Di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, aktivitas mengaji rutin digelar setiap sore. Namun, yang memimpin bukan ustaz atau kiai, melainkan seorang waria bernama Silvy Mutiari.
Pantauan detikJateng di ruang tamu rumah Silvy, tampak Silvy yang mengenakan jilbab dan gamis hitam tengah mengajar mengaji anak-anak setempat. Dengan sabar Silvy tampak menuntun anak-anak SD itu membaca huruf hijaiyah dalam Buku Iqra.
Meski hanya belajar di ruang tamu yang dipenuhi alat-alat dan baju rias Silvy, anak-anak yang mengenakan mukena itu tetap khusyuk belajar membaca hijaiyah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Silvy, yang kini menjabat sebagai Ketua Persatuan Waria Semarang, mengaku mulai mengajar baca tulis Al-Qur'an sejak 2019. Awalnya, orang tua murid meminta tambahan pelajaran agama untuk anak-anak mereka di luar TPA masjid.
"Waktu itu liburan sekolah. Orang tua ingin anaknya lebih cepat bisa baca Al-Qur'an. Jadi sebelum Magrib ke sini dulu, les tambahan, habis itu baru ke masjid," kata Silvy saat ditemui detikJateng di rumahnya, Jumat (20/2/2026).
Ketua Perwaris Kota Semarang, Silvy Mutiari tengah mengajar ngaji anak-anak di rumahnya, di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Jumat (20/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Kini, ada sekitar empat anak yang rutin belajar mengaji di rumahnya. Selain itu, dua ibu-ibu juga kerap mengikuti kelas mengaji secara rutin. Setiap Kamis malam, selepas Isya, Silvy bersama kakaknya juga memimpin pengajian khusus ibu-ibu, mulai dari Yasin, tahlil, hingga pembacaan Asmaul Husna dan Barzanji.
Silvy mengatakan, kegiatan mengaji di keluarganya sudah dimulai sejak 2005 oleh sang ibu. Ia dan kakaknya, Lisa, yang sejak kecil memang sudah rajin mengaji di masjid pun akhirnya meneruskan tradisi tersebut.
"Istilahnya meneruskan Ibu yang sudah memulai dulu. Jadi sejak tahun 2005 Ibu sudah aktif mengajar ngaji di sini," ujarnya.
"Jadi saya meneruskan, juga biar tidak berhenti mengaji atau lupa, diteruskan lah pelajaran mengaji, ilmu tajwid, baca-tulis Al-Qur'an kalau lama nggak dipraktikkan kan lupa atau hilang," lanjutnya.
Menariknya, Silvy tidak mematok bayaran. Ia mengajar secara ikhlas. Jika ada orang tua yang memberi uang, ia terima sebagai bentuk sukarela. Namun jika tidak, Silvy pun tak keberatan.
"(Dibayar nggak?) Nggak. Saya ikhlas, jadi bayar mungkin sebungkus rokok, seikhlasnya ya; nggak mau ngasih pun saya ikhlas dan kadang orang tua anak-anak ini memberi buat beli rokok atau beli jajan," ungkapnya.
Dalam kesehariannya, Silvy bekerja sebagai perias, penampil, dan pembawa acara. Namun saat mengajar ngaji, ia berusaha menjaga suasana tetap nyaman. Ia juga tidak mewajibkan murid mengenakan hijab.
"Kalau sehari-hari saya nggak pakai jilbab, kalau pas ngajar ngaji aja. Kalau anak-anak nggak tak wajibkan pakai hijab atau pakai gamis. Jadi senyamannya aja, karena ini bukan tempat ibadah, jadi senyamannya anak-anak, saya bebaskan," tuturnya.
Selama tujuh tahun mengajar, Silvy mengaku tidak pernah mendapat penolakan dari warga sekitar. Justru, ia kerap diminta memimpin doa dalam acara tujuh harian, 40 harian, hingga pengajian keluarga.
"Alhamdulillah penerimaannya positif. Dari getok tular, murid nambah. Nggak ada stigma negatif di lingkungan sini, sih," ujarnya.
Ia menyebut, ruang aman yang tercipta di kampung tersebut, serta dukungan dari lingkungan dan keluarganya menjadi kunci konsistensi dirinya hingga hari ini. Bagi Silvy, mengajar ngaji juga menjadi pengingat bagi dirinya sendiri.
"Ini semacam border dari berbuat negatif, buat saya. Kalau ngajari ngaji, masa kelakuannya negatif? Jadi pengingat supaya tetap di jalan yang baik," katanya.
Selain aktif mengajar, Silvy juga memimpin komunitas Perwaris Satu Hati yang beranggotakan sekitar 50 orang dari Semarang Raya. Selama Ramadan, komunitas tersebut rutin menggelar kegiatan sosial seperti berbagi takjil dan sahur on the road.
Menurutnya, suasana keberagaman dan toleransi di Kota Semarang sudah lebih kondusif dari daerah lain. Ia pun berharap toleransi dan penerimaan terhadap komunitas waria terus dijaga.
"Harapannya lebih ditingkatkan toleransinya, apapun yang kita lakukan, kalau sudah berpandangan negatif dulu, akan jelek juga di mata dia," harapnya.
"Jadi hilangkan dulu pandangan negatif terhadap siapapun komunitasnya, khususnya waria, trans human, agar bisa melihat diri kami sebagai sosok yang inspiratif dan bisa berkegiatan positif di tengah masyarakat," sambungnya.

