Konon Pernah Ada Benteng VOC di Kompleks DPRD Rembang, Begini Ceritanya

Konon Pernah Ada Benteng VOC di Kompleks DPRD Rembang, Begini Ceritanya

Mukhammad Fadlil - detikJateng
Minggu, 15 Feb 2026 14:54 WIB
Konon pernah ada benteng VOC di lahan yang kini jadi kompleks DPRD Rembang, begini ceritanya.
Gedung DPRD Rembang, Senin (22/7/2024). Foto: dok detikJateng
Rembang -

Gedung DPRD Rembang dan Kantor Bupati Rembang konon berdiri di tanah bekas berdirinya Benteng VOC. Benteng VOC itu bahkan disebut-sebut pernah menjadi simbol kuatnya kuasa dagang dan politik kolonial di pesisir utara Jawa.

Pemerhati sejarah Rembang yang juga akademisi UIN Raden Mas Said Surakarta, Muhammad Nabil Fahmi, menyebut benteng itu didirikan sekitar tahun 1650 M sebagai pos dagang.

"Awalnya ini hanya pos dagang, sebagaimana pola umum pendirian benteng-benteng awal VOC di Hindia-Belanda," ujar Nabil kepada detikJateng, Minggu (15/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, seiring menguatnya penetrasi politik Kompeni, fungsi benteng itu berubah. "Ketika kepentingan dagang harus diamankan, maka pos itu berkembang menjadi benteng pertahanan. Dari situ kemudian bertransformasi lagi menjadi semacam kota-benteng VOC atau Belanda," jelasnya.

Ia menambahkan, konstruksi awal benteng terbuat dari kayu sebelum akhirnya dibangun ulang dengan material batu yang lebih kokoh.

ADVERTISEMENT

"Awalnya kayu, lalu diperkuat dengan bangunan batu. Itu menunjukkan ada peningkatan kepentingan strategis di wilayah Rembang," katanya.

Saksi Bisu Perlawanan

Menurut Nabil, benteng tersebut tidak hanya menjadi pusat administrasi dan militer, tetapi juga saksi berbagai perlawanan rakyat.

"Benteng ini berulang kali jatuh, hancur, dan diserbu oleh pasukan perlawanan dari Rembang, Lasem, dan sekitarnya," ungkapnya.

Ia merinci, salah satu momentum penting terjadi dalam Geger Pacinan (1740-1743), ketika laskar gabungan Sino-Jawa menggempur pos-pos VOC.

"Serbuan laskar Sino-Jawa saat Geger Pacinan itu salah satunya menyasar wilayah ini," tuturnya.

Perlawanan juga muncul dalam bentuk Laskar Perang Sabil pada 1750 yang merupakan koalisi santri dan masyarakat Sino-Jawa. Enam tahun kemudian, Laskar Raden Mas Said melakukan serbuan cepat di Rembang dan Lasem.

Dinamika konflik tersebut berdampak luas. Pada 13 November 1743, Susuhunan Pakubuwono II menandatangani perjanjian dengan VOC yang menyerahkan sejumlah wilayah pesisir utara Jawa, termasuk Rembang dan Lasem.

"Itu menjadi titik penting karena sejak saat itu kontrol VOC di pesisir utara Jawa makin kuat secara legal dan politik," kata Nabil.

Lahan Bekas Benteng Dibangun Kompleks DPRD Rembang

Seiring stabilnya kekuasaan kolonial, kawasan benteng berkembang. Pemukiman orang Eropa mulai bermunculan di dalam dan sekitar benteng.

"Desainnya sempat berubah jadi lebih kecil, mungkin lebih efisien. Tapi detail tahunnya masih perlu penelitian lebih lanjut," jelasnya.

Saat Inggris berkuasa di Jawa sekitar 1811, sebagian tembok benteng itu dirobohkan. Sejumlah bangunan di dalamnya kemudian dibangun ulang menjadi Residenthuis atau kediaman Residen Belanda.

"Kalau dilihat dari sisi arsitektural, bangunan utama Residenthuis itu kemungkinan salah satu bangunan lama di dalam benteng yang dipertahankan. Bisa jadi itu bekas kediaman kepala pos dagang Kompeni," ujar Nabil.

Pascakemerdekaan, bangunan itu dikenal masyarakat sebagai gedung kompi. Namun pada 1990-an, gedung tersebut dirobohkan dan dibangun ulang menjadi kompleks gedung DPRD serta Kantor Bupati Rembang.

"Dengan hilangnya gedung kompi itu, bisa dikatakan hilang pula sisa terakhir dari Benteng VOC di Rembang," tegasnya.

Tinggal Arsip dan Hipotesis

Nabil mengakui, hingga kini bentuk asli benteng tidak pernah benar-benar diketahui. "Kita tidak pernah tahu persis seperti apa bentuk atau sisa-sisa bentuk benteng itu," katanya.

Pengetahuan tentang desain benteng hanya bersumber dari arsip denah, peta lama, dan lukisan litografi. Foto-foto tertua Rembang pun lebih banyak menampilkan Residenthuis.

"Ini memang masih hipotesis saya, tapi mungkin hingga pertengahan abad ke-19 masih ada sisa-sisa benteng, entah berupa pondasi atau bagian tembok luar," ujarnya.

Nabil mencontohkan, peta tahun 1887 yang masih menggambarkan sketsa berbentuk benteng di kawasan tersebut.

"Apakah itu karena memang masih ada sisa fisiknya, atau hanya sebagai tetenger bahwa di situ dulu pernah berdiri benteng, itu yang masih perlu dikaji," katanya.

Jika benar benteng sudah dibongkar sejak masa kolonial Inggris, maka gambar pada peta tersebut menjadi tanda tanya sejarah yang belum sepenuhnya terjawab. Kini, jejak Benteng VOC Rembang tinggal catatan arsip dan ingatan kolektif, sementara lokasinya telah berubah menjadi pusat pemerintahan daerah.




(afn/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads