Beredar di media sosial soal menu Makan Bergizi Gratis di Satuan Pelayanan Makanan Bergizi (SPPG) Gondang 1, Sragen berupa telur rebus yang belum matang. Pembagian MBG tersebut dilakukan di hari pertama masuk sekolah awal bulan Ramadan.
Kabar tersebut dibenarkan oleh Ketua SPPG Gondang 1, Afrizal saat dihubungi detikJateng. Afrizal mengaku menu MBG pada Senin (23/2) kemarin berupa telur rebus dua biji, pisang cokelat dan jeruk. Rizal, sapaannya itu mengaku bahwa ada beberapa telur rebus yang belum matang. Ia mengaku ada kesalahan teknis dari SPPG.
"Itu memang kesalahan murni dari SPPG karena ada kendala teknis terkait pematangan telur. Menunya memang telur rebus, masing-masing anak dapat dua," katanya dihubungi detikJateng, Selasa (24/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rizal menyebut bahwa membagikan 2.400 MBG ke 8 sekolah. Dari 2.400 penerima masing-masing menerima dua butir telur.
"Kita juga sudah menyampaikan permohonan maaf kepada penerima manfaat dan kami mengganti menu dua telur," ucapnya.
Setelah mendapat laporan itu, pihaknya mengganti menu telur kemarin ke susu kemasan yang dibagikan hari ini. Susu yang ia bagikan pada hari ini berjumlah 4.800 sesuai dengan telur yang dibagikan kemarin.
"Susu dibagikan hari ini, karena kemarin kita kontak PIC sekolah, penanggung jawab sekolah. Yang telurnya yang tidak matang, silakan di-list, tetapi belum ada jawaban, maka dari itu, ya sikap kami untuk menjaga kualitas layanan, kami ganti semuanya saja," terangnya.
Afrizal membeberkan bahwa proses pengolahan ribuan telur tersebut dilakukan secara bertahap sejak pukul 02.00 WIB dini hari. Namun, keterbatasan alat steam yang hanya berkapasitas ratusan butir per sekali masak membuat tim harus bekerja ekstra cepat.
"Alatnya hanya cukup untuk ratusan, jadi memang bertahap. Kemarin ada miskomunikasi antara tim pengolahan dengan yang memegang alat steam. Sepertinya ada yang dikeluarkan terlebih dahulu sebelum waktunya matang sempurna," jelasnya.
Selain itu, kata dia, ada miskomunikasi mengenai pengolahan telur rebus. Dari keterangan yang diterima, pihak pengolahan dari pengolah yang pertama.
"Kelihatannya ada miskom seperti itu dari pengolahan. Saya sudah melakukan evaluasi, kata dari tim pengolahan itu, itu tuh miskom sama yang megang pertama, seperti itu. Jadi kelihatannya sudah dikeluarkan terlebih dahulu seperti itu," jelasnya.
Pasca kejadian ini, pihaknya langsung melakukan evaluasi total terhadap seluruh relawan dan tim pengolahan. Ke depannya, standar operasional prosedur (SOP) akan diperketat, termasuk kewajiban melakukan uji sampel kematangan pada setiap tahap steam.
"Saya sudah evaluasi malamnya. Ke depan, setiap habis steam harus langsung dicoba untuk memastikan benar-benar matang sebelum didistribusikan. Kami memohon maaf kepada para penerima manfaat atas ketidaknyamanan ini," pungkasnya.
(alg/afn)
