Atap salah satu bangunan di kompleks Sekolah Luar Biasa (SLB) Batang di Jalan Pemuda, Desa Pasekaran, Kabupaten Batang, ambruk sekitar pukul 10.15 WIB tadi. Selain itu, juga ada tiga ruang kelas yang dikosongkan karena kondisi atapnya sudah membahayakan.
Ambruknya atap itu tidak menimbulkan korban jiwa, mengingat bangunan tersebut sudah tidak digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Sebelumnya, ruangan itu difungsikan sebagai tempat keterampilan jahit siswa. Tapi sejak plafonnya runtuh pada 2025, pihak sekolah memutuskan ruangan itu untuk gudang.
"Alhamdulillah, kejadian ini tidak menimbulkan korban, baik siswa, guru, maupun orang tua," kata Wakil Bupati Batang, Suyono, saat meninjau lokasi kejadian, Rabu (21/1/2026) siang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala SLB Batang, Buntas Ernawati, menjelaskan bahwa bangunan tersebut merupakan bekas Balai Latihan Kerja (BLK) milik Pemerintah Kabupaten Batang yang terakhir kali direhabilitasi pada era 1990-an. Seiring waktu, kondisi bangunan itu mengalami penurunan kualitas, terutama atap yang lapuk.
"Setelah plafon ambruk tahun lalu, kami memutuskan tidak lagi menggunakan ruangan ini untuk kegiatan belajar. Kegiatan keterampilan sudah dipindahkan ke gedung baru," jelasnya.
Selain satu bangunan yang ambruk, pihak sekolah juga menemukan tiga ruang kelas lain dengan kondisi atap yang dinilai membahayakan. Demi keselamatan siswa, ruang-ruang tersebut telah dikosongkan dan kegiatan belajar mengajar dialihkan ke ruangan lain yang lebih aman.
Buntas Ernawati mengatakan, status lahan menjadi kendala utama dalam pengajuan bantuan pembangunan gedung dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
"Kami berharap ada percepatan hibah lahan, sehingga bantuan dari Pemprov bisa segera turun," ujar dia.
Menanggapi hal itu, Wabup Suyono langsung berkoordinasi dengan Bagian Pemerintahan Setda Batang. Dari hasil koordinasi tersebut, diketahui bahwa sebagian besar lahan SLB telah dihibahkan, dan hanya tersisa sebagian kecil yang masih menjadi aset Pemkab Batang.
"Terkait kejadian ini, kami akan segera melaporkan ke Pemprov Jawa Tengah agar dilakukan evaluasi. Untuk hibah lahan, prosesnya akan kami percepat supaya bantuan dari provinsi maupun pusat bisa segera direalisasikan," ucap Suyono.
(dil/apl)











































