Warga terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, mengaku sudah tak bekerja selama hampir dua minggu ini. Ekonomi masyarakat pun terganggu akibat adanya peristiwa tanah gerak.
Hal itu disampaikan salah satu warga terdampak, Sri Darningsih (58). Ia tengah menunggu giliran untuk rumahnya dirobohkan. Sementara anak laki-lakinya tengah membantu bongkar rumah milik warga lain yang terdampak cukup parah.
"Kita setiap hari ketakutan. Takut rumah roboh. Dampak dari ini (tanah gerak) juga kita jadi tidak bisa kerja," kata Sri kepada detikJateng di lokasi, Rabu (11/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibu dua anak yang bekerja di tempat katering atau penyedia makan dan minuman di Kota Semarang itu mengaku sudah tak berangkat kerja selama dua minggu.
"Saya sama anak saya meliburkan diri karena was-was rumahnya roboh, lagipula kan kita memang masih harus bebenah seperti ini. Harus dibongkar rumahnya eman-eman (sayang) bahannya," ungkap Sri.
"Saya ikut katering tapi bukan pegawai tetap. Ini sudah libur 2 minggu. Alhamdulillah bisa libur, tapi juga jadi nggak dapat gaji," lanjutnya.
Salah satu anaknya yang bekerja sebagai juru parkir pun ikut meliburkan diri selama seminggu terakhir.
"Sudah 1 minggu ini anak saya ndak berangkat. Bingung, kan seperti ini kita harus ada, harus nunggu. Kalau ndak gimana nanti," ujarnya.
Selama ini, Sri mengaku sudah mendapat bantuan berupa sembako dua kali dari BPBD Kota Semarang. Menurutnya, bantuan itu sangat berarti, mengingat dirinya pun tak bisa bekerja.
Sri yang sudah tinggal di Jangli sejak 2011 itu kerap bolak-balik Semarang-Demak bersama anaknya, karena tak berani tidur di rumah.
"Kalau sudah mendung, bunyi geluduk kayak gini atine (perasaannya) langsung ora (tidak) tenang. Nggak bisa ngapa-ngapain kalau tanahnya gerak lagi, cuma pasrah," kata Sri.
Warga lainnya, Indar (42), mengaku banyak warga di Kelurahan Jangli yang tak bisa bekerja selama dua minggu ini. Kebanyakandari mereka merupakan kuli bangunan.
"Ini warga ya pada nganggur semua, kalau misal mau nguli juga khawatir, di sana kepikiran terus sambil kerja, takut rumahnya kenapa-napa," jelasnya.
Tak hanya berdampak ke perekonomian warga, pergerakan tanah juga berdampak pada keseharian warga. Indar menyebut, hampir setiap hari pipa PDAM di kampung itu rusak akibat tanah gerak.
"Berdampaknya ke listrik, air, wifi. Kabel wifi tiap hari ada yang rusak, pipa air juga tiap hari ada yang rusak, airnya jadi mati, tiap hari tukang ke sini," tuturnya.
Hal itu dibenarkan Ketua RT 07 RW 01, Joko Sukaryono. Menurutnya, bahkan ada provider wifi yang terganggu tapi belum ada petugas yang mengecek.
"Jaringan air dan listrik itu semua sudah kita laporkan, tapi untuk provider yang wifi ada yang kita belum tahu call center-nya di mana. Makanya dari dari liputan ini saya mohon agar segera ditangani," tuturnya.
Ia juga menyebut, kebanyakan warga yang tinggal di lokasi tanah gerak merupakan buruh dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Ia berharap para korban terdampak bisa direlokasi ke tempat yang lebih aman.
"Harapan warga jelas, ingin direlokasi ke tempat yang aman. Ekonomi warga di sini menengah ke bawah, jadi kami berharap ada solusi yang bijak dari pemerintah," pungkasnya.
(afn/apu)











































