Hujan rintik-rintik mengguyur daerah Pekojan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang sore ini. Di tengah hujan, ratusan jemaah menikmati bubur India yang sudah turun temurun disajikan di Masjid Pekojan, sebagai hidangan berbuka puasa selama Ramadan.
Aroma rempah sudah langsung tercium dari halaman Masjid Pekojan. Di masjid yang berada di kawasan Pekojan ini, bubur India menjadi sajian khas berbuka puasa yang sudah bertahan turun-temurun.
Para juru masak sudah menyiapkan makanan sejak siang tadi. Mangkuk berisi bubur yang di atasnya dihidangkan sayur sambal goreng jipang sudah disiapkan sejak sore. Semangka, kurma, wingko, dan teh juga disiapkan di samping mangkuk berisi bubur India.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari luar, tampilan bubur India tak berbeda jauh dengan bubur pada umumnya. Hanya terlihat lebih putih dengan campuran wortel dan daun bawang. Sementara rasanya terasa lebih kuat dengan rasa rempah-rempah.
Para pengunjung Masjid Jami' Pekojan yang sudah berada di masjid sejak bakda (usai) Asar pun langsung menyantap bubur dengan nikmat begitu beduk ditabuh.
"Enak rasa buburnya. Pokoknya mantap lah ini, nggak mengecewakan pokoknya," kata salah satu pengunjung asal Barito, Agus Wijayanto, di lokasi, Kamis (19/2/2026).
Potret bubur India yang dihidangkan di Masjid Jami' Pekojan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Kamis (19/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Ia mengaku sudah setiap tahun berbuka di Masjid Pekojan. Hari ini, menjadi Ramadan ketiga dirinya berbuka di Masjid Pekojan. Menurutnya, berbuka puasa dengan bubur India memiliki kenangan tersendiri baginya.
"Saya sudah ketiga kalinya ini. Buburnya ngangenin, enak pokoknya. Cita rasanya juga pas. Jadi, mantap lah," ungkapnya.
Agus pun membungkus bubur untuk satu keluarganya di rumah. Ia menyebut, bubur India tersebut masih bisa disantap keesokan harinya.
"Jadi besoknya masih bisa dimakan lagi. Biasanya kalau ambil di sini untuk satu keluarga, empat orang," ujarnya.
"Rasanya buburnya itu yang bikin beda dengan yang lainnya. Ngangenin lah, setiap Ramadan harus ke sini," lanjut Agus.
Sementara salah satu warga asal Ngaliyan, Endang (20), mengaku baru pertama kali berbuka puasa bersama di Masjid Jami' Pekojan dan menjajal bubur India.
Suasana berbuka bersama di Masjid Jami' Pekojan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Kamis (19/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
"Ini baru pertama kali, aku cukup banyak berekspektasi, aku penasaran banget sebulan yang lalu, jadi pas puasa langsung ke sini. Takutnya ramai banget, ternyata nggak, dan masih bisa kita nikmati suasana berbukanya," kata Endang.
"Rasanya sedikit gurih dan berempah, pedas, tapi dari segi tekstur sama kayak bubur pada umumnya," lanjutnya.
Resep Turun Temurun
Juru masak bubur India, Achmad Paserin (55), mengatakan tradisi berbuka puasa dengan bubur india sudah ada sejak lama dan terus dilestarikan hingga kini.
"Bubur Pekojan ini hadir setiap Ramadan. Nah, ini kita cuma meneruskan dari orang-orang tua kita dulu. Ini terus melestarikan budaya sampai hari ini," kata Achmad.
Achmad sendiri sudah 16 tahun terlibat langsung memasak bubur tersebut. Meski bukan warga asli Pekojan, Achmad tetap meneruskan tradisi yang sudah mengakar di lingkungan masjid.
"Bedanya bubur India sama bubur lainnya itu di rempah-rempahnya. Bubur biasa kan paling santan sama garam. Nah ini ada jahe, kayu manis, daun salam, pandan. Banyak sih rempah-rempahnya," ujarnya.
Ia menjelaskan, bahan utama bubur India terdiri dari beras, kelapa, dan garam. Sementara rempah-rempah yang digunakan yakni bawang putih, bawang merah, daun salam, kayu manis, serai, jahe, hingga daun pandan.
"Tidak (perlu kemampuan khusus memasak). Resepnya sudah turun temurun, sudah dari dulu terus," katanya.
Proses memasak bubur India pun memakan waktu sekitar satu setengah jam setelah semua bumbu dimasukkan. Biasanya, persiapan dilakukan sejak pukul 10.00 WIB agar bubur siap dibagikan menjelang waktu berbuka.
"Setiap tahun menyiapkan sekitar 200 porsi mangkok lebih sedikit. Kalau bahannya 21 kilogram," jelas Achmad.
Menurut cerita turun-temurun, kata Achmad, bubur India di Pekojan berawal dari kedatangan para musafir asal Gujarat, India, yang singgah di kawasan tersebut pada masa lalu.
"Katanya dulu banyak musafir dari Gujarat, India. Mereka singgah di musala atau masjid, lalu bikin masakan untuk buka bersama. Mungkin yang simpel bubur untuk buka puasa. Terus dikolaborasilah antara masakan Indonesia dengan India," tutur Achmad.
Seiring waktu, bubur tersebut menjadi tradisi tahunan setiap Ramadan di Masjid Pekojan dan selalu dinanti jemaah.













































