Di balik perbukitan Wanareja, Cilacap, terdapat desa yang belakangan ini ramai dibicarakan di media sosial. Desa Jambu namanya. Banyak orang menjulukinya 'kampung sultan' karena deretan rumah besar dan mewah buah karya para warganya yang merantau jadi juragan kelontong.
Desa Jambu hanya memiliki satu akses jalan dari pusat keramaian Kecamatan Wanareja yang berjarak sekitar 24 kilometer atau satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Dari pusat pemerintahan di kota Cilacap sekitar 100 km dengan waktu tempuh sekitar 4 jam.
Sebagian ruas jalan menuju desa sudah beraspal halus. Namun, ada juga sebagian jalan yang rusak, terutama saat melintasi kawasan hutan pinus sebelum memasuki permukiman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski berada di wilayah yang cukup terpencil, wajah permukiman Desa Jambu berbeda dengan kebanyakan desa lain. Rumah-rumah warga berdiri rapat layaknya kompleks perumahan elite di kota, dengan bangunan bertingkat dan tampilan megah.
"Kalau dibandingkan dengan desa lain yang kategorinya kampung, memang beda. Rumahnya ada yang tingkat, mewah lah istilahnya. Orang-orang kabupaten juga kadang bilang, kok ini kayak rumah (anggota) dewan," kata Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Jambu, Enno Carsono, saat ditemui detikJateng, Kamis (5/3/2026).
Ia mengatakan, banyak rumah di desa tersebut yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Nominal itu tergolong besar untuk ukuran rumah di pedesaan.
"Kalau mungkin dihitung uang, nilainya sekitar Rp 500 juta sampai Rp 1 miliar. Di kampung kan sudah dianggap mewah," ujarnya.
Salah satu rumah mewah di kompleks Desa Jambu, Wanareja, Cilacap yang dijuluki Kampung Sultan. Foto: Anang Firmansyah/detikJateng |
Awal Mula Julukan Kampung Sultan
Julukan kampung sultan, menurut Enno, muncul dari orang luar yang datang berkunjung ke desanya lalu membagikan video atau foto hasil jepretannya di media sosial.
"Ada mungkin YouTuber atau orang yang pertama kali jalan-jalan ke sini, lihat rumahnya kok beda dengan kampung lain. Dari situ mungkin muncul penyebutan kampung sultan," ucap Enno.
Perbedaan yang paling mencolok, lanjut Enno, adalah tata letak permukiman. Jika di desa lain rumah warga biasanya berjauhan dengan kebun di sekelilingnya, di Desa Jambu justru tersusun seperti kompleks perumahan.
"Kalau kampung di wilayah lain kan rumahnya selang-seling, ada kebun di antaranya. Kalau di sini kebetulan seperti kompleks di kota," katanya.
Kisah Perantau Mengubah Wajah Desa
Di balik kemegahan rumah-rumah tersebut, terdapat kisah panjang perjuangan para perantau asal Desa Jambu.
Desa yang dihuni sekitar 3.400 penduduk itu memiliki tradisi merantau yang sangat kuat. Menurut Enno, sekitar 70 persen warganya memilih mencari penghidupan di luar daerah.
"Kalau total penduduk sekitar 3.400 orang. Persentase yang merantau hampir 70 persen," ujarnya.
Para perantau tersebut tersebar di berbagai kota besar, seperti Bandung, Bogor, dan Jakarta. Namun, Bandung menjadi tujuan utama.
"Biasanya yang paling banyak ke Bandung. Misalnya dari 500 orang yang merantau, sekitar 400 orang di Bandung, sisanya tersebar di tempat lain," kata Enno.
Belakangan, sebagian warga juga mulai merantau ke wilayah timur seperti Cilacap kota, Kebumen, hingga Purwokerto. Ada pula yang membuka usaha di kota-kota kecil tingkat kecamatan.
Petani Jadi Juragan Sembako
Sebelum tradisi merantau berkembang, sebagian besar warga Desa Jambu bekerja di sektor pertanian. Ada yang menjadi petani, peternak, buruh harian lepas, hingga kuli bangunan. Namun perlahan keadaan berubah ketika beberapa warga mencoba peruntungan di kota.
"Awalnya mungkin sekitar tahun 2000-an ada satu dua orang yang merantau ke Bandung atau Jakarta. Setelah beberapa lama terlihat usahanya sukses," kata Enno.
Keberhasilan para perantau itu memicu rasa penasaran warga lain. Mereka mulai bertanya tentang usaha yang dijalankan di kota.
Penampakan salah satu sudut di Desa Jambu, Wanareja Cilacap yang dijuluki Kampung Sultan. Foto: Anang Firmansyah/detikJateng |
"Kemudian yang di kampung tanya-tanya, usahanya apa di sana. Banyak yang jualan sembako atau toko kelontong," jelasnya.
Dari situlah gelombang perantauan semakin besar. Warga yang memiliki sedikit modal ikut mencoba membuka usaha serupa di kota. "Lama-lama yang berangkat nambah lagi, nambah lagi. Mungkin sekitar 2015 mulai banyak yang merantau," ujarnya.
Rumah Mewah Mulai Bermunculan
Seiring keberhasilan para perantau, wajah Desa Jambu perlahan berubah. Rumah-rumah megah mulai bermunculan.
Menurut Enno, pembangunan rumah besar mulai terlihat sekitar tahun 2015. Namun lonjakan paling signifikan terjadi setelah 2020.
"Yang booming itu sekitar 2015 mulai dibangun. Tapi yang bangunan mewah-mewah itu sekitar 2020 ke sini," kata dia.
Sebelumnya, hanya satu-dua rumah yang terlihat mencolok. Kini, deretan bangunan besar menjadi pemandangan yang lumrah di desa tersebut.













































