Proses penebangan randu alas raksasa di Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, bakal menyisakan 8 meter. Batang pohon setinggi 8 meter rencananya untuk dijadikan monumen.
Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim, mengatakan Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyetujui pemotongan disisakan dan mensupport terkait anggaran penataan.
"Rencana, kita menyisakan pohon randu setinggi 8 meter. Nanti, kita amankan bagaimana caranya biar fosil (pohon) itu tetap awet bisa jadi ikon," kata Karim kepada wartawan, Selasa (3/2/2026).
"Insyallah nantinya di situ ada gambaran pohon randu yang masih berwujud," ujarnya.
Perihal target penataan nantinya, kata Karim, menunggu dari Bappeda karena terkait dengan anggaran.
"Yang mana harus dirancang dan direncanakan serta disepakati. Jadi, kita menunggu hasil kajian dari Bappeda," kata dia.
"(Setelah ditebang) Kita maksimalkan ada tindakan. Pohon randu berusia ratusan tahun menjadi ikon desa kami," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penebangan randu alas ini dilakukan setelah adanya kajian dari Fakultas Kehutanan UGM.
Sementara itu, warga yang tinggal di sekitar pohon randu alas berharap dengan masih disisakan tersebut kunjungan wisatawan menjadi tambah ramai.
"(Disisakan 8 meter). Itu sudah menjadi kesepakatan. Syukur nanti kunjungan wisatawan nanti tambah ramai," kata Ashari (53) yang memiliki usaha kafe persis di bawah randu alas saat dihubungi detikJateng.
Proses penebangan randu alas sudah dimulai, Senin (2/2). Kemudian kembali dilanjutkan pada hari ini, Selasa (3/2).
"Informasi besok diteruskan lagi (penebangan). Kayaknya besok nggak pakai crane. Tadi gazebo kena (pas nggak pakai)crane. Karena keburu mau dihidupkan (aliran listrik)," imbuh Ashari.
Ashari pun sempat khawatir jika ada angin kencang. Mengingat pohonnya sudah mengering.
"Kalau dipotong nggak khawatir. Saya malah tenang," ujarnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, penebangan pohon randu alas raksasa di Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, dilanjutkan hari ini. Selama penebangan berlangsung, aliran listrik di sekitar lokasi dipadamkan.
Penebangan randu alas ini dilaksanakan sejak Senin (2/2) kemarin. Adapun hari ini proses penebangan baru dimulai sekitar pukul 11.00 WIB."Kemarin tidak memungkinkan karena sudah sore. Dan tenaga manusia juga ada batasannya," kata Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim di lokasi, Selasa (3/2).
Dia tidak memasang target sampai kapan penebangan itu selesai. "Jadi kita memang pelan tapi pasti, dengan harapan penebangan diberi kelancaran, tidak ada halangan apa pun. Kita utamakan aspek keselamatan," ujar dia.
Karim menjelaskan, penebangan baru dimulai pukul 11.00 WIB karena di kawasan Borobudur sedang berlangsung acara tradisi sadranan.
"Tentunya kita harus menghormati. Dan dari pihak PLN bisa memadamkan listrik di jam 11.00 WIB. Kita pada hari ini diberikan waktu selama 4 jam (pemadaman listrik)," jelasnya.
Karim menambahkan, kayu hasil tebangan randu alas itu akan dimanfaatkan. Hingga pukul 12.00 WIB tadi, proses penebangan baru berhasil memotong dua cabang."Pada intinya kita manfaatkan atau amankan dari bawah setinggi 8 meter. Itu yang kami amankan rencana untuk monumen Desa Tuksongo," pungkasnya.
(apl/aku)
