Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mencatat temuan penderita campak di Pati ada sebanyak 20 kasus. Merespons kasus ini, Dinkes Pati menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) untuk penanganan penyakit campak.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, Salis Diah Rahmawati mengatakan kasus ini ditemukan sejak awal bulan Ramadan atau awal bulan Maret 2026 lalu.
"Kasus yang masuk di Pati sampai April 2026 ini tercatat yang masuk ke Dinkes ada 20 kasus," jelas Salis saat ditemui di kantor Dinkes Pati, Kamis (2/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salis mengatakan para penderita campak langsung mendapatkan perawatan. Mereka dirawat di rumah sakit. Saat ini, kondisi pasien campak itu berangsur membaik dan sembuh.
"Alhamdulillah seiring waktu penanganan yang tepat dari teman-teman nakes, Alhamdulillah berangsur sembuh dan membaik. Tidak ada yang gawat darurat," terang Salis.
Salis bilang jika penyakit campak ini bermunculan tidak hanya di Pati, tetapi juga daerah lain. Di Pati awalnya ada 6 orang yang menderita campak. Mereka tersebar di wilayah Sukolilo, Tambakromo, dan Tayu.
"Memang saat ini campak lagi viral tidak hanya di Pati, seluruh Indonesia ini cukup banyak virus. Apalagi ini musim Lebaran dan banyak dari warga luar masuk ke Pati dan sebagainya," jelasnya.
Salis merinci pada mulanya ada 6 orang penderita campak, kemudian bertambah dan di antaranya ditemukan di wilayah Kecamatan Margorejo Pati. Kini, ada 20 penderita yang positif campak.
"Awalnya 6 kasus, Sukolilo, Tayu, sama Tambakromo. Kemudian, dapat laporan yang positif dari Margorejo wilayah yang banyak. Margorejo dan Desa Jambean Kidul. Yang dirawat dan kebanyakan isolasi di rumah dengan pantauan tim nakes," terang dia.
Mereka penderita campak mayoritas berusia anak-anak. Sedangkan, ada satu penderita campak berusia dewasa, seorang nakes yang diduga tertular dari pasien, namun kini kondisinya sudah sembuh.
"Rata-rata anak usia TK, ada yang berusia 24 tahun dan tidak lama sudah sembuh," kata Salis.
"Sampai saat ini alhamdulillah tidak ada yang sampai meninggal dunia," imbuhnya.
Adapun gejala penyakit campak ini seperti demam, flu, badan sakit, dan ada bintik merah di bagian telinga. Apabila ditemukan gejala tersebut, sebaiknya segera melaporkan kepada petugas kesehatan baik di puskesmas atau rumah sakit.
"Awalnya demam, flu, badan sakit semua yang menjadi khas ada bintik merah di belakang telinga terus menyebar ke seluruh tubuh. Langsung dibawa ke petugas kesehatan baik di Puskesmas atau di rumah sakit," jelasnya.
Salis mengatakan dinkes pun telah menetapkan status kejadian luar biasa atau KLB. Tujuannya untuk menangani dan mengantisipasi agar penyebaran penyakit campak tidak semakin parah.
"Kejadian luar biasa, dari sisi kesehatan ketika ada 2 kasus atau kejadian yang sama, tanda dan kejadian sama berada dalam satu lingkungan epidemiologi, misalnya kakak adik, atau satu lingkungan sekolah itu bisa disebut KLB," ujar Salis.
"Jangan sampai dibesarkan tetapi ini menjadi warning agar lebih berhati-hari karena penyakit campak ini adalah berbahaya. Maka kami imbau kepada orang tua untuk menjaga putra putrinya vaksinasi tetap dilakukan," imbuhnya.
Untuk menangani kasus campak ini, Dinkes Pati akan menggelar vaksinasi.
"Vaksinasi kita melakukan pendataan dan kita akan usulan ke Dinkes Pemprov," ungkap Salis.
Sali mengimbau kepada warga agar selalu menjaga pola hidup sehat hingga memperhatikan daya tahan tubuh terutama makan dan gizi.
"Untuk antisipasi kita pertama PHBS yang menjaga cuci tangan sebelum makan, kemarin imbau kepada masyarakat menjaga anak-anaknya di pusat keramaian, daya tahan tubuh terutama makan, gizinya untuk lebih diperhatikan," jelasnya.
(par/afn)











































