Mahasiswa Universitas Boyolali Demo Tuntut Pembatalan Rektor Terpilih

Mahasiswa Universitas Boyolali Demo Tuntut Pembatalan Rektor Terpilih

Jarmaji - detikJateng
Rabu, 11 Feb 2026 17:26 WIB
Aksi demo mahasiswa UBY aksi saat pelantikan Rektor, Rabu (11/2/2026).
Aksi demo mahasiswa UBY aksi saat pelantikan Rektor, Rabu (11/2/2026). (Foto: Jarmaji/detikJateng)
Boyolali -

Pelantikan Rektor Universitas Boyolali (UBY) diwarnai unjuk rasa dari para mahasiswanya. Para mahasiswa menuntut pembatalan rektor terpilih.

Meski diwarnai demo mahasiswa, pelantikan tetap digelar di Grha Amarta Universitas Boyolali. Dr. Nanik Sutarni, SH MH kembali dilantik sebagai Rektor UBY masa bakti 2026-2030.

Terpilihnya kembali Nanik Sutarni memunculkan gejolak di kampus tersebut. Senat menyatakan mosi tidak percaya dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga melancarkan aksi demo yang salah satu tuntutannya pembatalan Rektor terpilih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hari ini pada acara pelantikan (Rektor baru) kami menyampaikan mosi tidak percaya berkaitan dengan penetapan Rektor terpilih," kata Ketua Senat UBY, Purwadi, di sela-sela aksi Rabu (11/2/2026).

Dikemukakan dia, dalam pemilihan Rektor baru, Senat telah melaksanakan fungsinya sesuai peraturan yang disusun oleh Yayasan. Dalam pemilihan tersebut, Senat dilibatkan pada saat proses pertimbangan.

ADVERTISEMENT

"Selanjutnya dari teman-teman Senat sudah melaksanakan pertimbangan sesuai dengan peraturan yang ada. Berkaitan dengan beberapa aspek ya. Salah satunya adalah berkaitan dengan manajemen perguruan tinggi, berkaitan dengan Tri Dharma, berkaitan dengan personalitas," jelasnya.

Menurut dia, dari anggota Senat telah melaksanakan pertimbangan dengan sebaik-baiknya dan secara objektif. Ada dua kandidat Rektor, yakni Rektor petahana, Nanik Sutarni dan Dekan Fakultas Hukum, Burhan Pranawa.

Dari rapat pleno yang dilakukan oleh Senat, memutuskan mengusulkan Burhan Pranawa sebagai calon Rektor UBY. Burhan disebutkan sebagai kandidat yang layak menjabat Rektor baru, yang dibutuhkan oleh UBY.

"Dari 16 anggota Senat, ada 12 yang mengusulkan Pak Burhan. Ada tiga yang mengusulkan Bu Nanik dan ada satu yang rusak karena mengusulkan kedua-duanya. Dasar itulah yang kami serahkan kepada Yayasan untuk bahan pertimbangan," ungkap Purwadi.

Selanjutnya Yayasan melakukan fit and proper test terhadap dua kandidat. Yayasan juga mengadakan pertimbangan untuk memutuskan.

Dalam perjalanannya, lanjut Purwadi, dia merasa pertimbangan dari senat tidak diperhatikan. Tetapi faktor-faktor lain dari eksternal yang menjadi fokusnya.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UBY, Yudha Wardhana, mengatakan dalam aksinya ada 6 tuntutan yang disampaikan. Tuntutan tersebut terkait dengan keluhan dan keresahan para mahasiswa, yang mana selama kepemimpinan rektor yang lama masih ada evaluasi-evaluasi yang harus dibenahi. Kemudian di tuntutan point ke-6, meminta pelantikan Rektor dibatalkan.

Usai pelantikan, para mahasiswa kemudian menggeruduk masuk ke Graha Amarta, lokasi pelantikan. Mereka beraudiensi dengan Rektor baru dan pihak yayasan.

"Kemudian terkait point 6 memang ada sedikit revisi, yang tadinya tuntutan untuk pembatalan pelantikan rektor, Kita ubah tuntutannya menjadi kaji ulang. Untuk ke depannya insyaallah nanti akan kita kawal terus untuk mekanisme pemilihan rektor ini agar benar-benar mencerminkan pemilihan rektor yang demokratis dan berpihak pada suara mayoritas," kata Yudha.

Penjelasan Pihak Yayasan

Sementara itu Ketua Yayasan Bhinneka Karya, Indriyatmoko, menyatakan bahwa pemilihan Rektor UBY ini telah sesuai aturan yang ada. Telah sesuai dengan peraturan yang dibuat dan disetujui oleh Senat.

"Mekanisme (pemilihan Rektor) itu sudah sesuai peraturan yang dibuat Yayasan. Tetapi pada waktu membuat peraturan dari Senat itu sudah memberikan persetujuan berita acara. Jadi statuta itu sudah disetujui senat melalui mekanisme rapat pleno dan ada berita acara," ujar dia.

"Lha kalau sekarang nanti senat ini juga merasa tidak pas, ternyata kok dalam pelaksanaannya kok ternyata beda misalnya begitu. Ya mari kita kaji ulang. Wong ini (peraturan) yang buat sama-sama orang, manusia gitu loh," sambung dia.

Dikemukakan dia, dalam peraturan berbunyi bahwa Senat dapat mengusulkan. Kalimat 'dapat mengusulkan' tidak mutlak harus dipenuhi.

Pihaknya juga menerima tuntutan dari para mahasiswa. Dari 6 tuntutan, point 1 sampai 5 bisa diterima. Namun poin 6 tentang pembatalan Rektor, tidak bisa diterima, karena itu ranahnya Pembina Yayasan.

"Tadi dari mahasiswa sepakat direvisi menjadi dikaji ulang. Nah, kalau dikaji ulang nggak masalah, nanti dikaji ulang," ucap dia.

Indriyatmoko menjelaskan akhirnya Yayasan memilih Nanik Sutarni untuk menjabat kembali sebagai Rektor UBY masa bakti 2026-2030. Hal itu telah melalui kajian yang komprehensif dan rekam jejak saat menjabat Rektor UBY.

"Lha itu tadi kajian yang komprehensif itu tadi, 4 tahun seperti ini, hasilnya seperti ini, semua akademiknya jalan, jumlah mahasiswa dari dulu sekitar 800, sekarang menjadi 2.054. Itu kan progres yang sangat luar biasa. Jadi melihatnya tidak dari satu sisi," tegasnya.




(aku/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads