Warga di Kebonharjo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, sambat soal air menggenang di jalan kampung yang sudah terjadi dalam tiga hari. Warga menduga ada hubungannya dengan proyek pengerjaan dari PDAM Tirta Moedal.
Pantauan detikJateng di lokasi pada Jumat (24/4/2026), tampak sebagian Jalan Ronggowarsito II tergenang air dengan ketinggian sekitar 5 sentimeter. Tampak sejumlah pertokoan berada di samping jalan yang tergenang air tersebut.
Selain jalan tersebut, jalan Ronggowarsito II A pun tergenang air. Terlihat permukiman warga berdiri di samping jalan tersebut. Ketinggian air berbeda, ada juga yang menyisakan becek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang warga sekitar, Sahrul, mengungkap wilayahnya memang biasa terdampak banjir jika diguyur hujan, meski bakal surut dalam kurun waktu sekitar 10 menit. Namun, mulai adanya proyek pengerjaan dari PDAM tersebut, banjir bisa bertahan lama.
"Kalau banjir di sini itu kalau setiap hujan sehari penuh pasti banjir, sebelum ada galian ini, banjir itu paling 10 menit sudah surut. Tapi setelah ada galian ini sampai beberapa hari surut, contohnya ini rumah saya," kata Sahrul saat ditemui di rumahnya hari ini, Jumat (24/4).
"Paling tingginya sekitar 5 senti di atas mata kaki, bertahan beberapa hari. Semenjak ada galian PDAM ini, lumpur yang sedotannya itu dimasukkan ke gorong-gorong air mengendap dan air susah keluar ke irigasi depan," lanjutnya.
Akibat banjir yang tak kunjung surut, Sahrul mengatakan, aktivitas di rumahnya terganggu. Dia menduga jika awetnya banjir gegara proyek pengerjaan PDAM lantaran lumpur yang disedot dari proyek tersebut.
"Dampaknya ya masuk rumah ini, aktivitas jadi terganggu, banjirnya kan airnya, air kotor. Sebenarnya sudah menduga dari lama penyebabnya itu. Soalnya pihak galian ini menyedot ini mengeluarkan lumpur," ujar Sahrul menduga.
Sementara itu warga lainnya, Bambang, menyebut pada Selasa (21/4) terjadi banjir setinggi 20 cm di wilayahnya hingga dirinya tidak bisa ke luar rumah. Bahkan, banjir tersebut tak kunjung surut dalam waktu tiga hari.
"20 cm lebih, Selasa kemarin tidak bisa keluar. Tiga hari ini belum surut, ya setelah ada itu (proyek PDAM)," kata Bambang.
Ketua RT 4 Kebonharjo, Heni Widayanti, mengatakan dirinya senang dengan adanya proyek PDAM tersebut. Namun, Heni juga menilai, proyek itu menyebabkan banjir.
"Kami di tempat ini sudah berpuluh-puluh tahun. Tapi baru kali ini banjir tidak surut-surut. Memang kami senang ada PDAM baru, apalagi gratis. Tapi setelah diselesaikan pekerjaan PDAM itu membuat kami masalah yang besar tentang banjir ya," kata Heni.
Dia menduga banjir gegara proyek PDAM itu terjadi akibat sendimentasi lumpur di got. Alhasil banjir tak kunjung surut selama beberapa hari.
"Lumpur masuk got semua dan akhirnya seperti ini. Sebetulnya daerah sini nggak pernah seperti ini. Ya, baru kali ini dan ini pun sudah terang berapa hari, tapi belum juga surut," katanya.
"Lumpurnya harus dikeruk dulu baru mungkin kami terbebas seperti dulu lagi karena ini memang ini pun kalau tidak ada pengerukan tetap air ada," lanjutnya.
Dia pun memohon pihak PDAM dan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk menuntaskan masalah tersebut.
"Kami mohon juga pihak terkait baik PDAM, pihak Kota Semarang, juga ada tindak lanjutnya untuk segera dibantu untuk pengerukan supaya warga tidak resah," ungkapnya.
Respons PDAM
Dimintai tanggapan atas permasalahan tersebut, Kepala Humas PDAM Tirta Moedal, Charisma Mayang Sari, menerangkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemkot Semarang. Dia menduga, kondisi drainase di lokasi tersebut kurang optimal.
"Ini tadi PDM sudah koordinasi dengan pihak Pemerintah Kota Semarang. Memang daerah di Kebonharjo itu untuk drainasenya mungkin sudah kurang optimal, apalagi di bulan April selama kemarin 2-3 hari itu itu curah hujan tinggi," kata Mayang.
"Sehingga pasti dengan curah hujan tinggi itu menyebabkan air yang berlebihan dan juga pasti meluap. Dan karena drainasenya tidak memungkinkan untuk bisa mengantisipasi akhirnya jadi seperti itu," lanjutnya.
Dia pun mengatakan, awetnya banjir tersebut bukan karena proyek PDAM, tetapi penyebabnya adalah drainase. Meski begitu, pihaknya bakal mengecek permasalahan pasti penyebab awetnya banjir di lokasi tersebut.
"Memang yang dituju seperti yang kemarin ramai di medsos itu bukan karena proyek PDAM gitu. Itu memang karena drainasenya," katanya.
"Apabila memungkinkan, tim dari PDAM sekaligus direksi juga akan langsung cek ke sana gitu untuk memastikan keakuratannya," lanjutnya.
Lebih lanjut, Mayang mengatakan, proyek tersebut merupakan pemasangan jaringan pipa PDAM di Kebonharjo. Proyek tersebut berlangsung sejak 6 Oktober 2025 dan rencana rampung pada 1 Agustus 2026.
"Jadi proyek itu sebetulnya sudah pernah kita beritakan di media sosialnya PDAM namanya Project Water for Life, pekerjaan pemasangan jaringan pipa distribusi wilayah Kebonharjo dan Bandarharjo. Kemudian untuk pekerjaan ini dilaksanakan tanggal 6 Oktober 2025 sampai 1 Agustus 2026," terangnya.
Simak Video "Video Api Abadi Mrapen Padam, Kenapa?"
[Gambas:Video 20detik]
(alg/apu)











































