ini ada berapa tanaman terong?' Berarti sebelum mereka menghitung mereka harus mengenal dulu mana terongnya, gitu. Oh di bedengan satu ada tiga, bedengan dua ada misalnya empat, lalu belajar penjumlahan di situ. Kemudian kemarin kelas 3 dan 4 itu belajar menggambar objek. Jadi dari tanaman-tanaman tersebut mereka belajar untuk menggambar," bebernya.
Ia mengatakan setelah panen tanaman maupun buah akan dimasak dan dimakan oleh siswa. Ia juga menegaskan keberadaan perkebunan tersebut bukan menyaingi Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Program yang diinisiasi atas saran dari Romo Yosef selaku kepala cabang ini melibatkan seluruh siswa dari berbagai tingkatan kelas dalam proses penanaman bibit. Dengan memanfaatkan lahan yang ada, sekolah berharap karakter anak untuk lebih menghargai lingkungan dan kesehatan dapat terbentuk sejak dini. Nggak, nggak mengganti MBG," pungkasnya.
(par/ams)











































