Apa Itu Microsleep? Ini Penyebab, Tanda, dan Bahayanya Saat Berkendara

Apa Itu Microsleep? Ini Penyebab, Tanda, dan Bahayanya Saat Berkendara

Anindya Milagsita - detikJateng
Senin, 09 Feb 2026 18:51 WIB
Apa Itu Microsleep? Ini Penyebab, Tanda, dan Bahayanya Saat Berkendara
Ilustrasi microsleep saat berkendara. (Foto: Getty Images/iStockphoto/metamorworks)
Solo -

Kondisi microsleep saat berkendara sering kali tidak disadari oleh orang yang mengalaminya. Padahal ada bahaya microsleep yang patut untuk diketahui dan dicegah bagi setiap orang.

Apa itu microsleep? Menurut buku 'Panduan Praktis Pengelolaan Fatigue Bagi Penerbang : Aktivitas Fisik, Latihan Fisik dan Waktu Tidur' tulisan dr Retno Wibawanti, SpKP, dkk., microsleep adalah kondisi tertidur sementara yang terjadi tanpa disadari oleh seseorang. Biasanya saat terjadinya microsleep, seseorang akan menjadi tidak responsif pada keadaan sekitarnya.

Seperti namanya, microsleep terjadi dalam kurun waktu yang cenderung singkat. Umumnya, microsleep bisa terjadi selama beberapa detik. Biasanya microsleep terjadi bisa mencapai 30 detik. Kondisi ini meski terjadi di waktu singkat, tapi efeknya bisa luar biasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan dalam kondisi tertentu bisa memicu bahaya sampai kerugian tersendiri. Misalnya microsleep yang dialami oleh pengendara, sehingga bisa memicu adanya kecelakaan. Baik itu kecelakaan tunggal maupun melibatkan kendaraan lainnya.

Poin Utamanya:

ADVERTISEMENT
  • Microsleep adalah tidur singkat tanpa disadari yang berlangsung beberapa detik hingga sekitar 30 detik, umumnya dipicu kurang tidur, penurunan energi, ritme sirkadian, atau efek obat ,dan
    membuat otak tidak responsif terhadap lingkungan.
  • Tanda microsleep sering muncul tiba-tiba, seperti kepala terhentak, tidak menyadari kejadian yang terjadi, hingga kesulitan memproses informasi meski mata bisa saja tetap terbuka.
  • Microsleep sangat berbahaya saat terjadi pada situasi berisiko tinggi, terutama saat berkendara atau bekerja yang membutuhkan konsentrasi karena dapat menyebabkan kehilangan kendali, kecelakaan, hingga mengancam keselamatan diri dan orang lain.

Penyebab Microsleep

Microsleep bisa saja dialami oleh siapa pun, termasuk mereka yang dalam kondisi sadar sekali pun. Mengutip dari laman Sleep Foundation, penyebab microsleep lebih sering terjadi karena orang yang mengalaminya kurang tidur sebelumnya. Hal ini memicu rasa mengantuk yang meski telah ditahan, justru menimbulkan microsleep atau tertidur sementara ini.

Selain orang yang mengantuk karena kurang beristirahat, mereka yang sudah istirahat cukup. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Mulai dari rasa kantuk yang mendadak muncul atau sekadar ritme sirkadian yang berlangsung di dalam tubuh.

Sejumlah peneliti menyebut microsleep kerap terjadi di siang hari, tapi tidak menutup kemungkinan berlangsung di waktu-waktu yang lain. Misalnya saja pada waktu siang hari ketika terjadi penurunan energi karena kondisi cuaca, asupan nutrisi, maupun faktor lainnya.

Nah, saat penurunan energi tersebut terjadi, beberapa orang justru mengalami rasa kantuk yang begitu hebat. Hal inilah yang bisa berpotensi memicu microsleep. Selain itu, konsumsi obat-obatan tertentu yang membuat kantuk juga dapat menyebabkan microsleep terjadi.

Apa Tanda Microsleep?

Berbeda dengan kondisi saat seseorang sudah bersiap untuk tidur alias beristirahat yang dilakukan secara sadar, microsleep justru sebaliknya. Kondisi ini bisa dibilang berlangsung sangat tiba-tiba dan hampir tidak disadari oleh siapa saja yang mengalaminya.

Menurut National Sleep Foundation, microsleep tidak melulu melibatkan kondisi mata terpejam. Bahkan sebagian orang yang mengalami microsleep dalam kondisi yang tampaknya terjaga dengan mata terbuka, tapi otak tidak bisa memproses informasi sama sekali.

Kemudian di dalam laman WebMD juga diuraikan beberapa tanda dari microsleep. Beberapa di antaranya:

  1. Tubuh atau kepala yang terhentak secara tiba-tiba dan membuat orang yang mengalaminya tersadar
  2. Tubuh atau kepala yang tanpa disadari terjatuh ke bagian depan dan membuat orang yang mengalaminya mendadak tersadar
  3. Tidak menyadari apa yang baru saja terjadi
  4. Kesulitan memproses informasi dalam waktu terjadinya microsleep

Bahaya Microsleep

Lantas, apa bahaya microsleep? Sebenarnya microsleep yang terjadi di sekitar lingkungan atau lokasi aman, tidak menimbulkan bahaya. Misalnya saja saat seseorang mengalami microsleep saat tengah duduk melamun atau menunggu sesuatu.

Namun, apabila microsleep dialami oleh seseorang di waktu dan lokasi yang tidak aman, maka dapat memicu bahaya sampai bahkan dapat mempertaruhkan nyawanya. Masih dijelaskan dalam WebMD, microsleep bisa menimbulkan ancaman bagi diri sendiri maupun orang lain saat tengah berkendara.

The National Highway Traffic Safety Administration memperkirakan ada sekitar 6.000 kecelakaan setiap tahunnya yang dipicu oleh microsleep. Bahkan data yang ditemukan cukup mengejutkan. Sekitar 4% pengemudi yang dilibatkan dalam sebuah survei mengungkap mereka pernah tertidur setidaknya sekali dalam 30 hari.

Saat mengalami microsleep, pengemudi tidak hanya mengalami tertidur sementara saja. Pada waktu yang sama mereka juga tidak bisa memproses apa pun yang terjadi di sekitarnya. Bahkan mereka sejenak lupa dalam kondisi yang tengah menyetir. Selain kehilangan kendali atas kendaraan yang dikemudikan, microsleep yang dialami pengemudi juga dapat memicu arah yang salah, keluar jalur, masuk ke jalur berlawanan, sampai kecepatan yang tidak terkendali.

Selain pengemudi, microsleep juga berbahaya bagi orang-orang yang bekerja sebagai profesi yang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi. Sebut saja pilot pesawat, masinis kereta, pekerja pabrik di bagian produksi, sampai Air Traffic Controller (ATC) atau pengontrol lalu lintas udara bagi penerbangan.

Bagaimana Cara Mengatasi Microsleep?

Untuk mencegah microsleep, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan. Masih mengacu dari sumber yang sama, beberapa langkah sederhana agar mengatasi microsleep di antaranya berupa:

  1. Penuhi kebutuhan tidur sebelum berkendara atau bekerja yang membutuhkan konsentrasi tinggi dalam kurun waktu 7-9 jam.
  2. Tetapkan kebiasaan tidur yang mencegah insomnia atau ketidaknyamanan selama beristirahat di malam hari.
  3. Hindari kafein di waktu sore atau menjelang tidur, agar menghindari kondisi sulit tidur.
  4. Beristirahat sejenak apabila merasakan lelah atau mengantuk, misalnya saja dengan berdiri atau bergerak sebentar.
  5. Terlibat percakapan dengan orang lain yang berada di samping kemudi atau kursi penumpang agar membangunkan sel-sel otak dan membuatnya tetap fokus.
  6. Tidur siang sejenak untuk mengatasi rasa kantuk sebelum berkendara atau melakukan aktivitas lainnya selama 20-30 menit saja.

Dengan mengetahui tentang microsleep secara lebih jelas diharapkan dapat membuat kamu lebih memiliki kesadaran agar tidak mengalaminya di kemudian hari. Semoga informasi tadi bermanfaat, ya.

FAQ tentang Microsleep

Microsleep itu benar-benar tertidur atau hanya melamun?

Microsleep bukan sekadar melamun. Ini adalah kondisi ketika otak benar-benar 'offline' pada saat itu, meski tubuh terlihat masih terjaga. Mata bisa saja terbuka, tapi otak berhenti memproses informasi. Dalam hitungan detik, seseorang sebenarnya sedang tertidur tanpa sadar.

Seberapa berbahayanya microsleep saat berkendara?

Dalam beberapa detik microsleep, pengemudi bisa kehilangan kendali penuh, misalnya keluar jalur, salah arah, hingga menabrak tanpa sempat bereaksi. Karena terjadi tanpa disadari, microsleep kerap menjadi pemicu kecelakaan yang fatal.

Apa langkah paling efektif untuk mencegah microsleep?

Cara terbaik mencegah microsleep adalah dengan mencukupi waktu tidur sebelum berkendara atau bekerja berat. Jika rasa kantuk muncul, jangan dipaksakan. Berhentilah sejenak, bergerak, atau tidur singkat. Microsleep adalah alarm tubuh yang perlu didengar.




(sto/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads