Respons Mahasiswa UNS Usai Kampus Terapkan WFH Tiap Jumat

Tara Wahyu NV - detikJateng
Rabu, 08 Apr 2026 17:17 WIB
Gedung Rektorat UNS. (Foto: Doc. UNS)
Solo -

Kebijakan Work From Home (WFH) atau pembatasan aktivitas luring yang diterapkan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo mendapat tanggapan beragam dari kalangan mahasiswa. Diketahui WFH di UNS bakal diterapkan setiap hari Jumat mulai 10 April 2026.

Mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik UNS, Junko Jurdan, mengungkapkan pandangannya terkait dampak kebijakan ini terhadap lingkungan sekaligus efektivitas belajar. Dirinya yang juga menjadi bagian dari tim riset mobil hemat energi, mengapresiasi sisi positif WFH dalam mendukung keberlanjutan lingkungan di area kampus.

"WFH adalah salah satu solusi kampus untuk mendukung ramah lingkungan, yaitu mengurangi emisi gas kendaraan di wilayah kampus serta mengurangi konsumsi bahan bakar fosil yang semakin menipis," ujar Junko kepada detikJateng, Selasa (8/4/2026).

Meski mendukung dari sisi ekologis, Junko mencatat sejumlah poin minus terkait efektivitas kegiatan akademik. Menurutnya, pembelajaran jarak jauh untuk program studi teknik memiliki tantangan yang berat.

"Di sini kami juga memandang poin minusnya, untuk WFH pembelajaran mata kuliah sendiri itu dinilai kurang efektif. Karena jika dibandingkan dengan kuliah secara offline pembelajaran WFH cukup sulit untuk dipahami dan mudahnya terdistraksi oleh hal di luar pembelajaran," ungkapnya.

"Selain itu, jika dinilai dari efektifitas UKM dan Ormawa, kontak secara langsung atau tatap muka juga mempermudah komunikasi," Sambungnya.

Meski kebijakan WFH berlaku untuk perkuliahan teori, Junko menjelaskan bahwa kegiatan praktikum di Laboratorium Teknik Mesin tetap dilaksanakan secara luring.

"Untuk jadwal praktikum tetap dilaksanakan sesuai jadwal luring. Kebetulan angkatan saya jadwal praktikum wajibnya di hari Jumat," jelasnya.

Namun, ia menyayangkan adanya pembatasan waktu yang membuat diskusi kelompok menjadi tidak maksimal.

"Walau praktikum tetap jalan offline, waktu efektif untuk berdiskusi kelompok tidak maksimal karena adanya pembatasan waktu yang sudah ditentukan," bebernya.

Sementara itu mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) angkatan 2024, Aiko Salsabila Fuadah menilai kebijakan ini membawa angin segar, terutama dari sisi efisiensi. Ia menyebut WFH sangat membantu mahasiswa yang selama ini harus menempuh perjalanan pulang-pergi (PP) ke kampus setiap hari.

"Menurutku WFH di lingkungan kampus cukup membantu ya, karena lebih efisien dari segi waktu dan biaya buat ke kampus. Apalagi buat mahasiswa yang PP, bisa hemat tiga bensin tiga hari," tuturnya.

Selain faktor finansial, Aiko melihat ada dampak positif bagi pengembangan diri mahasiswa. Sistem pembelajaran jarak jauh menuntut mahasiswa untuk lebih adaptif terhadap perangkat digital.

"WFH juga bikin kita sebagai mahasiswa jadi melek teknologi karena terbiasa pakai dan dituntut buat belajar lebih (soal teknologi)," tuturnya.

Meski merasakan manfaatnya, Aiko memberikan catatan penting bagi pihak kampus. Ia menekankan bahwa tantangan utama saat ini adalah menjaga kualitas materi agar tidak kalah dengan sistem luring.

"Tinggal gimana cara pelaksanaannya aja biar bisa tetep berdampak efektif selayaknya pembelajaran yang dilakukan secara luring,"

Terkait kekhawatiran terganggunya jadwal praktikum akibat WFH, Aiko mengaku beruntung. Untuk semester ini, jadwal praktikumnya tidak berbenturan dengan kebijakan pembatasan luring di hari tertentu.

"Semester lalu ada (praktikum), tapi buat semester ini jadwal praktikum kosong di hari Jumat, jadi nggak mengganggu," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Universitas Sebelas Maret (UNS) mulai menerapkan work from home (WFH) di lingkungan kampus untuk menghemat energi. Kegiatan perkuliahan pada hari itu bakal digelar daring maupun luring.

Aturan WFH tertuang pada Surat Edaran Nomor: 9/UN27/SE/2026 tentang Penyesuaian Pola Kerja Kedinasan bagi Pegawai dan Penyesuaian Penyelenggaraan Kegiatan Akademik di lingkungan Universitas Sebelas Maret. Rektor UNS, Prof Hartono mengatakan surat edaran tersebut menindaklanjuti dari Surat Edaran Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 2 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pola Kerja di Lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan Penyesuaian Penyelenggaraan Kegiatan Akademik di Perguruan Tinggi.

"Karena ada edaran menteri, jadi intinya pertama kan mengacu pada edaran menteri. Intinya begini, hari Jumat ada Work From Home(WFH)," katanya dihubungi detikJateng, Rabu (8/4/2026).

Dengan adanya WFH, pembelajaran otomatis dilakukan secara daring atau online. Meski begitu, tidak semua pembelajaran dilakukan secara daring.

"Hari Jumat itu pembelajaran yang bisa daring ya diarahkan ke daring. Tapi kalau pembelajaran yang harus luring, itu tetap luring. Kegiatan yang harus luring tetap luring, seperti praktikum, kuliah lapangan, kayak gitu," terangnya.

"Kegiatan akademik yang memerlukan praktikum, laboratorium, studio, klinik, bengkel kerja, praktik lapangan, atau bentuk pembelajaran lain harus dilaksanakan secara luring sesuai jadwal yang ditetapkan sebelumnya," sambungnya.



Simak Video "Video Api Abadi Mrapen Padam, Kenapa?"

(aku/dil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork